Sukses

Entertainment

Happy Salma: Perempuan Harus Aktualisasi Diri Tapi Jangan Egois

Next

happy1

Roro Mendut adalah salah satu cerita dalam ‘Babad Tanah Jawa’, sebuah manuskrip Jawa kuno dengan latar tahun 1600-an. Dengan latar ambisi Sultan Agung untuk melebarkan kekuasaannya ke Mataram. Tersebutlah Roro Mendut yang hendak dijadikan selir oleh seorang pembesar pada jaman itu. Penolakan Roro mendut atas keinginan si pembesar membuatnya dibuang keluar istana untuk bisa ‘membayar’ perbuatannya.

Roro Mendut diperankan oleh Happy Salma yang sudah sering kita lihat tampil di panggung-panggung teater. Happy bukan hanya memproduksi tapi juga tampil di depan banyak orang. Kecantikan fisik yang sangat khas Indonesia membuat Happy sesuai untuk memerankan karakter-karakter yang seringnya memang lekat dengan perempuan Jawa. Roro Mendut sendiri adalah sebuah pementasan yang khas perempuan. Selain Happy Salma yang tampil sebagai pemeran utama, produser dan sutradara pementasan ini juga dipegang oleh perempuan (Enny Sukamto, Ida Soeseno).

“Ini pementasan yang rumit, detilnya banyak, membawa karakteristik sejarah pula,” cerita Happy saat ditanya perasaannya ditawari proyek teater yang melibatkan kru dan pemain berjumlah cukup besar ini. Happy mengaku dirinya selalu tertarik dengan  cerita-cerita seperti ini, apalagi menurutnya Roro Mendut adalah legenda Indonesia pertama yang diangkat untuk sebuah pementasan berskala besar. Karena suka dengan ceritanya dan jadwal latihan yang cocok Happy bersedia untuk bergabung dengan proyek tersebut.

Tim Roro Mendut berproses kurang lebih satu bulan. Tim yang besar mempersiapkan pementasan ini. ”Satu bulan persiapan diisi dengan membahas naskah, persiapan dan penggalian karakter, mempersiapkan tarian. Kita membawa musisi dan penari profesional dari Solo, Jogja, dan juga Jakarta,” papar perempuan yang menikah dengan Tjokorda Bagus Dwi Santana ini. Bisa dibayangkan ya betapa rumitnya persiapannya.

Tokoh Roro Mendut memang unik. Perempuan yang harus melewati pergolakan batin yang berat, juga tantangan fisik yang nggak ringan, hidup di era di mana perempuan sama sekali nggak memiliki ‘suara.’

Roro Mendut relevan sekali untuk perempuan-perempuan era manapun, meski karakter ini berangkat dari sebuah kisah yang murni rekaan belaka,” ujar Happy kemudian. Menurut Happy, karakter dan kisah Roro Mendut menunjukkan bahwa masalah perempuan itu di setiap zaman ya ternyata sama saja. Perempuan selalu menemukan keterkungkungan dan berada dalam kondisi tertekan, pilihan yang terbatas, dan bagaimana melakukan perlawanan untuk situasi seperti itu.

Next

 

happy2“Roro Mendut adalah perempuan yang independen. Meski dalam keadaan tertekan Roro tetap terus berjuang, dengan caranya sendiri, baik itu untuk nasibnya sendiri maupun dalam kisah cintanya,” tambah Happy yang setelah proyek teater ini sedang bersiap-siap untuk sebuah proyek film layar lebar.

Kartini dan Roro Mendut sama, menurut Happy, mereka perempuan-perempuan yang berusaha bertahan dalam pergolakan. Perjuangan perempuan untuk keluar dari keterpurukan. Kisah eksistensi perempuan dengan kemasan yang berbeda. “Kapanpun, di manapun, masalah perempuan itu ya sama saja.”

Di saat kebanyakan dari kita merayakan (atau memperingati Hari Kartini) dengan beramai-ramai mengenakan Kebaya dan lomba memasak di kantor-kantor, menurut Happy boleh-boleh saja. “Kita harus melihat lebih dari kegiatan-kegiatan seperti itu, standar sekali,” cerita perempuan yang selama persiapan Roro Mendut ini ternyata selalu diantar sang suami tiap kali berangkat latihan.

 

“Apresiasi kita, aktualisasi kita sebagai perempuan, itu yang penting. Bagaimana kita menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan dengan cara perempuan. Nggak fokus ke tuntutan feminisme, tapi juga harus mengingat nilai-nilai humanistik,” jelas Happy yang menegaskan kalau perempuan juga nggak perlu ‘menginjak’ laki-laki supaya aktualisasi itu bisa terlaksana.

“Laki-laki harus dihargai, kalau kita yang balik menginjak-injak, sama saja kita dengan mereka (laki-laki) yang mungkin melakukan itu atas kaum perempuan,” tuturnya.

Dengan passion yang besar akan dunia kreatif dan seni Happy mengaku sebagai perempuan nggak bisa egois. Menyeimbangkan pekerjaan, passion, dan perannya dalam keluarga bukan hal mudah.

“Kita nggak boleh egois pada intinya, karena tiap orang punya pola pikir yang beda. Biasanya akan ada situasi tersendiri di mana kita memang harus mengendalikan keadaan, menyeimbangkan. Nggak usah terlalu dipikirkan,” tutup Happy.

Loading