Sukses

FimelaMom

Fakta Unik, Benarkah Sugar Rush pada Anak Adalah Mitos Belaka

ringkasan

  • Fenomena 'sugar rush pada anak adalah' kepercayaan populer bahwa gula menyebabkan hiperaktivitas, namun penelitian ilmiah secara konsisten membuktikan bahwa ini adalah mitos belaka.
  • Perilaku aktif pada anak setelah mengonsumsi gula lebih sering disebabkan oleh ekspektasi orang tua, konteks sosial yang menyenangkan, atau fluktuasi energi alami anak, bukan karena efek langsung gula.
  • Meskipun 'sugar rush' tidak nyata, konsumsi gula berlebihan pada anak memiliki bahaya kesehatan serius seperti 'sugar crash',

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, fenomena 'sugar rush' pada anak-anak telah lama menjadi kepercayaan umum di kalangan orang tua. Anggapan ini menyatakan bahwa setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis, anak-anak akan mengalami lonjakan energi dan menjadi hiperaktif. Kepercayaan ini seringkali membuat banyak orang tua membatasi asupan gula anak-anak mereka, terutama saat mereka menginginkan anak-anak tetap tenang dan fokus. 

Namun, bagaimana jika kami katakan bahwa 'sugar rush' yang selama ini kita yakini ternyata hanyalah mitos? Penelitian ilmiah secara konsisten menunjukkan tidak ada hubungan langsung antara konsumsi gula dan perilaku hiperaktif pada anak-anak. Banyak studi terkontrol dan meta-analisis gagal menemukan bukti yang mendukung klaim tersebut.

Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu sugar rush pada anak adalah sebuah mitos, bagaimana kepercayaan ini muncul, serta apa saja faktor sebenarnya yang memicu perilaku aktif pada anak. Kami juga akan membahas bahaya nyata dari konsumsi gula berlebihan yang justru perlu diwaspadai demi kesehatan si kecil. Mari kita selami lebih dalam fakta di balik mitos populer ini.

Apa Sebenarnya Sugar Rush pada Anak Adalah Mitos?

Istilah 'sugar rush' adalah deskripsi populer untuk kondisi di mana anak-anak tampak sangat energik, gelisah, atau hiperaktif setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis.  Banyak orang tua mengira semakin banyak gula yang dikonsumsi, tubuh anak akan semakin berenergi dan bergerak berlebihan, seperti melompat atau berlari tanpa henti.

Meskipun popularitasnya, konsensus ilmiah modern secara tegas menyatakan bahwa 'sugar rush' adalah mitos. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa klaim gula menyebabkan hiperaktivitas tidak memiliki bukti substansial. Sebuah meta-analisis dari 31 studi yang melibatkan hampir 1.300 orang dewasa, bahkan menunjukkan bahwa makanan manis tidak memiliki efek positif pada suasana hati, melainkan justru dapat menyebabkan kelelahan dan kewaspadaan yang lebih rendah setelah satu jam konsumsi. 

Studi lain yang diterbitkan pada tahun 1995 juga menyimpulkan bahwa gula, terutama sukrosa, tidak memengaruhi perilaku atau kinerja kognitif anak-anak. Ini berarti, pandangan bahwa gula adalah pemicu langsung hiperaktivitas pada anak tidak didukung oleh data ilmiah yang kuat.

Jejak Sejarah Mitos Sugar Rush yang Melekat

Kepercayaan akan 'sugar rush' mulai berkembang pada tahun 1970-an, ketika sebuah studi mengklaim gula dapat menyebabkan hiperaktivitas pada anak-anak. Penelitian ini dengan cepat menarik perhatian dan idenya menyebar luas di kalangan orang tua. 

Namun, studi awal ini kemudian dibantah karena kurangnya ketelitian ilmiah dan kesimpulan yang akurat. Buku terlaris berjudul “Why Your Child Is Hyperactive” oleh ahli alergi anak Ben Feingold pada tahun 1970-an juga turut berkontribusi pada gagasan ini, meskipun dengan sedikit bukti pendukung. Sejak saat itu, 'sugar rush' menjadi mitos yang telah dianut budaya Amerika selama beberapa dekade.

Meskipun banyak bukti menentang 'sugar rush' cukup kuat, ungkapan ini tetap sering terdengar dan mendorong orang tua untuk membatasi permen dari anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya mitos ini tertanam dalam persepsi masyarakat, meskipun tidak ada dasar ilmiah yang kuat.

Bukan Gula, Ini Penyebab Anak Hiperaktif yang Sebenarnya

Jika bukan gula yang menyebabkan hiperaktivitas, lalu apa penyebabnya? Para ahli mengemukakan beberapa faktor lain yang lebih mungkin menjadi pemicu perilaku aktif pada anak-anak.

Salah satu alasan utama mitos ini bertahan adalah fenomena psikologis yang dikenal sebagai 'self-fulfilling prophecy' atau ekspektasi orang tua.  Studi menunjukkan bahwa ketika orang tua mengharapkan anak-anak mereka menjadi hiperaktif setelah makan gula, mereka cenderung lebih memperhatikan perilaku yang mereka tafsirkan sebagai hiperaktivitas. Persepsi ini membuat orang tua melihat perilaku anak dengan cara yang lebih sensitif, meskipun secara ilmiah tidak ada hubungan langsung antara konsumsi gula dan peningkatan aktivitas.

Selain itu, gula sering dikonsumsi dalam situasi yang sudah merangsang dan menyenangkan, seperti pesta ulang tahun, liburan, atau pertemuan keluarga. Dalam konteks ini, anak-anak secara alami lebih bersemangat dan aktif karena kegembiraan acara tersebut, bukan karena gula. Anak-anak memang akan merasa senang dan bersemangat saat bermain karena mereka sedang dalam proses tumbuh kembang.

Fluktuasi energi alami anak-anak sepanjang hari biasanya disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti kelelahan, kegembiraan, atau tahap perkembangan normal. Beberapa kondisi kesehatan tertentu juga dapat menyebabkan anak hiperaktif, seperti gangguan perkembangan otak (ADHD), faktor genetik, gangguan kesehatan mental, atau bahkan kurang tidur. Oleh karena itu, penting untuk melihat gambaran yang lebih luas saat menilai perilaku aktif anak.

Waspada, Ini Bahaya Gula Berlebih pada Anak yang Sesungguhnya

Meskipun 'sugar rush' adalah mitos, konsumsi gula berlebihan tetap memiliki risiko kesehatan serius yang wajib Sahabat Fimela waspadai. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, bahkan menyerukan partisipasi aktif ahli gizi untuk mengedukasi masyarakat tentang makanan yang layak dikonsumsi, khususnya bagi si kecil, mengingat tingginya angka penderita penyakit gula pada anak-anak di Indonesia.

  • "Sugar Crash": Mengonsumsi gula dalam jumlah besar dapat menyebabkan lonjakan cepat kadar gula darah, diikuti oleh penurunan tajam yang dikenal sebagai 'sugar crash'. Kondisi ini dapat membuat anak merasa lelah, mudah tersinggung, sulit fokus, dan rewel. 
  • Kesehatan Gigi: Ada bukti kuat yang menunjukkan hubungan antara asupan gula dan perkembangan karies gigi atau gigi berlubang.  Gula memberi makan bakteri di mulut yang menghasilkan asam, merusak enamel gigi, dan menyebabkan lubang.
  • Risiko Penyakit Kronis: Diet tinggi gula meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan kelainan lipid pada anak-anak. Lebih dari 13% anak-anak bahkan memiliki masalah dengan penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD) akibat konsumsi gula berlebih.
  • Dampak pada Otak: Konsumsi gula berlebihan dapat memiliki efek negatif pada fungsi neuron dan menyebabkan peningkatan peradangan di otak, yang mengganggu kemampuan belajar dan mengingat. Gula juga memicu pelepasan dopamin di otak, menciptakan perasaan senang yang mirip efek zat adiktif, membuat anak ingin mengonsumsinya lagi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar asupan gula tambahan pada anak tidak melebihi 10% dari total energi harian, bahkan idealnya kurang dari 5% untuk manfaat kesehatan yang lebih baik. Untuk anak usia 2-18 tahun, tidak lebih dari 25 gram atau 6 sendok teh gula tambahan per hari. Anak di bawah 2 tahun tidak dianjurkan mendapatkan gula tambahan sama sekali. Penting bagi orang tua untuk memprioritaskan gula alami dari buah-buahan utuh dan produk susu tanpa pemanis untuk menjaga kesehatan si kecil.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading