Sukses

FimelaMom

Cara Membantu Anak Balita Mengatasi Night Terrors di Malam Hari dengan Tepat

ringkasan

  • Teror malam berbeda dengan mimpi buruk; anak tidak sadar dan tidak mengingat teror malam, sementara mimpi buruk diingat dan anak bisa dihibur.
  • Penyebab teror malam seringkali terkait kurang tidur, stres, atau demam, dan penanganan utamanya adalah menjaga keselamatan anak tanpa membangunkan mereka.
  • Pencegahan teror malam meliputi jadwal tidur teratur, rutinitas menenangkan, pengelolaan stres, dan teknik bangunkan terjadwal, serta konsultasi profesional jika frekuensi atau intensitasnya parah.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, melihat anak terbangun dengan ketakutan hebat di tengah malam tentu menjadi pengalaman yang mengkhawatirkan bagi setiap orangtua. Fenomena ini seringkali disebut sebagaiĀ night terrors, yang berbeda dengan mimpi buruk biasa. Memahami perbedaan keduanya dan bagaimana cara meresponsnya adalah kunci untuk membantu si kecil mendapatkan tidur yang lebih berkualitas.

Teror malam adalah episode ketakutan atau kepanikan intens yang terjadi selama tidur nyenyat, seringkali menyebabkan jeritan atau meronta-ronta. Biasanya terjadi pada paruh pertama malam, sekitar 2-3 jam setelah anak tertidur, selama tahap tidur non-REM (non-rapid eye movement). Anak mungkin tampak terjaga, tetapi sebenarnya masih dalam tidur nyenyak dan tidak sadar akan lingkungannya.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai teror malam, mulai dari perbedaannya dengan mimpi buruk, gejala, pemicu, hingga strategi penanganan dan pencegahan yang efektif. Dengan informasi yang tepat, Sahabat Fimela dapat lebih siap dalam membantu anak mengatasi kondisi ini dan memastikan mereka tumbuh kembang dengan optimal.

Memahami Perbedaan Night Terrors dan Mimpi Buruk

Penting sekali bagi orangtua untuk dapat membedakan antara teror malam dan mimpi buruk, sebab pendekatan penanganannya sangatlah berbeda. Teror malam (night terrors) terjadi selama tahap tidur non-REM yang dalam, membuat anak sulit dibangunkan dan tidak mengingat kejadiannya saat bangun. Anak yang mengalami teror malam mungkin berteriak, meronta, atau menunjukkan kepanikan ekstrem.

Berbeda dengan teror malam, mimpi buruk (nightmares) adalah mimpi menakutkan yang umumnya terjadi pada paruh kedua malam, saat tidur REM paling intens. Anak yang mengalami mimpi buruk cenderung terbangun sambil menangis atau merasa takut, namun mereka dapat mengingat mimpinya dan lebih mudah dihibur oleh orangtua. Mereka juga bisa kesulitan untuk kembali tidur setelahnya.

Anak yang mengalami teror malam mungkin tidak mengenali orang tua atau menyadari kehadiran mereka, bahkan bisa mencoba mendorong orang tua menjauh jika dipeluk. Setelah episode teror malam berakhir, anak biasanya akan kembali tidur dan tidak akan mengingat kejadian tersebut saat bangun. Sementara itu, anak yang mengalami mimpi buruk biasanya dapat menceritakan apa yang mereka alami.

Mengenali Gejala dan Pemicu Night Terrors pada Anak

Mengenali gejala teror malam adalah langkah awal untuk memberikan bantuan yang tepat. Anak yang mengalami teror malam mungkin tiba-tiba duduk tegak di tempat tidur, bertindak sangat kesal dan ketakutan, serta berteriak atau menjerit dalam kesusahan. Napas mereka bisa lebih cepat, detak jantung meningkat, dan mereka mungkin berkeringat atau meronta-ronta.

Beberapa anak bahkan bisa keluar dari tempat tidur dan berlarian, tanpa komunikatif dengan pengasuh. Penyebab pasti teror malam memang belum diketahui, tetapi penelitian menunjukkan bahwa ini terjadi ketika kesadaran terjebak antara tahap tidur nyenyak dan terjaga. Ada beberapa faktor yang dapat memicu atau meningkatkan kemungkinan teror malam pada anak.

Pemicu paling umum adalah kurang tidur atau kelelahan ekstrem. Selain itu, stres atau kecemasan, demam atau sakit, dan obat-obatan tertentu juga dapat memicu teror malam. Lingkungan tidur baru atau jauh dari rumah, kafein berlebihan, kandung kemih penuh, atau kamar tidur yang panas juga bisa menjadi faktor. Faktor genetik juga berperan, karena teror malam seringkali diturunkan dalam keluarga.

Gangguan tidur yang mendasari seperti obstructive sleep apnea (OSA) atau periodic limb movement disorder juga dapat memicu teror malam dengan menyebabkan terbangun singkat. Mengidentifikasi dan mengatasi pemicu ini adalah bagian penting dari strategi How to Help Your Child's Night Terrors Dreams.

Langkah Tepat Menghadapi dan Mencegah Teror Malam

Ketika anak mengalami teror malam, hal terpenting adalah tetap tenang. Teror malam bisa menakutkan bagi orangtua, tetapi anak Anda aman dan tidak dalam bahaya. Prioritaskan keselamatan anak dengan mengamankan area tidur, mengunci pintu dan jendela, serta memasang gerbang di tangga. Jangan mencoba membangunkan anak, karena ini jarang berhasil dan bisa membuat mereka bingung serta kesal.

Hiburlah anak dengan lembut; duduklah di dekatnya, bicaralah dengan suara pelan dan menenangkan, gunakan kata-kata seperti "kamu aman di rumah". Biarkan episode berjalan dengan sendirinya, karena biasanya akan berhenti dalam beberapa menit. Jika anak keluar dari tempat tidur, bimbinglah mereka kembali dengan lembut. Penting juga untuk memberitahu pengasuh lain tentang kondisi ini dan cara meresponsnya.

Untuk pencegahan, fokuslah pada kebiasaan tidur yang baik. Pastikan anak cukup tidur dengan menetapkan jadwal tidur-bangun yang teratur dan konsisten. Buat rutinitas tidur yang menenangkan, seperti membaca buku atau mandi air hangat, dan hindari paparan perangkat elektronik sebelum tidur. Kelola stres dan kecemasan anak dengan berbicara tentang apa yang mengganggu mereka.

Hindari pemicu seperti kafein berlebihan dan pastikan kamar tidur nyaman serta tenang. Jika teror malam terjadi pada waktu yang dapat diprediksi, coba teknik "bangunkan terjadwal" (scheduled awakenings) yaitu membangunkan anak 15-30 menit sebelum waktu teror yang diharapkan, menjaganya tetap terjaga selama 4-5 menit, lalu biarkan kembali tidur. Ulangi ini selama seminggu penuh. Tangani juga gangguan tidur yang mendasari dan pastikan suhu kamar sejuk.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Meskipun teror malam umumnya tidak berbahaya dan seringkali menghilang seiring bertambahnya usia anak, ada saatnya Sahabat Fimela perlu berkonsultasi dengan profesional kesehatan. Jika teror malam terjadi lebih dari sekali seminggu, sangat mengganggu jam bangun anak, atau menempatkan anak atau orang lain dalam bahaya, segera cari bantuan.

Pertimbangkan juga untuk mencari bantuan jika teror malam menyebabkan cedera, atau jika episode terjadi pada paruh kedua malam, disertai dengan ngiler, sentakan tubuh, atau kekakuan. Jika teror malam berlanjut hingga setelah pubertas, atau Anda mencurigai adanya stres, kecemasan, atau trauma yang menjadi penyebabnya, konsultasi medis sangat disarankan.

Kantuk di siang hari yang disebabkan oleh masalah tidur di malam hari, atau kekhawatiran tentang kondisi medis yang mendasari, juga merupakan alasan kuat untuk berkonsultasi. Dalam kasus yang jarang terjadi, penyedia layanan kesehatan mungkin meresepkan obat-obatan tertentu, meskipun obat-obatan jarang digunakan untuk anak-anak dalam penanganan teror malam.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading