Tren Y2K Naik Lagi dengan Low Rise Jeans, Dipopulerkan Jennie hingga Hailey Bieber

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 12 September 2026, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, low rise jeans kembali berada di pusat perhatian mode global. Celana pinggang rendah ini menjadi sorotan lintas panggung dan media sosial, seiring kebangkitan estetika Y2K yang kuat di kalangan Generasi Z. Setelah sempat tersisih oleh potongan high-waisted, gaya ikonik yang dulu lekat dengan era akhir 90-an dan awal 2000-an ini kini hadir lagi sebagai bagian tak terpisahkan dari lemari pakaian modern.

Prediksi pelaku industri menempatkan dekade mendatang sebagai era dominasi low-rise, bahkan menyebut versi ultra-low-rise sebagai pendorong bisnis utama sektor denim. Kebangkitan ini tidak semata nostalgia, melainkan bagian dari evolusi tren yang bergerak bersama selera generasi baru dan tawaran siluet yang lebih santai.

Dalam kategori celana berpotongan rendah, termasuk low-rise jeans, garis pinggang berada sekitar 8–10 cm di bawah pusar dan dikenakan bertumpu pada pinggul. Siluet ini pertama kali mengemuka di runway saat Alexander McQueen merilis rancangan bersejarah pada 1996 yang ia sebut "bumsters". Desain tersebut sengaja menonjolkan bagian bawah tulang belakang sebagai area yang dianggap erotis pada masa itu.

Tak lama berselang, Tom Ford untuk Gucci mengangkat item low-rise ke panggung utama melalui koleksi Spring/Summer 1998. Popularitasnya kemudian melesat di penghujung 90-an hingga awal 2000-an, ketika selebriti seperti Britney Spears, Keira Knightley, Jennifer Lopez, dan Kate Hudson kerap terlihat memakainya di berbagai kesempatan.

Memasuki sekitar 2008, arus besar bergeser menuju skinny jeans dan high-waisted jeans. Kini, low-rise kembali dengan pendekatan berbeda: potongannya lebih longgar, siluet terasa santai, dan kenyamanan menjadi kata kunci. Karakter ini kontras dengan versi ultra-ketat yang dulu mendefinisikan tren awalnya.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Dari Isu Y2K sampai Risiko Produksi

Celana low-rise kembali populer sebagai bagian gaya Y2K, didorong Gen Z. Industri prediksi dominasi, namun kontroversi dan tantangan kesesuaian masih ada. (@dualipa)

Jess Cartner-Morley dari The Guardian menyuarakan kekhawatiran tentang kembalinya low-rise jeans. Ia menyebut tren ini sebagai “tren Y2K yang paling bejat,” tulisnya. Ia juga mengaitkannya dengan era “misogini santai” serta “tramp stamps” atau tato di punggung bawah. Menurutnya, gaya low-rise pada awalnya terasa “sengaja cabul dengan cara yang menyenangkan.”

Di ranah percakapan warganet, sebuah diskusi di Reddit pada Maret 2025 menyoroti peningkatan 26% pencarian Google untuk kata kunci "low rise" sejak Maret 2022. Kenaikan minat ini dikaitkan dengan perubahan standar kecantikan dan potensi kembalinya estetika "heroin chic" sebagai simbol status tubuh kurus.

Dari sudut pandang bisnis dan desain, Deepwear mempertanyakan apakah tren ini merupakan investasi yang cerdas atau sekadar fase sesaat. Bagi konsumen rata-rata, low-rise jeans bisa kurang menyanjung dan lebih sulit ditata, karena berpotensi memperpendek tampilan kaki dan menonjolkan area pinggul. Dari sisi manufaktur, produknya dinilai lebih berisiko karena sangat sensitif terhadap akurasi pola, kesesuaian di pinggul, dan ketegangan pada pinggang. Jika salah pas, celana dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau risiko eksposur, serta meningkatkan tingkat pengembalian produk.

3 dari 3 halaman

Sorotan Seleb dan Brand: Low-Rise Jeans Memimpin Pasar

Celana low-rise kembali populer sebagai bagian gaya Y2K, didorong Gen Z. Industri prediksi dominasi, namun kontroversi dan tantangan kesesuaian masih ada. (@haileybieber)

Di gelombang terbaru Y2K, Jennie BLACKPINK menjadi salah satu figur paling berpengaruh. Siluet low-rise menjadi ciri khas penampilannya, kerap ia padukan dengan crop top untuk menonjolkan garis pinggang—menciptakan keseimbangan antara feminitas dan keberanian. Ia juga sempat terlihat mengenakan kemeja putih tanpa lengan berpadu celana low-rise biru tua saat menuju studio Jimmy Kimmel Live!, menghadirkan tampilan Y2K bernuansa throwback.

Daftar selebriti yang mengadopsi gaya serupa panjang: Bella Hadid, Kendall Jenner, Emily Ratajkowski, Dua Lipa, Julia Fox, Kylie Jenner, Hailey Bieber, hingga Lila Moss. Addison Rae bahkan berkolaborasi dengan Lucky Brand untuk meluncurkan gaya ultra-low-rise flare, menandai keterlibatan selebriti dalam memperluas variasi produk.

Dari kubu industri denim, sinyal optimisme disuarakan. “benar-benar didominasi oleh low-rise,” ujar Amy Williams, CEO Citizens of Humanity Group, ketika berbicara tentang arah dekade mendatang. Ia juga menyebut ultra-low-rise sebagai pendorong bisnis utama sektor denim pada tahun 2026. Beberapa merek melaporkan gaya low-rise sudah menyalip high-rise sebagai potongan terlaris. Reformation, misalnya, mencatat penjualan denim low-rise tumbuh 500% pada tahun 2025 dibandingkan 2024, dengan "Cary low-rise slouchy wide leg jean" menjadi produk terlaris.

Gelombang ini juga tercermin pada rilis koleksi rumah mode mewah seperti Missoni, Vaquera, Molly Goddard, MSGM, Blumarine, Stella McCartney, dan Isabel Marant, yang menghadirkan low-rise jeans di panggung mereka. Di sektor mass-market dan denim heritage, pilihan celana pinggang rendah tersedia luas dari Gap, Madewell, FRAME, Good American, Levi's, ASOS, Abercrombie, True Religion, hingga H&M—menunjukkan penerimaan pasar yang meluas.