Tak Sekadar Melihat Relief, Menyelami Sejarah Borobudur Lewat Pengalaman Imersif AI

Devita AdyaDiterbitkan 05 September 2026, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Candi Borobudur tidak hanya dikenal sebagai salah satu peninggalan bersejarah Indonesia, tetapi juga menyimpan kisah mengenai budaya, kepercayaan, seni, dan kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau. Kekayaan sejarah tersebut kemudian menjadi pijakan dalam kehadiran Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa di Galeri Indonesia Kaya. Melalui pengalaman ini, pengunjung diajak menelusuri kembali kisah di balik asal mula penciptaan Candi Borobudur dengan cara yang lebih interaktif.

Dilansir dari UNESCO, kompleks Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 pada masa Dinasti Syailendra. Struktur candi yang bertingkat merepresentasikan kosmologi Buddha, sementara ribuan panel relief yang menghiasi dindingnya menggambarkan berbagai kisah dan nilai kehidupan.

Terdiri dari delapan pengalaman imersif berbasis Ethical AI, Purwacarita Borobudur memadukan proyeksi visual dan teater imersif untuk menghadirkan kembali kisah yang tersimpan dalam relief candi. Relief yang selama ini dinikmati sebagai bagian dari struktur batu dituturkan menjadi rangkaian adegan yang dapat disaksikan dan dieksplorasi secara langsung.

Pendekatan tersebut membuat sejarah terasa lebih dekat, terutama bagi masyarakat yang terbiasa menikmati informasi melalui pengalaman visual dan teknologi digital.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Ketika Relief Borobudur Dihidupkan Kembali

Relief yang selama ini menjadi bagian dari batu Candi Borobudur dituturkan kembali menjadi pengalaman visual dan narasi yang lebih dekat dengan pengunjung. (Foto/Dok: Galeri Indonesia Kaya)

Selama berabad-abad, relief Candi Borobudur menjadi bagian penting yang merekam berbagai kisah, nilai kehidupan, hingga perjalanan spiritual. Melalui Purwacarita Borobudur, cerita yang tersimpan pada relief tersebut diterjemahkan ke dalam pengalaman yang lebih interaktif sehingga pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga dapat mengeksplorasi kisah di baliknya.

Salah satu pengalaman yang dihadirkan adalah kisah Karmawibhangga yang membawa pesan mengenai hukum sebab-akibat atau karma. Ada pula kisah Pangeran Sudhana dan Putri Manohara melalui relief Avadana yang mengangkat cerita tentang cinta dan kesetiaan.

Selain itu, pengunjung dapat mengenal tokoh dari Wangsa Sailendra, seperti Raja Samaratungga dan Putri Pramodhawardhani, serta memahami latar di balik pembangunan Borobudur.

Interaksi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Melalui sensor gerak, pengunjung dapat memicu respons berupa flora dan fauna yang terdapat dalam relief, seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah.

Ada pula permainan interaktif yang mengajak pengunjung mengikuti rute sakral peziarah purba dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk Borobudur.Dengan pendekatan tersebut, sejarah tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang hanya dibaca atau dilihat, tetapi menjadi pengalaman yang dapat dijelajahi secara langsung.

3 dari 3 halaman

Ethical AI untuk Mendekatkan Warisan Budaya

Teknologi kecerdasan artifisial digunakan sebagai medium untuk menghadirkan kembali narasi sejarah dengan tetap menjadikan riset dan fakta tervalidasi sebagai pijakan. (Foto/Dok: Galeri Indonesia Kaya)

Penggunaan teknologi dalam menceritakan sejarah membutuhkan perhatian terhadap akurasi dan konteks budaya. Purwacarita Borobudur menempatkan riset serta fakta sejarah yang telah tervalidasi sebagai dasar dalam membangun setiap narasi. Pendekatan tersebut penting agar pemanfaatan teknologi tetap menghormati nilai sejarah dan budaya yang ingin disampaikan kepada pengunjung.

Konsep Ethical AI kemudian menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman yang memadukan kecanggihan teknologi dengan tanggung jawab terhadap warisan budaya. Dalam karya ini, teknologi digunakan untuk menerjemahkan narasi sejarah ke dalam bentuk visual dan pengalaman yang lebih interaktif, bukan menggantikan nilai sejarah yang menjadi sumber utamanya.

Kolaborasi antara Galeri Indonesia Kaya, Bening Digital Indonesia, dan Curaweda turut memperkuat proses tersebut. Kehadiran Purwacarita Borobudur menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi medium untuk memperkenalkan sejarah kepada generasi masa kini dengan cara yang lebih relevan dan menarik, tanpa menghilangkan konteks yang melekat di dalamnya.

Dengan begitu, pengalaman budaya tidak berhenti pada kegiatan melihat saja, tetapi berkembang menjadi kesempatan untuk semakin memahami, mengeksplorasi, dan merasakan kembali cerita yang telah diwariskan dari masa lalu.