Consent Sejak Dini, Cara Mengajarkan Anak Menghormati Batasan

Revania ImmanuelaDiterbitkan 17 September 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Consent atau persetujuan mungkin terdengar seperti topik yang baru perlu dibicarakan ketika anak beranjak remaja. Padahal, konsep ini bisa dikenalkan sejak anak masih kecil melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak dapat belajar bahwa tubuhnya adalah miliknya dan orang lain juga memiliki batasan yang perlu dihormati.

Dilansir dari Raising Children Network, anak-anak bisa mulai memahami consent jauh sebelum pembahasannya berkaitan dengan hubungan romantis atau seksual. Pada usia dini, pembelajaran dapat dimulai dari personal boundaries, seperti memahami bahwa seseorang boleh menolak pelukan, ciuman, atau sentuhan yang membuatnya tidak nyaman.

Misalnya, ketika anak tidak ingin mencium atau memeluk anggota keluarga, orang tua tidak perlu langsung memaksanya dengan alasan harus sopan. Anak bisa diberikan pilihan lain, seperti melambaikan tangan, tersenyum, atau melakukan tos. Dengan begitu, anak belajar bahwa mengatakan tidak terhadap sentuhan bukan berarti dirinya sedang bersikap buruk.

Di sisi lain, anak juga perlu memahami bahwa batasan berlaku untuk orang lain. Jika seorang teman tidak ingin dipeluk, anak perlu belajar menerima keputusan tersebut tanpa memaksa. Dari situ, konsep consent terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka karena dipraktikkan melalui interaksi sehari-hari.

Hal kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi dasar bagi anak untuk memahami arti menghargai diri sendiri sekaligus menghormati orang lain.

2 dari 3 halaman

Ajarkan Consent Lewat Kebiasaan Sehari-hari

Orangtua Bisa Menjadi Contoh Pertama. (Foto/Dok: Magnific)

Setelah anak mulai memahami bahwa dirinya memiliki batasan, langkah berikutnya adalah membiasakan konsep tersebut dalam keseharian. Tidak perlu selalu menggunakan istilah consent. Orang tua bisa menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak agar pesan lebih mudah dipahami.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri meminta izin sebelum menyentuh anak. Misalnya, sebelum memeluk, orang tua dapat bertanya, “Boleh Mama peluk?” Jika anak mengatakan tidak, keputusan tersebut bisa dihargai. Dari situ, anak melihat secara langsung bahwa meminta izin dan menerima jawaban adalah bagian dari interaksi yang sehat.

Hal yang sama dapat diterapkan ketika anak ingin menyentuh atau meminjam sesuatu milik orang lain. Ajarkan mereka untuk bertanya terlebih dahulu dan menerima jawaban, termasuk ketika jawabannya adalah tidak. Anak pun perlahan memahami bahwa keinginan seseorang tidak otomatis menjadi alasan untuk melewati batas orang lain.

Orang tua juga bisa mengajarkan anak membaca respons nonverbal. Misalnya, saat bermain dengan teman, anak mungkin melihat temannya mulai menjauh, terlihat tidak nyaman, atau berhenti tertawa. Ini bisa menjadi kesempatan untuk menjelaskan bahwa permainan hanya menyenangkan jika semua orang merasa nyaman.

Yang tidak kalah penting, orang tua perlu memberikan contoh dari perilaku mereka sendiri. Ketika anak melihat batasannya dihargai, mereka akan lebih mudah memahami bahwa menghormati orang lain juga merupakan bagian dari hubungan yang baik.

Dengan cara ini, consent tidak terasa seperti pelajaran yang kaku, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami.

3 dari 3 halaman

Membangun Anak yang Berani Menyampaikan Batasan

Mengenalkan consent bukan berarti membuat anak takut terhadap orang lain. Sebaliknya, anak dapat dibekali kemampuan untuk mengenali rasa nyaman dan tidak nyaman, menyampaikan batasan, serta menghargai keputusan orang lain. (Foto/Dok: Magnific)

Ketika konsep consent sudah mulai dikenalkan, anak juga perlu tahu bahwa mereka berhak menyampaikan ketika merasa tidak nyaman. Kalimat sederhana seperti “Aku tidak mau”, “Tolong berhenti”, atau “Aku tidak suka” dapat dilatih sejak dini agar anak memiliki cara untuk menyampaikan batasannya.

Namun, mengajarkan anak mengatakan tidak bukan berarti membiarkan mereka menolak semua hal tanpa alasan. Orang tua tetap dapat memberikan pemahaman tentang situasi yang membutuhkan bantuan atau aturan dari orang dewasa. Misalnya, ketika anak perlu diperiksa dokter atau dibantu saat menjaga kebersihan diri, orang tua bisa menjelaskan mengapa sentuhan tersebut diperlukan dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Anak juga perlu memahami bahwa mengatakan tidak bukan hanya berlaku untuk dirinya. Ketika orang lain menolak pelukan, ajakan bermain, atau sentuhan, mereka juga harus belajar menghormatinya. Dari sini, anak memahami bahwa consent berjalan dua arah: dirinya memiliki batasan, dan orang lain pun demikian.

Percakapan mengenai batasan juga sebaiknya tidak hanya dilakukan sekali. Orang tua bisa memanfaatkan momen saat bermain, menonton film, membaca buku, atau ketika anak bercerita tentang kejadian di sekolah. Dengan obrolan yang rutin dan santai, anak akan lebih terbiasa membicarakan perasaan serta batasan mereka.

Yang terpenting, orang tua tidak perlu menunggu anak menjadi besar untuk mulai membicarakannya. Semakin dini anak mengenal konsep menghargai tubuh, pilihan, dan batasan, semakin mudah bagi mereka membawa kebiasaan tersebut ke berbagai hubungan ketika tumbuh dewasa.