Melatih Empati Anak di Era Digital, Pentingnya Membangun Koneksi Nyata

Devita AdyaDiterbitkan 27 Oktober 2026, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Di era digital, anak semakin mudah terhubung dengan orang lain melalui pesan singkat, permainan daring, hingga media sosial. Namun, kemudahan berkomunikasi secara virtual tidak selalu memberikan kesempatan yang sama bagi anak untuk memahami ekspresi, nada bicara, dan perasaan orang lain secara langsung. Karena itu, membangun empati tetap menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Empati merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mempertimbangkan perasaan orang lain. Kemampuan ini membantu anak belajar berbagi, bekerja sama, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan konflik dengan lebih baik. Empati juga tidak terbentuk secara instan, melainkan berkembang melalui pengalaman dan interaksi sehari-hari bersama orangtua, teman, maupun lingkungan sekitarnya.

Dilansir dari penelitian UNICEF Office of Research – Innocenti, membangun empati berkaitan dengan fungsi sosial anak, termasuk perilaku prososial, hubungan dengan orangtua dan teman sebaya, serta perilaku perundungan. Penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya hubungan dengan orang dewasa yang peduli dalam perkembangan empati anak.

Artinya, teknologi tidak harus dijauhkan sepenuhnya dari kehidupan anak. Hal yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara aktivitas digital dan kesempatan untuk berinteraksi langsung. Melalui percakapan, permainan bersama, serta kebiasaan mendengarkan, anak dapat belajar bahwa setiap orang memiliki perasaan yang patut dipahami.

2 dari 3 halaman

Peran Orangtua dalam Menumbuhkan Empati

Orangtua dapat membantu anak mengenali perasaan dan memahami sudut pandang orang lain melalui percakapan sederhana serta kebiasaan mendengarkan dengan penuh perhatian. (Foto/Dok: Pexels)

Membangun empati pada anak dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Anak tidak hanya belajar melalui nasihat, tetapi juga dengan mengamati cara orangtua memperlakukan orang lain. Ketika orangtua menunjukkan sikap sabar, mendengarkan tanpa menghakimi, dan meminta maaf setelah melakukan kesalahan, anak mendapatkan contoh nyata tentang bagaimana menghargai perasaan orang lain.

Orangtua juga dapat membantu anak mengenali emosi melalui percakapan sederhana. Ketika anak merasa kecewa, marah, atau sedih, ajak mereka menyebutkan perasaan tersebut tanpa langsung menganggapnya berlebihan. Setelah itu, orangtua bisa bertanya tentang penyebabnya dan membantu anak menemukan cara yang tepat untuk mengungkapkan emosi.

Selain memahami perasaan sendiri, anak perlu belajar melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Misalnya, ketika terjadi perselisihan dengan teman, ajak anak memikirkan bagaimana perasaan temannya dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Hindari langsung menyalahkan salah satu pihak sebelum memahami situasinya.

Kebiasaan sederhana seperti membaca cerita bersama, berdiskusi tentang karakter, atau membantu orang lain juga bisa menjadi kesempatan untuk melatih empati. Orangtua tidak perlu menuntut anak selalu bereaksi dengan sempurna. Berikan waktu bagi mereka untuk belajar, mencoba, dan memahami konsekuensi perilakunya. Dengan pendampingan yang konsisten, empati dapat berkembang menjadi bagian dari kebiasaan anak dalam menjalin hubungan.

3 dari 3 halaman

Menyeimbangkan Aktivitas Digital dan Interaksi Nyata

Interaksi langsung, waktu berkualitas bersama keluarga, dan pendampingan saat beraktivitas daring membantu anak membangun hubungan yang lebih bermakna. (Foto/Dok: Pexels)

Membangun empati anak di era digital bukan berarti melarang seluruh aktivitas menggunakan gawai. Teknologi tetap dapat menjadi sarana belajar, bermain, dan mengenal pengalaman orang lain. Namun, penggunaannya perlu diseimbangkan dengan kesempatan untuk berkomunikasi secara langsung, memahami ekspresi wajah, dan merespons perasaan orang di sekitarnya.

Orangtua dapat memulainya dengan menyediakan waktu berkualitas tanpa gangguan ponsel. Misalnya, saat makan bersama, bermain permainan papan, membaca buku, atau berjalan santai di luar rumah. Momen tersebut memberi ruang bagi anak untuk bercerita, mengajukan pertanyaan, dan belajar mendengarkan tanpa terdistraksi notifikasi.

Ketika anak menggunakan media sosial atau bermain game online, orangtua juga dapat mengajak mereka berdiskusi mengenai perilaku yang muncul di dunia maya. Tanyakan bagaimana perasaan mereka jika menerima komentar menyakitkan atau melihat seseorang dikucilkan dalam permainan. Dengan begitu, anak belajar bahwa orang di balik layar tetap memiliki perasaan yang perlu dihormati.

Penting pula untuk menetapkan aturan penggunaan gawai yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak. Aturan sebaiknya disertai penjelasan, bukan sekadar larangan, agar anak memahami alasannya. Orangtua juga perlu memberikan contoh dengan tidak terus-menerus memeriksa ponsel saat sedang berbicara bersama keluarga.

Koneksi nyata tumbuh melalui perhatian dan keterlibatan yang konsisten. Ketika anak merasa didengarkan di rumah, mereka memiliki kesempatan untuk belajar memberikan perhatian yang sama kepada orang lain.