Fimela.com, Jakarta - Pekerjaan tidak selalu selesai ketika seorang perempuan meninggalkan kantor atau menutup laptop. Bagi banyak working moms, hari kerja berlanjut di rumah melalui pekerjaan yang kerap dianggap sebagai tanggung jawab alami perempuan, mulai dari menyiapkan makanan, membersihkan rumah, mencuci pakaian, hingga mendampingi anak belajar. Rutinitas ini membuat waktu istirahat semakin terbatas, terlebih ketika pasangan belum berbagi tanggung jawab secara seimbang.
Fenomena tersebut dikenal sebagai beban ganda, yaitu situasi ketika perempuan menjalankan pekerjaan berbayar sekaligus memikul sebagian besar pekerjaan domestik dan pengasuhan yang tidak dibayar. Beban ini bukan sekadar persoalan mengatur waktu, melainkan juga berkaitan dengan pembagian peran dalam keluarga dan norma sosial yang masih menempatkan perempuan sebagai pengelola utama rumah tangga.
Dilansir dari International Labour Organization (ILO), perempuan melakukan 76,2 persen dari seluruh pekerjaan perawatan tidak berbayar di dunia. Perempuan juga menghabiskan rata-rata 3,2 kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan tersebut dibandingkan laki-laki. Data ini menunjukkan bahwa urusan domestik bukan persoalan individual semata, melainkan ketimpangan yang terjadi secara luas.
Oleh karena itu, pengalaman working moms perlu dilihat lebih utuh. Mereka tidak hanya membutuhkan kemampuan mengatur jadwal, tetapi juga dukungan keluarga dan lingkungan kerja agar tanggung jawab profesional maupun domestik dapat dijalani secara lebih adil.
Mengapa Pekerjaan Rumah Tangga Masih Dianggap sebagai Tanggung Jawab Perempuan?
Beban domestik sering kali berakar dari anggapan bahwa perempuan lebih telaten mengurus rumah, lebih memahami kebutuhan anak, atau secara alami bertanggung jawab menjaga kenyamanan keluarga. Pandangan yang diwariskan dari generasi ke generasi ini membuat pekerjaan rumah seolah menjadi kewajiban perempuan, sementara keterlibatan laki-laki kerap dipandang sebagai bantuan, bukan tanggung jawab bersama.
Akibatnya, meski sama-sama bekerja, perempuan masih sering menjadi pihak yang mengingat jadwal imunisasi anak, memastikan persediaan bahan makanan, mengatur keperluan sekolah, hingga merencanakan kebutuhan keluarga. Tugas-tugas tersebut tidak selalu terlihat karena sebagian besar berlangsung dalam bentuk mengingat, merencanakan, dan memastikan semuanya berjalan. Beban mental ini dapat melelahkan, bahkan ketika pekerjaan fisik dibagi.
Ketimpangan juga dapat muncul dari kebiasaan keluarga yang menganggap pembagian peran lama sebagai sesuatu yang wajar. Perempuan mungkin merasa sungkan meminta pasangan mengambil bagian lebih besar, sementara laki-laki belum terbiasa mengenali pekerjaan domestik yang perlu dilakukan tanpa diminta. Jika dibiarkan, pola tersebut membuat beban semakin menumpuk pada satu pihak.
Mengubah keadaan membutuhkan kesadaran bahwa mengurus rumah dan membesarkan anak merupakan tanggung jawab seluruh anggota keluarga. Peran tidak seharusnya ditentukan berdasarkan gender, melainkan dibicarakan berdasarkan waktu, kemampuan, dan kesepakatan bersama.
Membangun Pembagian Tugas Rumah Tangga yang Lebih Adil bagi Pasangan
Pembagian tanggung jawab domestik yang lebih adil dapat dimulai dari percakapan terbuka antara pasangan. Alih-alih menunggu salah satu pihak meminta bantuan, keduanya dapat membicarakan seluruh pekerjaan yang perlu dilakukan di rumah, termasuk tugas-tugas kecil yang sering luput diperhatikan. Setelah itu, tanggung jawab bisa dibagi dengan jelas agar tidak selalu bergantung pada satu orang untuk mengingat dan mengaturnya.
Pembagian yang setara tidak harus berarti setiap tugas dilakukan dengan porsi yang persis sama setiap hari. Pasangan dapat menyesuaikannya dengan jam kerja, kondisi kesehatan, kebutuhan anak, dan situasi masing-masing. Namun, kesepakatan tersebut perlu dievaluasi secara berkala supaya tidak ada pihak yang terus-menerus menanggung pekerjaan lebih banyak.
Dukungan tempat kerja juga berperan penting. Kebijakan jam kerja fleksibel, cuti keluarga, fasilitas pengasuhan, serta budaya kerja yang menghargai keseimbangan kehidupan pribadi dapat membantu orangtua menjalankan tanggung jawabnya. Dukungan ini sebaiknya tersedia bagi ibu maupun ayah agar pengasuhan tidak otomatis dibebankan kepada perempuan.
Pada akhirnya, working moms tidak seharusnya dituntut menyelesaikan semua hal seorang diri. Mengakui pekerjaan domestik sebagai kerja yang bernilai merupakan langkah awal untuk membangun keluarga yang lebih setara. Rumah tangga adalah ruang bersama, sehingga kenyamanan dan tanggung jawab di dalamnya pun perlu dijaga bersama.