Sukses

FimelaMom

Ahli Sarankan Orangtua untuk Berhenti Melacak Anaknya, Begini Pertimbangannya

ringkasan

  • Pelacakan anak dengan AirTag dapat menimbulkan kecemasan pada anak dan orang tua, serta menghambat perkembangan otonomi dan keterampilan hidup penting anak.
  • Keterbatasan teknis AirTag, yang dirancang untuk barang bukan orang, dapat memberikan rasa aman palsu dan memicu masalah privasi.
  • Membangun kepercayaan dan kemandirian anak memerlukan pelepasan dari pelacakan konstan, memungkinkan mereka belajar bertanggung jawab dan memecahkan masalah sendiri.

Fimela.com, Jakarta - Dalam era digital yang serba terhubung, banyak orang tua beralih ke teknologi pelacak lokasi seperti Apple AirTag. Tujuannya adalah untuk memantau keberadaan anak-anak mereka dan memperoleh ketenangan pikiran.

Namun, sebuah artikel dari Independent.co.uk menyoroti pengalaman seorang ibu yang memilih untuk berhenti melacak anaknya. Ia menyimpulkan bahwa praktik tersebut tidak sehat bagi dirinya maupun anak-anaknya.

Keputusan ini didukung oleh pandangan para ahli yang menyerukan agar orang tua mempertimbangkan kembali pelacakan. Mereka menyoroti dampak jangka panjang dari "masa kanak-kanak yang diawasi" pada perkembangan anak.

Kekhawatiran Ahli dan Dampak Psikologis Pelacakan Anak

Sahabat Fimela, sekelompok ahli kesehatan telah mendesak orang tua untuk berhenti melacak anak-anak mereka. Praktik ini dapat menimbulkan kecemasan yang tidak perlu pada anak, mempengaruhi kesehatan mental mereka.

Charlotte Cripps, seorang ibu dua anak, awalnya menggunakan AirTag dengan harapan mendapatkan ketenangan pikiran. Namun, ia justru merasa menjadi "ibu yang neurotik dan paranoid" karena terus-menerus memeriksa ponselnya.

Anak-anak Cripps bahkan mulai menunjukkan kekhawatiran, bertanya, "Apakah kami tidak aman, Ibu? Mengapa Ibu melacak kami?". Pertanyaan ini mencerminkan dampak psikologis yang mungkin timbul, membuat anak merasa tidak aman.

Kelompok kampanye Generation Focus, yang berupaya menjadikan sekolah bebas ponsel pintar, menyuarakan keprihatinan serius. Dengan dukungan 74 profesional, mereka menyatakan pelacakan adalah "perpanjangan dari pola asuh helikopter yang merusak".

  • Pelacakan dapat menimbulkan kecemasan pada generasi muda.
  • Membuat mereka kurang berpikir bebas dan mandiri.
  • Merusak kemampuan anak untuk mengembangkan rasa otonomi.
  • Berisiko mencegah anak mempelajari keterampilan hidup nyata yang vital.

Para psikolog juga berpendapat bahwa pola asuh helikopter, termasuk pelacakan, dapat menjadi bumerang. Anak-anak mungkin kesulitan mempercayai diri sendiri karena keterampilan pengambilan keputusan mereka terhambat.

Pelacakan menyisakan sedikit ruang untuk otonomi dan dapat membuat anak takut membuat kesalahan. Intervensi cepat menghambat anak belajar memecahkan masalah sendiri.

Keterbatasan Teknologi dan Rasa Aman yang Semu dari AirTag

Penting untuk diingat, Sahabat Fimela, bahwa AirTag awalnya dirancang untuk melacak barang, bukan orang. Keterbatasan ini menimbulkan beberapa masalah signifikan saat digunakan untuk anak-anak, yang perlu dipertimbangkan.

Salah satu isu utama adalah pembaruan lokasi yang intermiten dan notifikasi tertunda. AirTag mengandalkan perangkat Apple di sekitarnya untuk memperbarui posisinya.

Ini berarti di area yang kurang padat atau dengan sedikit pengguna iPhone, pembaruan lokasi bisa sangat tertunda. Dr. Elizabeth Milovidov mencatat dampak psikologis dari pelacakan intermiten dapat meningkatkan kecemasan orang tua.

Selain itu, ada masalah privasi dan keamanan yang perlu diperhatikan. AirTag dapat memicu peringatan pada perangkat Apple lain jika ada pelacak tidak dikenal bergerak bersama mereka.

Hal ini dapat menyebabkan kebingungan atau bahkan kepanikan, terutama di lingkungan sekolah. Rasa aman yang palsu juga menjadi perhatian serius bagi banyak pihak.

Orang tua mungkin merasa selalu tahu di mana anak mereka berada, padahal pembaruan lokasi AirTag bisa tertunda atau tidak akurat. Kondisi ini memberikan rasa aman yang menyesatkan dan tidak realistis.

Membangun Kepercayaan dan Kemandirian Anak Tanpa Pelacakan

Charlotte Cripps menyadari bahwa AirTag membuat anak-anaknya tidak perlu bertanggung jawab atas barang-barang mereka. Mereka tidak perlu tahu di mana tas sekolah mereka karena ibunya bisa melacaknya.

Setelah berhenti melacak, anak-anaknya kini harus mencari tahu sendiri dan lebih mandiri. Cripps ingin anak-anaknya tangguh dalam menghadapi tantangan dan merasa diberdayakan.

Para ahli kesehatan menggambarkan tindakan pelacakan sebagai "tali pusar tak terlihat antara orang tua dan anak". Melepaskan "tali pusar" ini memungkinkan anak mengembangkan kemandirian.

Mereka juga dapat membangun kepercayaan diri yang esensial untuk pertumbuhan mereka. Dr. Mike Patrick menekankan pentingnya mendiskusikan penggunaan perangkat pelacak dengan anak.

Diskusi terbuka ini bertujuan untuk menghindari dampak negatif pada kepercayaan dalam hubungan antara orang tua dan anak. Transparansi adalah kunci dalam membangun fondasi yang kuat.

Pada akhirnya, keputusan untuk melacak anak atau tidak adalah pilihan pribadi setiap orang tua. Namun, penting untuk mempertimbangkan pandangan para ahli dan pengalaman orang tua lain.

Ada argumen kuat untuk mempertimbangkan kembali praktik ini demi kesehatan mental, otonomi, dan pengembangan keterampilan hidup anak-anak. Ini adalah langkah menuju pengasuhan yang lebih seimbang.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading