Vibe Spending, Kebiasaan Belanja yang Bisa Bikin Pengeluaran Membengkak

Revania ImmanuelaDiterbitkan 07 September 2026, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pernah merasa ingin checkout sesuatu hanya karena sedang happy, bosan, atau baru melewati hari yang melelahkan? Padahal sebelumnya tidak benar-benar membutuhkan barang tersebut. Kalau pernah, bisa jadi keputusan belanja sedang dipengaruhi oleh suasana hati. Kebiasaan belanja seperti ini dikenal sebagai emotional spending dan belakangan sering dikaitkan dengan istilah vibe spending.

Dilansir dari Simply Psychology, emotional spending merupakan perilaku membeli sesuatu yang lebih banyak dipengaruhi kondisi emosional dibandingkan kebutuhan atau pertimbangan yang sudah direncanakan. Kebiasaan belanja ini bisa dipicu oleh stres, bosan, kesepian, sampai keinginan memberikan self-reward setelah melewati sesuatu yang melelahkan. Belanja memang bisa memberikan rasa senang atau lega dalam waktu singkat, tetapi efek tersebut tidak selalu bertahan lama.

Vibe spending sendiri bisa terasa sangat relatable dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, setelah mendapat kabar baik, kamu merasa pantas membeli pakaian baru. Saat sedang bad mood, kamu membuka aplikasi belanja untuk mencari sesuatu yang bisa membuat perasaan lebih baik. Atau ketika sedang bosan, scrolling marketplace berubah menjadi aktivitas untuk mengisi waktu.

Masalahnya, keputusan yang terlihat kecil bisa menumpuk. Satu kali membeli kopi viral, satu produk skincare, atau satu outfit memang mungkin tidak terasa berat. Namun, jika dilakukan berulang kali hanya karena mengikuti mood, total pengeluarannya bisa jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

 

2 dari 3 halaman

Kenapa Mood Bisa Membuat Kita Lebih Mudah Belanja?

Dari self-reward hingga mengusir rasa bosan, ada berbagai situasi yang tanpa sadar membuat kita lebih mudah melakukan vibe spending. (Foto/Dok: Magnific)

Vibe spending biasanya tidak muncul begitu saja. Ada kondisi tertentu yang membuat seseorang lebih mudah mengambil keputusan belanja secara spontan. Salah satunya adalah keinginan untuk memberikan hadiah kepada diri sendiri. Setelah menyelesaikan pekerjaan, mendapat pencapaian kecil, atau melewati minggu yang berat, membeli sesuatu bisa terasa seperti bentuk apresiasi.

Tidak ada yang salah dengan self-reward. Sesekali membeli makanan favorit atau barang yang sudah lama diinginkan tentu boleh saja. Yang perlu diperhatikan adalah ketika setiap emosi selalu diikuti dengan aktivitas belanja. Lama-kelamaan, otak bisa terbiasa menghubungkan rasa senang atau lega dengan kegiatan membeli sesuatu.

Bosan juga bisa menjadi pemicu lainnya. Saat tidak punya kegiatan, scrolling marketplace dapat terasa menghibur. Awalnya hanya melihat-lihat, tetapi berbagai promo, rekomendasi produk, dan tampilan barang yang menarik bisa membuat keinginan membeli muncul. Akhirnya, barang yang sebenarnya tidak ada dalam daftar kebutuhan ikut masuk ke keranjang.

Begitu juga ketika sedang stres atau mengalami hari yang kurang menyenangkan. Belanja bisa menjadi cara cepat untuk mengalihkan perhatian. Ada rasa puas ketika menemukan barang yang menarik, apalagi jika proses checkout dilakukan dengan mudah. Namun, rasa puas tersebut bisa berakhir ketika melihat saldo rekening atau tagihan di kemudian hari.

Inilah mengapa vibe spending terkadang sulit disadari. Alasannya terdengar sederhana, seperti “lagi diskon” atau “sekali-sekali”. Padahal, jika terus berulang, kebiasaan tersebut dapat membuat pengeluaran sehari-hari perlahan membengkak.

Jadi, sebelum checkout, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Aku memang membutuhkan barang ini, atau aku hanya sedang ingin memperbaiki mood?

3 dari 3 halaman

Cara Menghindari Vibe Spending agar Keuangan Tetap Aman

Vibe spending bukan berarti harus berhenti belanja sama sekali. Dengan mengenali pemicu dan memberi jeda sebelum checkout, pengeluaran bisa lebih terkontrol. (Foto/Dok: Magnific)

Langkah pertama untuk mengurangi vibe spending adalah mengenali pola belanja sendiri. Coba perhatikan kapan biasanya keinginan untuk belanja muncul. Apakah setelah hari yang melelahkan? Saat sedang bosan di rumah? Atau justru ketika mendapatkan kabar baik? Dengan mengetahui pemicunya, kamu bisa lebih mudah menyadari apakah keinginan belanja benar-benar berasal dari kebutuhan atau sekadar mengikuti mood.

Selanjutnya, berikan jeda sebelum membeli sesuatu yang sifatnya tidak mendesak. Tidak harus langsung menerapkan aturan yang terlalu ketat. Kamu bisa mencoba menunggu beberapa jam atau sampai keesokan harinya. Jika setelah beberapa waktu barang tersebut masih terasa dibutuhkan, barulah pertimbangkan untuk membelinya.

Membuat daftar kebutuhan juga bisa membantu. Sebelum membuka aplikasi belanja, tentukan terlebih dahulu barang apa yang memang ingin dicari. Cara sederhana ini membuat aktivitas shopping lebih terarah dan mengurangi kemungkinan memasukkan barang random ke keranjang.

Selain itu, cari bentuk self-reward yang tidak selalu membutuhkan uang. Menonton film favorit, jalan santai, mendengarkan musik, bertemu teman, atau sekadar mengambil waktu untuk beristirahat juga bisa menjadi bentuk apresiasi untuk diri sendiri.

Yang paling penting, jangan menganggap setiap keinginan belanja sebagai sesuatu yang harus langsung dituruti. Belanja tetap bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan selama dilakukan dengan sadar dan sesuai kemampuan.

Sahabat Fimela, menikmati hidup tidak harus selalu lewat checkout. Mood boleh naik, tetapi jangan sampai pengeluaran ikut naik tanpa kendali.