Sukses

FimelaMom

Kenali Tanda Neglectful Parenting agar Anak Tidak Kehilangan Ruang Emosionalnya

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Rumah yang nyaman, makanan yang cukup, pendidikan yang baik, hingga perhatian terhadap kebutuhan fisik mereka. Namun, ada satu hal penting yang sering luput, yaitu kebutuhan emosional anak. 

Tanpa disadari, sebagian orang tua bisa terjebak dalam pola neglectful parenting atau pengasuhan yang mengabaikan aspek emosional anak. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena tidak terbiasa membicarakan perasaan atau bahkan tidak menyadari pentingnya hal tersebut.

Padahal, neglectful parenting dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan memahami, mengekspresikan, bahkan menerima emosinya sendiri. Dilansir dari Psychology Today berikut adalah beberapa tanda neglectful parenting yang secara tidak disadari dilakukan oleh orang tua dan perlu diwaspadai.

  

 

1. Obrolan Keluarga yang Hanya di Permukaan

Banyak keluarga terbiasa membicarakan hal-hal ringan seperti rutinitas sekolah, pekerjaan, atau rencana akhir pekan. Obrolan memang ada, tetapi jarang menyentuh lapisan yang lebih dalam. Jarang ada ruang untuk membicarakan rasa sedih saat gagal, kecewa ketika kehilangan teman, atau sekadar berbagi kebanggaan kecil saat berhasil.

Lama-kelamaan, anak tumbuh tanpa merasa memiliki “ruang aman” untuk benar-benar membuka diri. Ia bisa merasa keluarganya hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya ada untuk mendengar hati dan perasaannya.

2. Ada Rasa Marah atau Kesal pada Orang Tua tanpa Alasan Jelas

Anak bisa saja menyimpan rasa marah atau kesal yang bahkan ia sendiri tidak bisa jelaskan. Rasa itu kerap muncul dari akumulasi pengalaman kecil yang tidak pernah divalidasi. Misalnya, ketika anak menangis karena mainannya rusak, lalu orang tua menanggapinya dengan kalimat, “Ah, cuma mainan.”

Bagi orang tua, itu sepele. Tapi bagi anak, itu penting. Saat hal seperti ini terus berulang, anak belajar bahwa emosinya tidak dianggap berarti. Ganjalan yang tidak pernah dibicarakan ini akhirnya menumpuk menjadi jarak emosional.

 

 

3. Masalah Sulit Dibicarakan

Dalam keluarga yang cenderung neglectful, konflik sering dianggap tabu. Ketika ada masalah, topik langsung dialihkan, atau semua memilih diam seolah-olah masalah akan hilang dengan sendirinya. Padahal, masalah yang dihindari tidak pernah benar-benar selesai, melainkan hanya tersimpan di bawah permukaan.

Anak akhirnya belajar bahwa mengungkapkan perasaan atau membicarakan masalah bukanlah hal yang aman dilakukan. Akibatnya, ia terbiasa menekan emosi, bahkan saat sudah dewasa.

4. Persaingan Antar-Saudara yang Tidak Jelas

Kadang muncul dinamika persaingan antar-saudara, meski tidak ada hal yang jelas diperebutkan. Ada keinginan untuk lebih diperhatikan, lebih dipuji, atau lebih diakui oleh orang tua. Semua ini biasanya muncul karena kehangatan emosional tidak dirasakan secara merata. Ketika anak merasa kasih sayang tidak cukup terbagi, mereka bisa menganggap cinta orang tua sebagai sesuatu yang harus “diperebutkan.”

5. Kasih Sayang Ditunjukkan Lewat Tindakan, Bukan Kata-kata

Banyak orang tua rajin menyiapkan makanan, membelikan kebutuhan, atau mengantar jemput anak ke sekolah. Semua itu tentu bentuk cinta, namun tanpa diiringi ungkapan emosional, anak bisa merasa ada yang hilang. Kata-kata sederhana seperti, “Ayah bangga sama kamu” atau “Ibu sayang kamu” punya dampak luar biasa bagi tumbuh kembang emosional anak. Anak tidak hanya butuh bukti nyata lewat tindakan, tetapi juga butuh merasakan kehangatan lewat ucapan yang penuh makna.

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading