Sukses

Entertainment

5 Alasan Mengapa Film tentang Kartini Sangat Dinantikan

Fimela.com, Jakarta Kartini bukan lagi menjadi sosok yang asing bagi rakyat Indonesia. Terutama bagi kaum Hawa. Tindakannya yang berani mendobrak budaya, membuatnya dikenal menjadi sosok emansipasi wanita yang mampu membuka batasan-batasan yang ada demi kebebasan perempuan di lingkungan sosial.

Pada era sekarang, perempuan dapat merasakan bersekolah, berkarier serta berekspresi sebebasnya seperti pria. Tidak seperti zaman ketika Kartini dahulu, ia harus merasakan pahitnya menjadi seorang wanita yang melulu dituntut berada di dalam rumah dan mengurus urusan dapur.

Maka sangat tak heran, jika perjuangan Kartini ini sangat diapresiasi oleh seluruh rakyat Indonesia. Bahkan, tanggal 21 April setiap tahunnya yang merupakan hari lahir Kartini selalu diperingati. Tak mau kalah, para sineas pun berlomba-lomba untuk membuat karya yang mengadaptasi kisah hidup sang pejuang. Berikut Bintang.com sajikan lima alasan mengapa film tentang Kartini sangat dinantikan.

Film R. A Kartini. Foto: Wikipedia

Terakhir kali film biografi Kartini itu tahun 1984. Sudah sangat jelas kalau penonton Indonesia sangat rindu dengan kehadiran film tentang Kartini. Film garapan Sjumandjaja ini dibintangi oleh sederet nama artis ternama seperti Yenny Rachman, Bambang Hermanto dan Adi Kurdi.

Penonton butuh suasana berbeda. Ya, selama beberapa dekade terakhir, penonton lebih sering disuguhkan oleh film-film biografi tentang pahlawan nasional pria. Sebut saja Soekarno, Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, Jenderal Soedirman dan masih banyak lagi.

Bakal menyuguhkan adegan-adegan yang berbeda. Jika kebanyakkan film biografi pahlawan itu menampilkan adegan perang, maka di film tentang Kartini kemungkinan besar akan tidak ada. Pasalnya, Kartini adalah sosok pahlawan yang berjuang bukan dengan fisik tapi dengan pemikirannya.

Kartini. Foto: via angellyart1.deviantart.com

Budayanya yang halus banget. Lahir tahun 1879, membuat film tentang Kartini nantinya akan kental dengan budaya sederhana masyarakat Jawa Tengah, tepatnya Jepara. Setting dan kostum yang digunakan para pemain pun dapat dipastikan tidak akan berlebihan seperti film-film atau sinetron bertemakan kolosal yang pernah ada di Indonesia.

Terakhir, tentu karena semangatnya yang patut dicontoh. Terlahir dari keluarga ningrat membuat Kartini dapat mengenyam pendidikan layak yang tidak dapat dinikmati oleh semua wanita pada masa itu. Hal ini lah yang membuatnya tergerak untuk mendirikan sekolah di kabupaten Jepara untuk memajukan kaum wanita.

Di samping itu, Kartini juga menentang tradisi perjodohan yang sudah ada sejak dahulu kala. Meski pada akhirnya tak dapat menolak dijodohkan dengan Bupati, namun Kartini tetap berhasil mengejar cita-citanya. Semangat juang Kartini ini lah yang mungkin sudah sangat dirindukan penonton Indonesia dalam film-film tentang pahlawan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading