Penanganan Kanker Payudara Dilakukan Lebih Personal, dari Terapi hingga Pemulihan Pasien

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 05 November 2026, 11:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Penanganan kanker payudara terus berkembang seiring kemajuan teknologi medis dan pemahaman terhadap karakteristik penyakit. Kini, perawatan tidak lagi hanya berfokus pada pengangkatan tumor atau pemberian terapi, tetapi juga mempertimbangkan kondisi fisik, kebutuhan emosional, hingga kualitas hidup pasien setelah pengobatan.

Pendekatan yang semakin personal ini menjadi penting karena kanker payudara memiliki karakteristik yang berbeda pada setiap pasien. Jenis sel kanker, subtipe tumor, stadium penyakit, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan menjadi faktor yang menentukan pilihan terapi.

Dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara, MRCCC Siloam Semanggi bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengangkat pentingnya pendekatan tersebut melalui media & community gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters” yang digelar di Jakarta pada Rabu (28/10).

Berdasarkan data GLOBOCAN 2024 yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit ini. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia.

Tingginya angka kasus ini memperkuat pentingnya deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penanganan yang disesuaikan dengan karakteristik penyakit.

 

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Deteksi Dini Jadi Langkah Penting dalam Penanganan Kanker

Ilustrasi kanker payudara | unsplash.com

Salah satu tantangan dalam penanganan kanker payudara di Indonesia adalah masih banyaknya pasien yang datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut.

Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, menekankan bahwa keterlambatan deteksi dan diagnosis dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan.

Kemenkes sendiri memiliki target agar 60 persen kasus kanker payudara dapat ditemukan pada stadium awal. Namun, berdasarkan data yang disampaikan dr. Uswatun, capaian deteksi stadium awal secara nasional masih berada di angka 10 persen pada 2025 dan sekitar 16,19 persen per 30 September 2026.

Untuk memperluas akses deteksi dini, perempuan usia 30–69 tahun dapat memanfaatkan skrining kanker payudara melalui program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas. Jika ditemukan hasil pemeriksaan abnormal, pasien akan dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.

Selain pemeriksaan di fasilitas kesehatan, kesadaran terhadap perubahan pada payudara juga perlu dibangun melalui pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI secara rutin setiap bulan.

Diagnosis yang Tepat Menentukan Pilihan Terapi

Setelah deteksi awal, tahap berikutnya adalah memastikan diagnosis dan memahami karakteristik kanker. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, menjelaskan bahwa kanker payudara memiliki beberapa subtipe, antara lain Luminal A, Luminal B, HER2-positif, dan triple negative.

Setiap subtipe memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan pertimbangan terapi yang spesifik. Pemeriksaan biopsi dan pemeriksaan lanjutan menjadi bagian penting untuk mengetahui jenis serta subtipe kanker.

“Biopsi dan pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui karakteristik tumor sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai,” jelasnya.

Penentuan stadium juga menjadi bagian dari proses diagnosis. Pemeriksaan radiologi, patologi, molekuler, dan metode diagnostik lainnya diperlukan untuk mengetahui karakteristik sel kanker serta kemungkinan penyebarannya.

Dengan informasi tersebut, tim medis dapat menyusun rencana perawatan yang lebih sesuai dengan kondisi pasien.

 

3 dari 4 halaman

Teknik Operasi Semakin Mempertimbangkan Kualitas Hidup

Terapi hingga proses pemulihan pasien kanker payudara kini dilakukan lebih personal (dok. MRCCC Siloam Semanggi)

Perkembangan teknologi dan metode bedah onkologi kini memberikan lebih banyak pilihan dalam penanganan kanker payudara. Tindakan operasi tidak selalu harus dilakukan dengan mengangkat seluruh jaringan payudara, melainkan dapat disesuaikan dengan ukuran tumor, stadium penyakit, dan kondisi pasien.

Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk, menjelaskan bahwa pilihan tindakan dapat mencakup mastektomi atau pengangkatan seluruh jaringan payudara, serta Breast Conserving Surgery (BCT), yaitu operasi yang mempertahankan sebagian jaringan payudara.

Dalam kondisi tertentu, terapi dapat diberikan terlebih dahulu sebelum operasi, misalnya kemoterapi untuk membantu mengecilkan tumor. Pendekatan ini memungkinkan dokter mempertimbangkan tindakan bedah yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasien.

Selain itu, konsep deeskalasi terapi juga mulai menjadi perhatian. Pendekatan ini bertujuan menurunkan skala tindakan atau terapi jika secara medis memungkinkan, sehingga dampak dan efek samping pengobatan dapat diminimalkan.

Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi turut menjadi bagian dari perencanaan perawatan. Rekonstruksi payudara dapat dipertimbangkan untuk membantu mengembalikan bentuk payudara setelah operasi, dengan tetap memperhatikan aspek medis dan kebutuhan pasien.

“Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujarnya.

 

4 dari 4 halaman

Rehabilitasi Medik hingga Dukungan Emosional

Penanganan kanker payudara tidak berhenti setelah operasi atau terapi selesai. Proses rehabilitasi medik juga memiliki peran penting untuk membantu pasien kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara bertahap.

Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Subspesialis Kardiorespirasi MRCCC Siloam Semanggi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa rehabilitasi dapat dilakukan sebelum maupun setelah operasi, sesuai kondisi pasien.

Rehabilitasi sebelum operasi dapat membantu mempersiapkan kondisi fisik pasien. Sementara setelah operasi, program pemulihan dapat mencakup latihan rentang gerak bahu untuk mengurangi kekakuan, penguatan otot, serta penilaian dan penanganan pembengkakan lengan atau limfedema apabila diperlukan.

Terdapat tiga aspek latihan yang menjadi perhatian, yaitu breathing atau latihan pernapasan, strengthening untuk menjaga kekuatan otot, serta endurance untuk meningkatkan ketahanan tubuh.

Dukungan Emosional Sama Pentingnya dengan Pengobatan

Perjalanan menghadapi kanker payudara juga membawa tantangan emosional. Diagnosis kanker dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien, terutama pada masa awal ketika mereka masih berusaha memahami situasi yang dihadapi.

Dr. Jeffry Beta Tenggara mengingatkan bahwa dukungan terhadap pasien perlu diberikan dengan empati. Menurutnya, tidak semua pasien membutuhkan nasihat atau dorongan semangat secara langsung. Terkadang, memberikan waktu dan menemani pasien justru menjadi bentuk dukungan yang lebih bermakna.

Hal tersebut juga tercermin dalam pengalaman Flavia Sungkit, penyintas kanker payudara yang didiagnosis pada 2022 ketika usianya masih di awal 30-an dan baru selesai menyusui.

Flavia menemukan benjolan keras dengan bentuk tidak rata saat melakukan SADARI. Ia kemudian menjalani pemeriksaan lengkap, termasuk biopsi, hingga akhirnya didiagnosis kanker payudara stadium 1.

Di tengah pengobatan, Flavia juga menjalani rehabilitasi medik sejak awal. Setelah operasi Breast Conserving Surgery, ia sempat mengalami keterbatasan gerak pada lengan. Proses pemulihan kemudian dilanjutkan melalui fisioterapi dan latihan fisik, mulai dari berenang, pilates, hingga latihan di gym.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pemulihan membutuhkan proses yang panjang dan bertahap. Ia juga menekankan pentingnya menjaga harapan selama menjalani pengobatan.

“Kanker bukanlah akhir dari chapter hidup kita,” pungkas Flavia.

Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, menyampaikan bahwa setiap pasien kanker memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kolaborasi multidisiplin menjadi bagian penting dalam memastikan pasien memperoleh penanganan yang sesuai, mulai dari pengobatan hingga pemulihan.

Pendekatan tersebut melibatkan berbagai spesialisasi medis, termasuk onkologi medik, bedah onkologi, radiologi, patologi, bedah plastik dan rekonstruksi, serta rehabilitasi medik.

Hospital Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, juga menekankan pentingnya edukasi kanker untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini.