Sukses

Fashion

Specula Mundi, Haute Couture Alessandro Michele untuk Valentino dan Politik Tatapan di Era Visual Berlebih

Fimela.com, Jakarta - Di zaman ketika gambar hadir tanpa henti dan tatapan menjadi komoditas, Specula Mundi menawarkan jeda. Bukan dengan menambah visual, melainkan dengan membatasinya. Dalam peragaan Valentino Haute Couture ini, sebuah perangkat optik dari akhir abad ke-19. Adalah Kaiserpanorama yang dihidupkan kembali sebagai kerangka berpikir, bukan sebagai ornamen sejarah. Ia menjadi alat untuk mempertanyakan ulang bagaimana kita melihat, dan bagaimana mode ingin dilihat hari ini.

Kaiserpanorama pernah menjadi ritual publik yang sunyi. Di mana orang-orang berkumpul, namun masing-masing mengintip sendirian. Dunia hadir melalui lubang kecil, gambar bergerak perlahan, dan mata dilatih untuk sabar. Sebelum sinema menjadi mesin percepatan, perangkat ini mengajarkan disiplin tatapan yang kontemplatif, berjarak, penuh perhatian. Sebuah pedagogi visual yang hari ini terasa hampir asing.

Prinsip itulah yang diadopsi Specula Mundi untuk Valentino Haute Couture. Di sini, Kaiserpanorama menjelma altar kontemporer sebagai ruang sakral yang mengatur akses, menahan pandangan, dan memaksa mata untuk mengambil posisi tertentu. Busana tidak dipertontonkan secara frontal, melainkan muncul sebagai peristiwa. Dalam dunia fashion yang dikuasai sirkulasi gambar instan, Haute Couture justru mengusulkan tempo lain: lambat, intens, dan personal.

 

Dimaknai Secara Perlahan

Pendekatan ini terasa inheren dengan bahasa kreatif Alessandro Michele. Sepanjang kariernya, Michele menolak fashion sebagai objek konsumsi cepat. Ia memperlakukan busana sebagai teks budaya, sarat simbol, sejarah, dan mitologi. Valentino Haute Couture baginya bukan puncak kemewahan semata, tetapi medan refleksi tempat tubuh, kain, dan imaji bernegosiasi dengan memori kolektif.

Dalam Specula Mundi, busana hadir seperti hierofani dengan penampakan sakral yang menuntut waktu. Siluet, bordir, dan tekstur terasa seperti artefak yang digali dari lapisan sejarah sinema, khususnya Hollywood klasik, yang selama ini berfungsi sebagai pabrik mitos modern. Tubuh-tubuh ilahi, gestur agung, jarak, cahaya, dan excess menjadi bahasa visual yang kembali dihidupkan. Namun bukan sebagai referensi literal, melainkan sebagai inkarnasi baru.

Musik techno yang diperlambat dan ditransformasikan menjadi ritme liturgis menggantikan lonceng Kaiserpanorama, menandai transisi antar-penampakan. Busana muncul bukan untuk dikonsumsi, tetapi untuk direnungi. Tatapan tidak lagi kolektif dan transparan, melainkan soliter, tersembunyi, hampir voyeuristik. Setiap orang melihat dari blind spot-nya sendiri.

 

Relasi Antara Fashion dan Visi

Di titik inilah Specula Mundi menjadi lebih dari sekadar peragaan busana. Ia adalah pernyataan tentang relasi antara fashion dan visi, antara hasrat dan jarak. Dalam semesta Alessandro Michele, mode selalu beroperasi di wilayah ambiguitas: antara yang profan dan sakral, antara yang terlihat dan yang disembunyikan.

Melalui perangkat Kaiserpanorama, Haute Couture tidak memperbanyak gambar, tetapi menghentikan alirannya. Ia menciptakan ruang terpisah di mana pakaian berhenti menjadi objek konsumsi dan berubah menjadi kehadiran simbolik. Dalam dunia yang terobsesi pada visibilitas, Specula Mundi mengingatkan bahwa melihat, seperti berpakaian adalah tindakan yang membutuhkan kesadaran.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading