Sukses

FimelaHood

Gerak Aja Dulu, Ajari Anak-anak Prasejahtera Belajar Tari Secara Sukarela

Fimela.com, Jakarta Semua orang mungkin bisa menari atau menggerakkan tubuhnya ketika ada musik, tapi belum tentu semua orang bisa mendapatkan pendidikan tari secara non formal untuk menekuninya. Seperti yang dirasakan oleh Adinda Nindyachandra, inisiator Gerak Aja Dulu, sebuah komunitas tari yang berbasis di Jakarta.

Bukan sekadar komunitas tari biasa. Komunitas yang berdiri pada April 2018 ini membagikan ilmu tarinya kepada anak-anak prasejahtera. Kepada Fimela.com, Dinda, begitu Adinda akrab disapa, menceritakan komunitas garapannya.

"Gerak Aja Dulu merupakan sebuah ajakan positif bagi siapapun untuk tidak terlalu banyak memusingkan pertimbangan-pertimbangan sebelum melakukan sesuatu. Seperti misalnya kadang kita ingin melakukan sesuatu, tapi takut ini lah, takut itu lah. Nah, Gerak Aja Dulu ini merupakan sebuah slogan yang dapat memberikan encouragement untuk yang penting adalah bergerak atau memulai saja terlebih dahulu apapun yang ingin dilakukan," jelas Dinda.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran 31 Maret ini menceritakan latar belakang terbentuknya Gerak Aja Dulu hingga bisa berkembang seperti saat ini. Menurutnya, pendidikan tari yang ia dapat membuatnya sadar akan kesenjangan sosial dalam masyarakat.

"Seiring berjalannya waktu, saya tidak dapat menutup mata dari adanya kesenjangan sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Oleh karena itu, sebagai bentuk kontribusi kecil saya, saya memutuskan untuk mendirikan Gerak Aja Dulu di April 2018, supaya adik-adik prasejahtera dapat merasakan kebahagiaan yang saya rasakan ketika saya menari," kata Dinda.

"Saya ingin memberikan kesempatan yang sama bagi adik-adik prasejahtera untuk mendapat pendidikan tari. Lebih jauhnya lagi, saya berharap bahwa dengan adanya Gerak Aja Dulu, menari bisa menjadi sebuah medium positif untuk penyampaian emosi dan berpikir kreatif. Ini merupakan visi kami," sambungnya.

Bersama dengan Dhea Seto, Dinda turun ke lapangan mengembangkan pendidikan tari di Jakarta untuk kalangan prasejahtera, dengan harapan mereka bisa menjangkau seluruh Indonesia nantinya. "Misi kami lainnya juga untuk memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk berbagi melalui menari, sehingga keuntungan yang diperoleh dari bergabung dengan Gerak Aja Dulu tidak hanya bagi adik-adik, namun bagi para relawan di dalamnya," ujar Dinda.

Kerap Dapat Penolakan dari Orangtua Anak-anak Prasejahtera

Untuk menghidupi Gerak Aja Dulu, Dinda butuh perpanjangan tangan dari dance enthusiast lain sebagai relawan. Namun, Dinda tidak sembarangan untuk merekrut mereka. Dinda menjelaskan bahwa ada step wawancara untuk mengenal relawan lebih jauh.

"Sistem keanggotaannya adalah melalui open recruitment. Alasan adanya open recruitment adalah karena kami ingin mengenal relawan kami lebih jauh dengan adanya wawancara. Syaratnya adalah memiliki background tari (tidak harus lulusan jurusan tari), passionate, dan kesediaan mengajar anak-anak," jelasnya.

Sejak pertama berdiri hingga kini, Gerak Aja Dulu telah memiliki 42 relawan yang bertugas mengajar anak-anak prasejahtera tiga kali seminggu. Namun, selain relawan pengajar tari, Gerak Aja Dulu juga membuka kesempatan bagi relawan untuk belajar berorganisasi menjadi tim operasional seperti schedule coordinator, parents coordinator, dan lain-lain.

 

Bukan hanya sekadar menyebar virus tari di kalangan anak-anak kurang mampu, melalui tari, Dinda juga ingin menyampaikan bahwa tari bisa menjadi medium penyampaian emosi. "Menari dapat menjadi medium penyampaian emosi dan menjadi sebuah bentuk seni yang dapat diakses oleh anak-anak prasejahtera. Dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang mendukung, berkesenian menjadi sebuah kegiatan yang tentunya tidak diprioritaskan," kata lulusan The University of Melbourne jurusan Arts and Cultural Management ini.

"Kebanyakan orangtua dari anak-anak prasejahtera banyak yang memilih program sekolah gratis atau meminta anak-anaknya ikut bekerja, seperti mengemis, mencari botol, dan lain-lain. Tujuan Gerak Aja Dulu adalah untuk memberikan wadah bagi anak-anak prasejahtera untuk aktif dalam kegiatan yang positif dan dapat memberikan harapan baru bagi mereka," imbuh Dinda yang mengikuti pendidikan non formal tari pada 2011 ini.

Tak jarang, Dinda mendapat penolakan dari orangtua anak-anak prasejahtera. "Hingga sekarang pun masih ada orang tua yang kadang tidak memperbolehkan anaknnya untuk turut serta dalam pengajaran karena menari dinilai sebagai bermain dan anak-anak lebih diharapkan untuk membantu orang tua bekerja," ungkap Dinda.

Di sisi lain, ada Hanny, salah satu relawan yang memiliki kesan tersendiri terhadap Gerak Aja Dulu. "Bersyukur dan happy banget pastinya! Selain bisa berbagi lewat hal yang juga gue cintai, yang nggak ternilai harganya gue banyak belajar dari adik-adik, malah gue ngerasa apa yg gue ajarkan nggak seberapa dibanding pelajaran yang gue dapat dari mereka. Gue jadi belajar bersyukur, nggak ngeluh, menerima, semangat dan happy apapun situasi & kondisinya," ungkap Hanny yang bergabung sejak Maret 2019 ini.

Berkat tim yang solid, baik dari relawan maupun penampil, Gerak Aja Dulu sukses tampil di beberapa event di Jakarya. "Project yang telah dibuat, kami pernah ikut serta diliput di acara MNC pada peringatan 49 Tahun Pengabdian Kak Seto dalam Dunia Pendidikan," kenang Dinda.

"Kami juga berhasil melakukan kolaborasi dengan Abuba Steak dan Rumah Dongeng Pelangi di acara Dongeng Musikal, di mana adik-adik dari Gerak Aja Dulu tampil sebagai pengisi acara dengan bermain peran dan menari. Selain itu, beberapa relawan kami juga aktif dalam menjadi stage management team untuk membantu kesuksesan acara tersebut," imbuh perempuan yang tertarik dengan dunia tari sejak 2002 ini.

Dinda berharap, tari bisa menciptakan harapan baru dalam menjalani hidup bagi anak-anak prasejahtera. "Harapan saya adalah dengan melalui tari, anak-anak prasejahtera dapat memiliki harapan-harapan baru dalam menjalani hidup. Dalam skala besarnya, dengan adanya Gerak Aja Dulu, diharapkan akan terciptanya generasi yang penuh harapan dan kreatif," pungkas Dinda.

 

Fimelahood #MyGoalMatter, Tempat Perempuan Berbagi Kisah Inspiratif
Loading
Artikel Selanjutnya
Ulang Tahun, Jakarta Babywearers Angkat Tema Tentang Ayah
Artikel Selanjutnya
Jogja Beauty Vlogger, Dibentuk Dengan Modal Nekat