Sukses

Health

Cultural Wellness Jadi Tren Wisata Baru, Yogyakarta Hadirkan Festival yang Menyatukan Budaya dan Kebugaran

Fimela.com, Jakarta - Cara seseorang menikmati liburan kini semakin beragam. Jika sebelumnya perjalanan wisata identik dengan mengunjungi destinasi populer dan mencoba berbagai hiburan, kini sebagian wisatawan mulai mencari pengalaman yang memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Perubahan minat tersebut turut mendorong perkembangan wellness tourism sebagai salah satu tren perjalanan yang semakin diperhatikan.

Wellness tourism merupakan bentuk perjalanan yang berorientasi pada kesejahteraan diri. Pengalaman yang ditawarkan tidak hanya berkaitan dengan relaksasi, tetapi juga mencakup aktivitas yang membantu seseorang menjaga keseimbangan hidup. Mulai dari yoga, meditasi, menikmati makanan sehat, perawatan tubuh, hingga menghabiskan waktu di alam terbuka menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

“Bagaimana kita me-repackaging ulang budaya kita menjadi sesuatu yang lebih menarik, tapi filosofinya tetap dapat tanpa mengubah otentisifikasinya, hanya dikemas dan dinarasikan ulang.” ujar Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Ketua BPPD DIY dan Founder Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026.

Indonesia memiliki kekayaan tersebut sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata khas. Tradisi jamu, rempah Nusantara, hingga filosofi hidup yang menjunjung keharmonisan antara manusia dan alam memberikan nilai berbeda dalam perjalanan wisata.

Perpaduan Tradisi Lokal dan Gaya Hidup Sehat

Sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan budaya, Yogyakarta menyimpan potensi besar dalam pengembangan wisata berbasis cultural wellness. Konsep ini mempertemukan pengalaman menjaga kesejahteraan diri dengan nilai-nilai budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati keindahan destinasi, tetapi juga mengenal filosofi dan kebiasaan lokal yang memiliki makna mendalam.

Kearifan lokal Jawa memiliki sejumlah nilai yang relevan dengan konsep keseimbangan hidup. Salah satunya hamemayu hayuning bawana, yaitu filosofi tentang menjaga keindahan dan keharmonisan dunia. Ada pula nilai sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh yang mengajarkan kesungguhan, semangat, rasa percaya diri, dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Selain filosofi tersebut, tradisi jamu dan pemanfaatan rempah Nusantara juga menjadi bagian dari kekayaan wellness Indonesia. Praktik perawatan tradisional ini memperlihatkan bagaimana masyarakat telah mengenal pemanfaatan bahan alami dalam menjaga kebugaran sejak lama.

“Kekuatan Yogyakarta sendiri ada di kampus-kampus karena banyak generasi Z dan milenial sehingga sangat potensial menjadi audiens dari wellness.” ujar Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Ketua BPPD DIY dan Founder Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026.

Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang lebih beragam, mulai dari lokakarya jamu, aktivitas meditasi, hingga kegiatan yang mendekatkan pengunjung dengan alam dan budaya setempat. Melalui pendekatan ini, Yogyakarta memiliki peluang memperkenalkan identitas budayanya sekaligus menjawab minat wisatawan terhadap perjalanan yang lebih bermakna.

Jogja Cultural Wellness Festival 2026

Potensi cultural wellness di Yogyakarta kemudian dihadirkan melalui Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026. Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, festival ini mengusung tema “RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing” yang mengajak masyarakat membangun kembali hubungan dengan budaya, lingkungan, dan sesama.

JCWF 2026 akan berlangsung pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta. Selama tiga hari, pengunjung dapat menikmati beragam kegiatan yang terbagi dalam lima experience zone, yaitu Mind & Body, Healing & Therapy, Nature Connection, Creative Expression, dan Culinary Wellness.

Rangkaian aktivitasnya mencakup yoga, meditasi, lokakarya jamu, terapi seni, hingga forum Pentahelix untuk mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha. Festival ini juga menghadirkan 89 program terjadwal, 97 komunitas dan mitra terkurasi, 65 praktisi wellness, serta 32 peserta Wellness Artisan Market.

Tidak hanya menawarkan pengalaman kebugaran, JCWF 2026 turut memperhatikan keberlanjutan lingkungan melalui inisiatif Zero Waste Management, penghitungan jejak karbon, dan rencana penanaman pohon sebagai bentuk kompensasi. Pengunjung juga diajak membawa tumbler pribadi serta memilah sampah selama acara berlangsung.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, festival ini diharapkan dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi cultural wellness sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.

 

 

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading