Sukses

FimelaMom

Saat Anak Dicap Trouble Maker, Apa Sih yang Sebenarnya Terjadi?

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah kita melihat seorang anak yang sering dimarahi guru, dijauhi teman, dan disebut sebagai “anak bermasalah”? Ia dicap trouble maker karena dianggap suka ribut, tidak bisa diam, melawan aturan, atau kerap membuat kegaduhan di kelas. Padahal di balik perilaku itu semua, sering kali tersimpan cerita yang menyentuh.

Ketika anak dicap sebagai pembuat onar, dampaknya bisa lebih besar daripada yang kita bayangkan. Anak mungkin merasa dirinya tidak diterima, bahkan mulai percaya bahwa ia memang “nakal” seperti yang dikatakan orang lain. Lalu apa sebenarnya yang terjadi ketika seorang anak dicap sebagai pembuat masalah?

Mengapa Anak Sering Dicap Trouble Maker

Untuk memahami hal tersebut, ada beberapa faktor utama yang sering menjadi penyebab mengapa anak mudah diberi label negatif.

Perilaku Eksploratif yang Sering Dianggap Nakal

Anak yang aktif, banyak bergerak, dan suka mencoba hal baru sebenarnya sedang berada dalam fase mengeksplorasi. Mereka ingin tahu banyak hal dan belajar lewat pengalaman langsung. Sayangnya perilaku ini sering dianggap sebagai kenakalan.

Kesulitan Mengatur Emosi

Anak belum sepenuhnya mampu memahami dan mengendalikan perasaannya sendiri. Saat merasa marah, kecewa, atau sedih, anak-anak bisa langsung mengekspresikannya lewat tangisan, teriakan, atau menolak terhadap aturan. Inilah yang sering membuat anak terlihat sulit diatur dan masih belajar mengenali emosinya.

Lingkungan yang Kurang Memahami

Tidak semua orang dewasa terbiasa melihat perilaku anak dari sisi emosional. Banyak yang langsung menilai anak bermasalah hanya karena perilakunya terlihat mengganggu. Padahal di balik itu anak bisa saja sedang membutuhkan perhatian, dukungan, dan ingin dimengerti.

Dampak Label pada Anak

Pemberian label negatif kepada anak bukan hanya berdampak sesaat, tetapi juga bisa memengaruhi cara anak memandang dirinya.

Anak Merasa Tidak Diterima

Saat anak terus-menerus diberi label negatif, mereka bisa merasa dirinya tidak disukai oleh orang di sekitarnya. Anak mulai berpikir bahwa ada yang salah dengan dirinya. Perasaan ini membuat mereka jadi lebih tertutup dan kurang nyaman mengekspresikan diri.

Kepercayaan Diri Semakin Menurun

Label seperti “nakal” atau “bandel” dapat membuat anak meragukan kemampuannya sendiri. Anak jadi takut mencoba hal baru karena khawatir akan disalahkan lagi. Lama-kelamaan, rasa percaya dirinya pun ikut menurun.

Semakin Muncul Perilaku yang Tidak Baik

Anak yang terus dicap sebagai trouble maker bisa mulai percaya bahwa itulah jati dirinya. Mereka merasa percuma berusaha berubah karena sudah terlanjur diberi cap negatif. Kemudian anak justru semakin sering menunjukkan perilaku yang sesuai dengan label tersebut.

Mungkin yang perlu kita ubah bukanlah anaknya, tetapi cara kita memandang. Di balik sikap ribut dan bandel, bisa jadi ada anak yang sedang lelah, bingung, takut, atau merasa tidak cukup baik.

Dengan mengganti label trouble maker menjadi “anak yang sedang butuh perhatian”, kita sedang mencari masa depan yang lebih sehat bagi anak dan juga bagi lingkungan sekitarnya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading