Fimela.com, Jakarta - Fashion tidak selalu harus dinikmati melalui peragaan busana di atas runway. Ada karya yang menarik untuk diamati dari dekat, permainan material yang baru terlihat ketika diperhatikan lebih saksama, hingga koleksi yang bercerita melalui gerakan para model. Beragam pendekatan inilah yang mewarnai Dewi Fashion Knights 2027 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada Senin (2/11/2026).
Menghadirkan lima nama, yaitu ANW, STELLARISSA, STUDIO JEJE, Hian Tjen, dan Sebastian Gunawan, acara ini memperlihatkan bahwa sebuah koleksi dapat disampaikan melalui pengalaman yang berbeda. Tidak hanya runway show, pengunjung juga dapat menyaksikan live mannequin dan mengikuti sesi kuratorial yang membawa mereka lebih dekat dengan karya para desainer.
ANW membuka rangkaian presentasi melalui The Study of Light, Refraction, and Shadow. Koleksi ini mengeksplorasi bagaimana cahaya berinteraksi dengan kain, transparansi, serta permukaan material. Potongan diagonal, draping asimetris, dan permainan lapisan menjadi bagian penting dari pendekatan desainnya. Menariknya, ANW juga berkolaborasi dengan seniman kaca asal Yogyakarta, Ivan Bestari, untuk menghadirkan ornamen bunga dari kaca daur ulang. Material tersebut digunakan sebagai detail pada busana, sekaligus menjadi bagian dari eksplorasi cahaya dan bayangan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa detail busana tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif. Material yang digunakan, cara kain dibentuk, hingga bagaimana cahaya memantul di permukaannya dapat menjadi bagian dari cerita koleksi. Melalui format presentasi yang memungkinkan pengamatan lebih dekat, pengunjung memiliki kesempatan untuk memperhatikan detail yang mungkin terlewat ketika busana hanya dilihat sekilas di atas panggung.
Mengangkat Alam hingga Warisan Budaya, Ini Cerita di Balik Koleksi STELLARISSA dan STUDIO JEJE
Selain eksperimen material, Dewi Fashion Knights 2026 juga memperlihatkan bagaimana inspirasi dari alam dan sejarah dapat diterjemahkan menjadi karya fashion. Dua pendekatan tersebut hadir melalui STELLARISSA dan STUDIO JEJE yang membawa narasi berbeda dalam presentasinya. STELLARISSA mempersembahkan Mother Earth, koleksi yang terinspirasi dari perjalanan Stella mengunjungi berbagai pulau di Indonesia. Lanskap, perairan, serta bentuk kehidupan laut menjadi sumber inspirasi yang diterjemahkan melalui siluet pahatan dan detail dekoratif.
Koleksi ini menggunakan material seperti silk chiffon, organdy, silk sateen, linen, dan scuba crepe. Eksplorasi teknik kain dan embellishment menghadirkan tekstur yang memperkuat hubungan antara busana dan inspirasi alam. Presentasi tersebut juga melibatkan seniman Galuh Anindita, yang menghadirkan topeng pahatan dari kulit sapi dan kuningan. Sementara itu, perhiasan MAHIJA serta alas kaki dari Rajnik melengkapi keseluruhan tampilan. Melalui perpaduan ini, Mother Earth tidak hanya menyoroti keindahan alam, tetapi juga mengajak pengunjung merenungkan kerapuhan lingkungan dan pentingnya menjaga warisan bagi generasi berikutnya.
Berbeda dari eksplorasi alam STELLARISSA, STUDIO JEJE membawa perspektif sejarah melalui koleksi menswear Wahyu Keprabon. Koleksi 12 tampilan ini menandai langkah pertama studio tersebut dalam menghadirkan busana pria. Terinspirasi dari pertemuan budaya Jawa dan Eropa pada masa kolonial, koleksi ini mengolah tailoring klasik melalui interpretasi kontemporer. Herringbone dan pinstripe dipadukan dengan warna marun serta olive yang berkaitan dengan kemewahan busana bangsawan Jawa.
STUDIO JEJE juga berkolaborasi dengan Bie Hin Tailor, rumah penjahit yang berdiri sejak 1930. Perpaduan visi desain kontemporer dan keterampilan tailoring tradisional menjadi bagian penting dari koleksi ini. Melalui dua presentasi tersebut, fashion menjadi medium untuk mengolah inspirasi yang lebih luas, mulai dari alam hingga sejarah, tanpa harus melepaskan karakter desain masing-masing.
Dari Hian Tjen hingga Sebastian Gunawan, Runway Menjadi Panggung Interpretasi Fashion
Rangkaian Dewi Fashion Knights 2026 juga menghadirkan runway show sebagai format presentasi yang memperlihatkan busana dalam gerakan. Berbeda dari live mannequin yang memungkinkan pengamatan lebih terfokus pada detail, peragaan di runway memberikan pengalaman visual melalui perpaduan siluet, styling, dan gerak model.
Koleksi Hian Tjen menampilkan permainan siluet yang mengikuti bentuk tubuh dengan detail material yang beragam. Kain berkilau, aksen payet, serta tekstur berlapis memberikan dimensi pada setiap busana. Palet warna netral seperti putih, perak, dan abu-abu menghadirkan kesan elegan, sementara detail rumbai pada bagian bawah menambah sentuhan dinamis. Perpaduan potongan dan tekstur tersebut memperlihatkan karakter busana yang anggun dengan detail yang tetap menonjol.
Sementara itu, Sebastian Gunawan Signature menutup rangkaian runway show melalui koleksi Laras Rupa. Koleksi ini mengangkat kekayaan kain Indonesia dengan pendekatan yang mempertemukan tradisi dan modernitas. Nama Laras Rupa merujuk pada dua gagasan, yaitu keselarasan dan keindahan bentuk. Melalui koleksi tersebut, Sebastian Gunawan mengeksplorasi kain Nusantara sebagai medium ekspresi yang terus berkembang mengikuti zaman.
Perpaduan kain dengan beragam elemen busana membuka ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan karakter dan identitasnya. Keseluruhan tampilan juga dilengkapi aksesori dari Gelap Ruang Jiwa. Dari eksplorasi cahaya dan material ANW, narasi alam STELLARISSA, reinterpretasi sejarah STUDIO JEJE, hingga presentasi runway Hian Tjen dan Sebastian Gunawan, Dewi Fashion Knights 2026 memperlihatkan beragam pendekatan dalam menyampaikan karya fashion.
Setiap format memberikan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Live mannequin menghadirkan kesempatan untuk memperhatikan detail, sesi kuratorial membantu memperluas pemahaman terhadap karya, sedangkan runway memperlihatkan bagaimana busana bergerak sebagai satu kesatuan visual. Pada akhirnya, pengalaman fashion tidak hanya ditentukan oleh pakaian yang ditampilkan, tetapi juga oleh cerita, material, dan cara karya tersebut diperkenalkan kepada publik.