Fimela.com, Jakarta - Istilah social climber sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berusaha meningkatkan posisi sosialnya melalui lingkungan pergaulan, relasi, atau gaya hidup yang dianggap lebih bergengsi. Namun, fenomena ini tidak sesederhana sekadar ingin berteman dengan orang kaya atau terkenal. Dalam ilmu sosial, hubungan dan jaringan dapat menjadi sumber daya yang membantu seseorang mencapai tujuan tertentu.
Dilansir dari American Psychological Association (APA), social capital merujuk pada aspek hubungan dengan orang lain, termasuk dukungan sosial dan jaringan, yang dapat membantu seseorang mencapai tujuan. Jaringan sosial juga dapat memberikan akses terhadap informasi, peluang, maupun sumber daya yang sebelumnya sulit dijangkau. Karena itu, pergaulan memang dapat memiliki peran dalam mobilitas sosial seseorang.
Dalam konteks kehidupan perkotaan, keinginan untuk memperluas koneksi dapat terlihat dari pilihan lingkungan pertemanan, komunitas, hingga acara yang dihadiri.
Masalahnya, istilah social climber kerap digunakan sebagai label bernada negatif untuk menilai seseorang yang dianggap terlalu mengejar status. Padahal, membangun relasi dan memperluas jaringan tidak otomatis berarti seseorang sedang berpura-pura atau memanfaatkan orang lain. Perbedaannya terletak pada tujuan, cara, serta hubungan yang dibangun.
Ketika Relasi Menjadi Modal untuk Membuka Peluang
Pergaulan dapat membuka akses terhadap pengalaman dan informasi yang sebelumnya tidak tersedia. Seseorang yang masuk ke lingkungan baru mungkin mengenal bidang pekerjaan, komunitas, peluang bisnis, atau kebiasaan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya. Dari sinilah jaringan sosial dapat menjadi salah satu modal dalam perjalanan seseorang mengembangkan diri dan memperluas kesempatan.
Namun, naiknya status sosial tidak selalu terjadi hanya karena seseorang memiliki teman dari kalangan tertentu. Pendidikan, pekerjaan, pendapatan, keterampilan, dan akses terhadap sumber daya juga berperan dalam membentuk posisi sosial. APA menjelaskan bahwa status sosial ekonomi dapat dilihat melalui berbagai faktor, termasuk pendidikan, pendapatan, pekerjaan, serta akses terhadap sumber daya dan informasi.
Karena itu, fenomena social climbing sebaiknya dipahami secara lebih luas. Ada orang yang memperluas pergaulan karena ingin belajar dan berkembang, sementara ada pula yang sangat berorientasi pada simbol status.
Perbedaan ini penting agar istilah social climber tidak digunakan sembarangan. Memiliki teman dengan latar belakang berbeda atau menghadiri lingkungan yang lebih eksklusif bukan bukti otomatis bahwa seseorang sedang mengejar status. Relasi sosial dapat menjadi ruang pertukaran pengalaman, selama hubungan tersebut tetap dibangun dengan saling menghargai.
Antara Membangun Relasi dan Mengejar Pengakuan Sosial
Di era media sosial, gambaran tentang kehidupan yang terlihat mewah membuat status sosial semakin mudah ditampilkan kepada publik. Foto makan di restoran tertentu, menghadiri acara eksklusif, atau berinteraksi dengan figur yang dikenal dapat membentuk kesan tentang lingkungan pergaulan seseorang. Akan tetapi, apa yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan maupun kondisi ekonomi seseorang.
Keinginan untuk terlihat berhasil juga dapat membuat seseorang lebih memperhatikan simbol-simbol sosial, seperti pakaian, tempat nongkrong, kendaraan, atau lingkaran pertemanan. Jika dilakukan tanpa pertimbangan, dorongan tersebut dapat membuat seseorang mengeluarkan uang di luar kemampuan atau mempertahankan relasi hanya demi citra. Karena itu, penting membedakan antara membangun jaringan dan mengejar pengakuan sosial.
Pergaulan sebenarnya dapat menjadi ruang untuk bertumbuh tanpa harus mengubah identitas diri. Seseorang bisa memperluas koneksi, belajar dari orang dengan pengalaman berbeda, dan mencari peluang baru sambil tetap mempertahankan batas pribadi. Pada akhirnya, nilai sebuah relasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang dikenal, tetapi juga oleh kualitas interaksi, kepercayaan, dan manfaat yang dibangun bersama.
Dengan perspektif tersebut, fenomena social climber dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika status, jaringan, dan pencarian peluang dalam kehidupan modern.