Sukses

Fashion

Ada Apa Dengan Shopping?

Konon, lebih dari separuh populasi perempuan memilih shopping daripada sex. Ada apa dengan shopping sehingga jadi satu aktifitas favorit perempuan? Bahkan hingga jadi adiksi bagi beberapa perempuan. Topik yang dekat dengan semua perempuan ini memicu diskusi, opini dan tentunya sedikit curhat dari para peserta Fimela Luncheon.

Dita Firdiana, 26 tahun. Freelance Writer, @fairyteeth

“Saya suka sekali fashion dan memang dari dulu punya ambisi untuk bekerja di dunia fashion, jadi shopping adalah satu aktifitas yang saya gemari, bahkan saya juga suka belanja kain untuk dijahit. Saya bisa seharian jalan-jalan di mall, memasuki satu persatu toko yang ada. Jadi saya lebih suka jalan sendiri kasihan kalau teman saya harus menunggu lama. Kalau dengar ada toko dan desainer baru, saya pasti akan sempatkan diri untuk ke sana dan melihat langsung. Dan biasanya selalu saya coba untuk beli satu item, soalnya saya suka bisa jadi sumber buat teman-teman soal fashion. Jadi saya bisa bilang, kalau di toko A itu yang bagus barang ini, toko B kurang oke kualitasnya, dan lain lain. Saat belanja saya juga enggan untuk minta nasehat dari Sales Assistant. Paling saya nanya soal ada pilihan warna lain ngga. Soalnya kalau sudah suka, terus mereka bilang kurang oke kan malah saya jadi ragu-ragu haha! Tapi saya paling enggan belanja di ITC, karena saya paling ngga bisa nawar! Dan saya gemar sekali warna pink, my weakness!

Rhesya Agustine, 25 tahun. Corporate Secretary, @Rhesya

“Jujur saja, saya sudah lama sekali tidak berani jalan-jalan ke mall sendirian. Saya selalu minta ditemani oleh partner dan teman karena saya dulu punya kebiasaan buruk sekali soal shopping. Seringkali saya tidak bisa menahan diri dah hasilnya saya pulang dan menyesal. Demikian parah kebiasaan saya tersebut sampai saya sama sekali tidak bisa mengontrol diri. Jadi setiap kali Sales Assistant (SA) mengabari ada barang baru, langsung saya pergi ke toko untuk berbelanja. Apabila tidak menemukan yang saya mau, saya bisa dengan telaten mendatangi satu per satu semua toko dari merk tersebut. Itu terjadi saat saya sedang gemar-gemarnya beli jam. Sampai saya diundang ke acara-acara setiap kali mereka mengadakan event. Dan saya waktu itu memiliki banyak kartu kredit, mengejar diskon yang ditawarkan oleh toko-toko bersama bank tertentu. Makanya bukan ide bagus menurut saya untuk kenal terlalu dekat dengan SA, apalagi kalau sampai bertukar nomor telepon. Sekarang saya sudah mulai bisa belanja dan menahan diri sendiri, thanks to my partner’s support.

Pramita Sari, 29 tahun. PR Hotel.

“Saya bukan pengikut tren fashion yang terlalu antusias. Buat saya yang penting pakaian itu nyaman, simpel dan sesuai dengan aktifitas saya yang mobile. Jadi ketika shopping saya juga hati-hati dan tidak ngoyo. Yang jadi buruan saya setiap kali belanja adalah sepatu, karena size kaki saya cukup besar, 40, jadi kalau menemukan sepatu yang bagus dan nyaman, pasti akan saya beli. Untuk sepatu saya punya langganan, tapi kalau baju di mana saja bisa. Ketika di ITC saya biasanya beli yang simpel dan basic seperti tank top, dan saya beli beberapa sekaligus jadi bisa lebih murah. Kalau barang KW saya tidak pernah tertarik, apalagi yang banyak tulisan logonya, kan kita bukan brand ambassador haha. Oh iya, untuk tawar menawar di ITC saya punya trik. Jadi misalnya kita tertarik dengan barang A, saat pertama tanya dan menawar harga dengan penjual, tanyakan barang B dulu. Jadi agar terkesan kita tidak terlalu tertarik pada barang A, jadi saat kita tanya harga barang A, biasanya penjual sudah menurunkan harga pembuka.”

Anggy Wulandari, 31 tahun. Pemilik kafe.

“Sebelum berwiraswasta, saya pernah bekerja di sebuah produsen busana kerja yang hasil produksinya dominan warna monokromatik. Karena itu saya jadi terbiasa dan kurang suka mencoba warna lain. Tapi kalau soal desain dan gaya saya cukup eksperimental, dikasih baju serumit apa saja pasti akan saya coba dulu. Kebiasaan jelek saya adalah ketika sedang bad mood, saya akan belanja seenaknya sendiri. Bahkan sering tanpa mencoba, pokoknya beli aja dulu. Saya juga cukup suka ke penjahit untuk bikin kebaya. Biasanya saya selalu cari referensi dari rancangan Anne Avantie, dia desainer kebaya favoritku. Saat shopping saya selalu membawa teman, saya bukan tipe yang bisa belanja sendiri karena saya butuh opini. Jadi walaupun saat kebetulan sendirian saya menemukan baju yang aku suka, besoknya saya akan ajak teman untuk kasih pendapat sebelum saya memutuskan untuk beli. Biasanya kalau ke ITC saya juga jarang menawar harganya. Kalau menurut saya harganya sudah pantas dan sesuai, ya langsung saya beli.”

Ajeng Lembayung, 25 tahun. Freelance Writer, @AjengLembayung

“Saya kurang suka shopping loh! Sampai sekarang ibu saya masih jadi personal shopper saya haha! Saya memang tidak terlalu tertarik dengan fashion dan tren, dan aku merasa sudah tahu apa saja yang cocok buat aku. Kalau shopping tuh suka males kena ramainya dan kadang kalau terlalu banyak pilihan malah jadi distracted dan bingung. Jadi aku termasuk tipe customer yang loyal, karena kalau sudah cocok aku pasti balik lagi dan ngga tertarik untuk coba yang lain. Tapi aku suka juga belanja ke Tanah Abang misalnya, dan cukup jadi andalan teman-teman untuk nawar. Saya cukup ‘kejam’ kalau nawar, bisa 50% dari harga awal, tapi biasanya nawar sambil bercanda dan senyum-senyum ke abangnya. Tapi saya anti beli barang KW, bukannya apa, tapi sayang aja. Seringkali barang-barang tersebut kualitas dan desainnya oke tanpa perlu dipasang logo macam-macam.”

­

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading