Fimela.com, Jakarta - Setiap anak memiliki cara berbeda dalam mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Ada yang senang duduk tenang sambil mengamati, tetapi ada pula yang terus bergerak, melompat, memanjat, atau menyentuh berbagai benda. Ketika perilaku tersebut tampak berulang, orangtua mungkin menganggap anak terlalu aktif. Padahal, pada sebagian anak, kebiasaan itu dapat berkaitan dengan sensory seeking, yaitu kecenderungan mencari pengalaman sensorik tertentu.
Dilansir dari Chelsea and Westminster Hospital NHS Foundation Trust, perilaku sensory seeking dapat terlihat ketika anak aktif mencari sensasi, misalnya melalui gerakan berputar, melompat, atau mengunyah benda. Hal ini berkaitan dengan cara seseorang memproses dan merespons rangsangan dari lingkungan.
Rangsangan sensorik tidak hanya berasal dari sentuhan, suara, dan penglihatan, tetapi juga mencakup gerakan serta kesadaran posisi tubuh. Karena itu, kebutuhan sensorik anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, bergantung pada pengalaman dan respons masing-masing individu.
Meski demikian, anak yang aktif tidak otomatis mengalami kesulitan pemrosesan sensorik. Perilaku tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks, frekuensi, dan pengaruhnya terhadap kegiatan sehari-hari. Dengan mengamati tanpa menghakimi, orangtua dapat mengenali kebutuhan anak sekaligus menentukan dukungan yang sesuai.
Ciri-Ciri Sensory Seeking yang Bisa Diamati
Perilaku sensory seeking dapat muncul dalam aktivitas sehari-hari dan tidak selalu terlihat sama pada setiap anak. Sebagian anak senang berlari, melompat, berputar, atau memanjat meskipun sudah diingatkan untuk berhenti. Ada pula yang gemar meremas benda, menyentuh berbagai tekstur, mengunyah benda tertentu, atau sengaja membuat suara berulang karena menikmati sensasi yang dihasilkan.
Beberapa anak juga terlihat sering menabrakkan tubuh ke bantal, meminta pelukan erat, atau menyukai permainan yang melibatkan dorongan dan tarikan. Aktivitas tersebut bisa berkaitan dengan kebutuhan terhadap rangsangan gerak, sentuhan, maupun kesadaran posisi tubuh. Namun, perilaku serupa juga dapat menjadi bagian dari eksplorasi dan perkembangan anak yang wajar.
Oleh karena itu, orangtua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami masalah sensorik hanya berdasarkan satu kebiasaan. Perhatikan apakah perilaku tersebut terjadi berulang, muncul dalam berbagai situasi, atau membuat anak kesulitan mengikuti kegiatan sehari-hari.
Amati pula respons anak ketika kebutuhan bergeraknya terpenuhi. Apakah menjadi lebih tenang, lebih mudah berkonsentrasi, atau tetap kesulitan beralih ke aktivitas lain? Catatan sederhana mengenai situasi pemicu dan respons anak dapat membantu orangtua memahami polanya. Jika perilaku mulai mengganggu kegiatan belajar, bermain, atau interaksi sosial, konsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah berikutnya.
Cara Orangtua Mendukung Kebutuhan Sensorik Anak
Ketika anak menunjukkan kecenderungan sensory seeking, orangtua dapat membantu dengan menyediakan aktivitas yang memberi kesempatan untuk bergerak dan bereksplorasi secara aman. Misalnya, mengajak anak bermain di taman, melompat di area yang sesuai, menari mengikuti musik, atau bermain adonan lunak dengan pengawasan. Aktivitas dapat disesuaikan dengan usia, minat, dan kemampuan anak.
Selain menyediakan kesempatan bergerak, orangtua juga dapat menyisipkan waktu aktif di antara kegiatan yang mengharuskan anak duduk. Jika anak terlihat mulai gelisah saat belajar atau mengerjakan tugas, jeda singkat untuk berjalan atau melakukan peregangan mungkin membantu. Perhatikan aktivitas mana yang membuat anak lebih nyaman tanpa mengabaikan keselamatan dan kebutuhan istirahatnya.
Penting pula untuk tidak memarahi atau mempermalukan anak hanya karena perilakunya berbeda. Jelaskan batasan dengan tenang, terutama jika kebiasaannya berisiko mencederai diri sendiri atau orang lain. Hindari memberikan alat berbeban, tekanan fisik, atau latihan sensorik khusus tanpa arahan tenaga profesional.
Apabila perilaku berlangsung intens, mengganggu rutinitas, atau menyulitkan anak berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari, orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau terapis okupasi. Evaluasi membantu memahami kebutuhan anak secara menyeluruh dan menentukan strategi yang sesuai. Tujuannya bukan menghilangkan semua perilaku aktif, melainkan membantu anak beraktivitas dengan nyaman, aman, dan optimal.