Fimela.com, Jakarta - Pengalaman Fine Dining kini tidak lagi identik dengan jam santap yang panjang dan belasan sajian berurutan. Seiring perubahan gaya hidup dan cara orang bepergian, pola bersantap bergerak menuju format yang lebih ringkas, personal, dan tetap membekas di ingatan. Di saat bersamaan, cita rasa lokal yang autentik semakin dicari, terutama oleh wisatawan yang ingin memahami karakter destinasi melalui makanan.
Perubahan arah ini menjadi sorotan dalam laporan Future of Food 2027 yang dirilis Marriott International. Mengacu pada wawasan para koki, pakar perhotelan, influencer regional, serta jaringan properti Marriott di kawasan Asia Pasifik di luar Tiongkok, laporan tersebut memetakan pergeseran cara masyarakat menikmati kuliner dan minuman.
Kini, penilaian terhadap pengalaman kuliner—termasuk Fine Dining—tidak berhenti pada kualitas hidangan atau kemewahan ruang. Cerita di balik bahan pangan, kedekatannya dengan budaya setempat, hingga suasana tempat bersantap, turut menentukan kesan yang dibawa pulang pengunjung.
Kuliner Lokal Jadi Magnet bagi Pelancong
Bagi banyak wisatawan, mencicipi hidangan khas daerah adalah cara efektif untuk mengenal budaya dan identitas suatu tempat. Daya tariknya hadir dari penggunaan bahan pangan lokal sampai teknik memasak yang diwariskan lintas generasi—unsur yang sulit ditemukan persis sama di destinasi lain.
Laporan Future of Food 2027 mencatat 95 persen properti Marriott International yang disurvei di Asia Pasifik, kecuali Tiongkok, mengidentifikasi permintaan terhadap hidangan lokal autentik sebagai salah satu tren terbesar di pasar mereka. Angka tersebut menandai kuatnya peran lokalitas dalam membentuk preferensi bersantap.
Di Indonesia, ketertarikan terhadap masakan khas daerah juga menonjol. Laporan yang sama merekam angka 67 persen untuk permintaan masakan lokal di pasar Indonesia, menegaskan relevansi cita rasa daerah dalam perkembangan pengalaman kuliner.
Hotel dan restoran menanggapi minat tersebut dengan menghadirkan identitas destinasi melalui kurasi menu—mempertimbangkan bahan, tradisi, dan kisah setempat. Salah satu contohnya adalah restoran Hearth di The Ritz-Carlton, Perth, yang mengangkat bebek Wagin lokal sebagai hidangan andalan. Pilihan bahan ini merefleksikan kekayaan hasil bumi Australia Barat dan filosofi restoran yang mengutamakan produk lokal serta musiman.
Pendekatan serupa tampak di berbagai titik Asia Pasifik: dari pemanfaatan hasil kebun sayur di Kyoto, Jepang, penggunaan garam laut Kampot di Kamboja, hingga rempah-rempah asli Asia Tenggara yang memperkaya karakter rasa.
Dengan cara seperti ini, makanan tidak lagi semata sajian untuk dinikmati, melainkan medium untuk menceritakan karakter sebuah tempat. Bagi wisatawan, satu hidangan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami budaya, tradisi, dan sumber daya lokal yang membentuk identitas destinasi.
Format Fine Dining Makin Singkat dan Terkurasi
Di tengah meningkatnya minat terhadap pengalaman kuliner autentik, Fine Dining turut berevolusi. Jika dulu bersantap mewah identik dengan rangkaian yang bisa berlangsung hingga empat jam dan terdiri dari lebih dari sepuluh hidangan, kini sejumlah restoran menawarkan format yang lebih singkat.
Marriott International melaporkan 58 persen properti yang disurvei melihat durasi pengalaman Fine Dining rata-rata berada pada rentang 1,5 hingga dua jam. Singapura menjadi salah satu pasar yang menonjol; 85 persen restoran yang disurvei di sana melaporkan durasi rata-rata sekitar 1,5 jam.
Perubahan ini tidak menghilangkan esensi kemewahan. Sebaliknya, perhatian diarahkan pada detail: kualitas tiap hidangan, alur penyajian, dan momen-momen yang ingin dihadirkan bagi tamu agar tetap berkesan.
Sejumlah restoran merespons dengan menyederhanakan menu, menambah opsi a la carte, sekaligus memangkas sajian yang dinilai tidak esensial bagi keseluruhan pengalaman. Fokus bergeser dari kuantitas menuju kualitas, dengan harapan setiap sajian memiliki karakter dan tujuan yang jelas.
Di Korea Selatan, satu dari lima restoran yang disurvei telah mengurangi jumlah hidangan. Sementara itu, 30 persen restoran Fine Dining di Filipina melaporkan telah memperkenalkan menu a la carte untuk memberi fleksibilitas pilihan.
Tren ini menandai bahwa kemewahan dalam bersantap kian terkait dengan pengalaman yang terkurasi. Pengunjung tetap dapat menikmati kreativitas chef, teknik memasak, presentasi hidangan, serta pelayanan personal tanpa harus mengalokasikan waktu terlalu panjang.
Saat Lokalitas Bertemu Fine Dining
Meningkatnya minat pada masakan lokal dan format Fine Dining yang lebih singkat dapat berjalan beriringan. Restoran bisa menyajikan lebih sedikit hidangan, namun tetap memberikan kedalaman pengalaman melalui pemilihan bahan lokal, teknik pengolahan yang cermat, dan cerita yang mengiringi setiap sajian.
Dalam pendekatan ini, bahan pangan lokal tidak sekadar pendukung, melainkan bagian penting dari narasi kuliner. Bahan yang berasal dari suatu daerah dapat menggambarkan kondisi alam, tradisi pertanian, hingga kebiasaan makan masyarakat setempat.
Ruang ini juga membuka peluang bagi chef untuk mengeksplorasi potensi bahan yang mungkin belum banyak dikenal pengunjung. Dengan penyajian yang lebih terarah, karakter bahan lokal dapat menjadi pusat perhatian tanpa tertutup oleh rangkaian menu yang terlalu panjang.
Bagi hotel dan restoran yang menyasar wisatawan, langkah ini menjadi kesempatan untuk menciptakan pengalaman yang lebih khas. Alih-alih menghadirkan konsep bersantap seragam di berbagai negara, mereka dapat menawarkan menu yang mencerminkan identitas masing-masing destinasi.
Durasi makan yang lebih singkat memberi keleluasaan bagi pengunjung untuk mengatur perjalanan dengan lebih fleksibel, tanpa mengorbankan kesempatan merasakan kuliner berkualitas. Hal ini relevan bagi wisatawan modern yang ingin memadukan eksplorasi destinasi dengan pengalaman bersantap istimewa.
Pergeseran tren kuliner ini menunjukkan bahwa pengalaman bersantap pada 2027 semakin menitikberatkan pada autentisitas dan intensionalitas. Hidangan yang menarik bukan hanya yang menyajikan presentasi cantik atau teknik memasak rumit, tetapi juga yang menghadirkan cerita serta keterhubungan dengan tempat asal.
Dalam laporan yang sama, Marriott International menyoroti bagaimana hotel dan restoran memanfaatkan potensi lokal, bahan musiman, serta desain ruang yang lebih personal untuk menghadirkan pengalaman berbeda. Area bar, lounge, konter, dan ruang terbuka pun kian berperan sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi, melampaui fungsi restoran tradisional.