Fimela.com, Jakarta - Menjelang kelahiran bayi, daftar persiapan biasanya dipenuhi berbagai hal yang terlihat nyata. Mulai dari memilih stroller, menyiapkan pakaian newborn, menata kamar bayi, hingga membeli perlengkapan menyusui. Namun, ada satu hal yang sering kali tidak terlihat tetapi tidak kalah penting untuk dipersiapkan, yakni orangtua itu sendiri.
Kelahiran bayi bukan hanya menghadirkan anggota keluarga baru, tetapi juga menandai perubahan besar dalam kehidupan pasangan. Dari yang sebelumnya hanya menjalani peran sebagai suami dan istri, keduanya mulai belajar menjadi ibu dan ayah dengan segala tanggung jawab barunya.
Karena itu, persiapan sebelum bayi lahir sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kebutuhan si kecil. Pengetahuan mengenai perawatan newborn, kesiapan menghadapi perubahan rutinitas, komunikasi pasangan, hingga pemahaman mengenai pengasuhan juga dapat menjadi bekal penting.
Penelitian internasional menunjukkan bahwa edukasi bagi calon orangtua dapat membantu meningkatkan parental self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya menjalankan peran sebagai orangtua. Sebuah systematic review dan meta-analisis terhadap intervensi edukasi untuk orangtua baru menemukan bahwa program edukasi secara signifikan meningkatkan parental self-efficacy, dengan efek yang masih terlihat pada masa tindak lanjut dua bulan.
Sebelum Menjadi Orangtua, Bekali Diri dengan Pengetahuan
Hal-hal sederhana seperti cara memandikan newborn, mengganti popok, memahami kebutuhan tidur bayi, mengenali tanda bayi lapar, hingga mengetahui cara menggendong dengan aman merupakan keterampilan yang bisa dipelajari sejak masa kehamilan.
Dalam konteks ini, WHO menempatkan masa kehamilan sebagai kesempatan penting untuk memberikan dukungan, informasi, dan edukasi kepada calon ibu serta keluarganya. Konsep positive pregnancy experience yang diusung WHO tidak hanya berfokus pada kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga mendukung transisi menuju persalinan dan pengalaman menjadi orangtua yang positif.
Persiapan menjadi orangtua juga bukan hanya tanggung jawab ibu. Ayah memiliki peran yang sama pentingnya dalam proses transisi tersebut.
Sebuah systematic review mengenai program edukasi perinatal yang melibatkan ayah menemukan bahwa sejumlah program dikaitkan dengan peningkatan keterlibatan ayah, kualitas hubungan pasangan, hubungan co-parenting, kesehatan mental ayah, serta perilaku suportif. Meski demikian, para peneliti juga mencatat bahwa bukti mengenai beberapa hasil, termasuk peningkatan pengetahuan dan parenting self-efficacy, masih belum konsisten.
Bahkan, sebuah tinjauan sistematis lain mengenai transisi menuju parenthood menunjukkan bahwa dukungan psikologis selama periode ini dapat membantu mengurangi gejala depresi, kecemasan, dan stres pada ibu serta memberikan dampak positif pada co-parenting. Para peneliti juga menyoroti masih perlunya lebih banyak intervensi yang melibatkan ayah dan pasangan secara bersama-sama.
Babymoon Bisa Jadi Momen untuk Mempersiapkan Diri
Menariknya, persiapan tersebut tidak harus selalu terasa seperti aktivitas yang serius. Masa kehamilan juga bisa menjadi kesempatan bagi pasangan untuk menikmati waktu bersama sekaligus mulai belajar mengenai kehidupan setelah bayi lahir.
Konsep inilah yang diangkat Fluffy melalui The First Baby Moon in Jakarta, yang digelar pada Sabtu, 19 September 2026. Mengusung konsep babymoon, acara tersebut diikuti 100 pasangan atau sekitar 200 peserta. Namun, berbeda dari babymoon yang umumnya identik dengan quality time pasangan sebelum kelahiran bayi, acara ini juga menghadirkan edukasi bagi calon orangtua.
Peserta mengikuti health talk bersama dr. Kartika Iswaranti, Sp.OG serta newborn care class bersama Atik Prihatin, A.Md.Kep. Selain mendapatkan pengetahuan, pasangan juga diajak menikmati berbagai aktivitas bersama dan mengabadikan perjalanan kehamilan.
Menurut Marcomm Manager Fluffy, Aulia Rizky Wijayanto, tingginya antusiasme terhadap acara tersebut terlihat dari tiket yang habis dalam waktu kurang dari satu hari. Menurutnya, hal ini menunjukkan semakin besarnya ketertarikan calon orangtua untuk memperkaya pengetahuan dan mempersiapkan diri sebelum anak lahir.
CEO Fluffy, Ferry Mulyadi, juga menilai edukasi sebagai bagian penting dari perjalanan menjadi orangtua.
“Ketika orangtua mendapatkan edukasi, mereka akan lebih memahami anak, lebih sabar, dan tahu bagaimana menghadapi berbagai kondisi, misalnya ketika anak rewel atau dalam menghadapi penggunaan gadget,” ujar Ferry.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan bahwa kesiapan menjadi orangtua tidak selesai ketika bayi lahir. Justru, kelahiran merupakan awal dari proses belajar yang berlangsung bertahun-tahun.
Memasuki usia 25 tahun, Fluffy sendiri berencana memperluas kegiatan edukatif untuk orangtua di berbagai kota di Indonesia, selain terus mengembangkan produk bayi dan anak sesuai kebutuhan keluarga.