Sukses

FimelaMom

Pro Kontra Mendidik Anak ala Gentle Parenting di Tengah Tantangan Era Digital

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, metode gentle parenting, atau setidaknya seperti yang sering dipahami banyak orang, dapat membuat orang tua merasa kelelahan, ujar Dr. Emma Svanberg, seorang psikolog dan penulis Parenting for Humans. “Menurut saya, hal ini terjadi karena orang tua merasa dituntut untuk selalu memvalidasi, berempati, menjelaskan, dan menyerap luapan emosi anak, padahal mereka sendiri tidak pernah mengalami hal tersebut saat masa kecil, serta memiliki dukungan struktural yang sangat minim.

Melansir dari psychologytoday.com, Sebuah studi Pew Research Center pada 2023 melaporkan bahwa 44 persen responden mengatakan mereka ingin membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang berbeda dari pola asuh yang mereka terima saat kecil. Banyak dari responden tersebut menyebutkan bahwa mereka ingin menerapkan pendekatan yang lebih sedikit bersifat menghukum dan lebih lembut. Penelitian terbaru terhadap orang tua yang mengidentifikasi diri sebagai “gentle parents” juga menunjukkan sentimen serupa: mereka ingin melakukan pengasuhan anak dengan cara yang lebih baik dibandingkan yang mereka alami dari orang tua mereka dulu.

Gentle parenting sendiri merupakan metode pengasuhan yang menekankan empati, komunikasi terbuka, serta hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak. Anak tidak hanya belajar dari konsekuensi, tetapi juga dari bagaimana orang dewasa tetap hadir mendampingi mereka saat menghadapi konsekuensi tersebut.

Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, banyak orang tua mulai melirik metode ini karena dianggap mampu membantu anak tumbuh dengan kecerdasan emosional yang lebih baik. Namun, di balik popularitasnya, gentle parenting juga tidak lepas dari berbagai pro dan kontra.

Mengapa Gentle Parenting Dinilai Mampu Membentuk Karakter Anak?

Salah satu alasan utama gentle parenting semakin diminati adalah karena pendekatan ini membantu membangun hubungan yang lebih dekat antara orang tua dan anak. Ketika anak merasa didengarkan dan dipahami, mereka cenderung lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan maupun permasalahan yang mereka hadapi.

Pendekatan ini juga diyakini dapat membantu anak mengembangkan kemampuan regulasi emosi. Anak yang terbiasa diajak berdialog tentang perasaan akan lebih mudah memahami emosi diri sendiri sekaligus belajar mengelolanya secara sehat. Selain itu, gentle parenting mendorong anak untuk memahami konsekuensi dari perilaku mereka tanpa harus merasa takut. Anak diajak memahami alasan di balik aturan yang dibuat, sehingga mereka dapat belajar bertanggung jawab atas tindakan mereka. 

Banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa pendekatan ini dapat membantu membentuk kepercayaan diri sekaligus meningkatkan kemampuan problem solving pada anak. Tidak hanya berdampak pada anak, gentle parenting juga mendorong orang tua untuk lebih reflektif dalam mengasuh. Orang tua diajak memahami reaksi emosional mereka sendiri sehingga dapat memberikan respon yang lebih sadar dan tidak impulsif.

Tantangan dan Kritik Terhadap Gentle Parenting

1. Berisiko Memicu Kelelahan Emosional pada Orang Tua

Pola asuh gentle parenting menuntut orang tua untuk selalu sabar, responsif, dan hadir secara emosional bagi anak. Dalam praktiknya, hal ini dapat membuat sebagian orang tua merasa lelah karena harus terus mengelola emosi diri sekaligus memahami perasaan anak.

2. Sering Disalahpahami sebagai Pola Asuh yang Terlalu Permisif

Salah satu kritik terhadap gentle parenting adalah anggapan bahwa pola asuh ini terlalu lembut. Jika tidak disertai batasan dan aturan yang konsisten, anak berisiko kesulitan memahami tanggung jawab serta disiplin sejak dini.

3. Tantangan Menerapkan Gentle Parenting di Tengah Era Digital

Di tengah perkembangan teknologi, orang tua perlu mengatur penggunaan gadget dan media sosial pada anak. Menetapkan batasan digital dengan pendekatan empatik sering menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan gentle parenting.

4. Tidak Semua Keluarga Memiliki Dukungan untuk Menerapkan Gentle Parenting

Kesibukan pekerjaan, tekanan sosial, hingga perbedaan pola asuh dalam keluarga dapat memengaruhi konsistensi orang tua dalam menjalankan gentle parenting. Dalam beberapa situasi, orang tua harus membagi fokus antara tanggung jawab pekerjaan, urusan rumah tangga, dan kebutuhan emosional anak, sehingga tidak selalu mudah untuk menerapkan pola asuh ini secara konsisten. 

Selain itu, perbedaan pandangan dengan pasangan, keluarga besar, atau lingkungan sekitar juga dapat menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang, orang tua yang mencoba menerapkan gentle parenting menghadapi komentar atau tekanan sosial yang membuat mereka meragukan pendekatan yang dipilih. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan gentle parenting tidak hanya bergantung pada niat orang tua, tetapi juga dukungan lingkungan yang mendukung proses pengasuhan.

5. Gentle Parenting Membutuhkan Proses Belajar dan Adaptasi yang Panjang

Pola asuh ini mengajak orang tua untuk memahami emosi diri sebelum merespons anak. Proses tersebut membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesiapan mental agar gentle parenting dapat diterapkan secara optimal. Banyak orang tua perlu mempelajari cara berkomunikasi yang lebih empatik, mengelola emosi saat menghadapi perilaku anak, serta membangun kebiasaan baru dalam mendisiplinkan anak tanpa mengandalkan hukuman. 

Proses adaptasi ini tidak selalu berjalan mulus, karena orang tua juga membawa pengalaman pola asuh dari masa kecil mereka sendiri. Oleh karena itu, menerapkan gentle parenting sering kali menjadi perjalanan belajar yang berkelanjutan, bukan perubahan yang dapat terjadi secara instan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading