Sukses

FimelaMom

8 Perubahan Umum Pascapersalinan pada Kulit, Tubuh, Rambut, dan Lainnya yang Wajib Sahabat Fimela Tahu

ringkasan

  • Fluktuasi hormon pascapersalinan memicu berbagai perubahan fisik seperti kerontokan rambut, masalah kulit, dan perubahan payudara.
  • Tubuh ibu baru juga mengalami transformasi internal seperti retensi berat badan dan perubahan pada vagina serta dasar panggul.
  • Selain fisik, perubahan emosional seperti 'baby blues' hingga depresi pascapersalinan juga umum terjadi dan memerlukan perhatian.

Fimela.com, Jakarta - Periode pascapersalinan adalah masa transisi signifikan bagi tubuh seorang wanita. Proses ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik dan emosional yang disebabkan oleh fluktuasi hormon serta pemulihan dari kehamilan dan persalinan. Perubahan ini dapat memengaruhi kulit, tubuh, rambut, hingga kesejahteraan mental ibu baru.

Memahami perubahan ini sangat penting agar Sahabat Fimela dapat mempersiapkan diri dan menghadapinya dengan lebih tenang. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental, tubuh seorang ibu akan melalui adaptasi luar biasa setelah melahirkan. Artikel ini akan membahas delapan perubahan umum yang sering terjadi pada kulit, tubuh, rambut, dan aspek lainnya pascapersalinan.

Setiap ibu memiliki pengalaman unik, namun beberapa perubahan umum ini seringkali menjadi bagian dari perjalanan pascapersalinan. Dengan informasi yang akurat, Sahabat Fimela bisa lebih percaya diri dalam menjalani fase penting ini. Mari kita selami lebih dalam perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada tubuh Anda setelah melahirkan.

Rambut Rontok dan Perubahan Tekstur Rambut

Salah satu perubahan yang paling sering diperhatikan adalah kerontokan rambut pascapersalinan. Selama kehamilan, kadar estrogen yang tinggi memperpanjang siklus pertumbuhan rambut, membuat rambut tampak lebih tebal dan lebat. Namun, setelah melahirkan, kadar estrogen menurun drastis, menyebabkan rambut yang seharusnya rontok selama kehamilan kini rontok secara bersamaan, seringkali dalam jumlah besar.

Fenomena ini dikenal sebagai telogen effluvium, di mana banyak rambut yang berada dalam siklus pertumbuhan memasuki fase kerontokan secara bersamaan. Kerontokan rambut pascapersalinan terutama terjadi karena perubahan hormon, seperti estrogen, selama dan setelah kehamilan. Selain kerontokan, perubahan hormonal juga dapat memengaruhi tekstur rambut, menyebabkan rambut menjadi lebih kering, keriting, atau bahkan berubah pola ikalnya.

Puncak kerontokan rambut pascapersalinan terjadi sekitar 3-6 bulan setelah melahirkan, dan dapat berlangsung hingga 12 bulan. Meskipun demikian, pola pertumbuhan rambut normal biasanya kembali dalam 6-12 bulan. Untuk mengurangi kerontokan, Sahabat Fimela bisa menggunakan sampo yang mengatasi kerontokan dan mengonsumsi makanan bergizi untuk kesehatan rambut.

Perubahan Kulit: Melasma, Jerawat, dan Kulit Kering

Perubahan hormonal yang drastis setelah melahirkan dapat menyebabkan berbagai masalah kulit. Melasma, atau yang dikenal sebagai "topeng kehamilan", adalah kondisi kulit yang ditandai dengan bercak dan bintik-bintik gelap pada wajah. Kondisi ini seringkali muncul atau memburuk pascapersalinan karena peningkatan produksi melanin.

Jerawat pascapersalinan juga umum terjadi, disebabkan oleh fluktuasi hormon yang memicu produksi minyak berlebih. Jerawat ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk komedo putih, komedo hitam, pustula, dan kista yang menyakitkan. Selain itu, banyak wanita mengalami kulit kering dan bersisik karena fluktuasi hormon dan peningkatan kebutuhan hidrasi, terutama jika menyusui.

Untuk mengatasi masalah kulit ini, Sahabat Fimela bisa menggunakan berbagai produk perawatan kulit yang aman untuk ibu menyusui, seperti pelembap, tabir surya, dan produk khusus jerawat. Penting untuk memilih produk yang tepat dan berkonsultasi dengan dokter kulit jika masalah kulit berlanjut.

Perubahan Payudara

Payudara mengalami perubahan signifikan selama dan setelah kehamilan. Beberapa hari setelah melahirkan, payudara akan membengkak dan terasa penuh karena terisi susu, yang dikenal sebagai engorgement. Perubahan ini dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan.

Perubahan payudara terkait kehamilan dapat meliputi pertumbuhan atau pembesaran, kulit gatal saat payudara tumbuh, nyeri tekan, penggelapan puting dan areola, serta pembuluh darah yang lebih gelap atau lebih menonjol di payudara. Ukuran, bentuk, dan bahkan penampilan payudara Anda mungkin terlihat berbeda setelah Anda selesai menyusui. Perubahan ini bisa bersifat permanen, terlepas dari apakah seorang wanita menyusui atau tidak.

Perubahan Vagina

Persalinan, terutama pervaginam, dapat menyebabkan perubahan pada vagina. Vagina Anda mungkin terlihat lebih lapang, bengkak, atau lebih terbuka daripada sebelum melahirkan. Ini adalah hal yang normal terjadi dan biasanya mulai membaik dalam beberapa minggu setelah persalinan, meskipun vagina tidak bisa kembali sepenuhnya ke bentuk semula.

Beberapa wanita memperhatikan bahwa mereka mengalami hot flushes dan kekeringan vagina setelah melahirkan. Kekeringan vagina juga umum terjadi karena penurunan kadar estrogen pascapersalinan, yang dapat membuat hubungan seksual terasa tidak nyaman. Selain itu, keputihan atau lokia, yaitu pendarahan pascapersalinan yang terdiri dari darah, lendir, sisa plasenta, dan lapisan jaringan rahim, juga akan terjadi selama beberapa minggu.

Untuk membantu mengencangkan otot vagina dan otot dasar panggul, Sahabat Fimela dapat melakukan senam Kegel. Penggunaan pelumas berbahan dasar air juga bisa membantu mengatasi kekeringan vagina saat berhubungan intim.

Retensi Berat Badan

Banyak wanita mengalami retensi berat badan setelah melahirkan. Enam bulan pascapersalinan, wanita mempertahankan rata-rata 11,8 pon (sekitar 5,3 kg) lebih berat daripada sebelum mereka hamil. Perubahan hormonal adalah salah satu faktor paling signifikan dalam penambahan berat badan pascapersalinan.

Hormon prolaktin, yang merangsang produksi susu, juga dapat berkontribusi pada penambahan berat badan, meningkatkan nafsu makan dan mendorong penyimpanan lemak. Kurang tidur dan stres juga dapat memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan dan metabolisme, sehingga menyulitkan penurunan berat badan.

Penting untuk diingat bahwa penurunan berat badan membutuhkan waktu dan kesabaran. Fokus pada pola makan sehat dan olahraga ringan secara bertahap dapat membantu mengembalikan berat badan seperti sebelum hamil, namun hindari diet ketat yang dapat memengaruhi nutrisi ASI.

Perubahan Emosional dan Suasana Hati

Periode pascapersalinan seringkali disertai dengan gejolak emosional. Sebagian besar ibu baru mengalami 'baby blues' pascapersalinan, yang umumnya meliputi perubahan suasana hati, tangisan, kecemasan, dan kesulitan tidur. Gejala ini biasanya dimulai dalam 2 hingga 3 hari pertama setelah melahirkan dan dapat berlangsung hingga dua minggu.

Baby blues biasanya akan mereda dengan sendirinya dan tidak memerlukan perawatan medis. Namun, jika gejala Anda berlangsung lebih lama atau lebih parah, ini bisa menjadi tanda depresi pascapersalinan (PPD). Depresi pascapersalinan jauh lebih serius dan dapat memengaruhi sekitar 10-15% wanita, memerlukan dukungan medis dan terapi.

Sahabat Fimela tidak sendiri jika mengalami perubahan suasana hati ini. Penting untuk mencari dukungan dari pasangan, keluarga, teman, atau profesional kesehatan jika perasaan sedih atau cemas berlanjut.

Kulit Kendur dan Stretch Mark

Setelah sembilan bulan kulit meregang untuk mengakomodasi pertumbuhan bayi, kulit kendur, terutama di area perut, adalah hal yang sangat umum. Kulit mungkin tampak kendur atau berkerut. Ini merupakan proses normal yang terjadi karena elastisitas kulit yang berkurang setelah peregangan ekstrem.

Selain itu, stretch mark (garis-garis peregangan) adalah perubahan kulit yang umum terjadi selama kehamilan dan dapat tetap ada pascapersalinan. Stretch mark disebabkan oleh peregangan kulit yang cepat dan perubahan hormonal. Meskipun dapat memudar seiring waktu, tidak ada jaminan akan hilang sepenuhnya. Mengoleskan minyak zaitun atau krim pelembap lainnya ke kulit perut, bokong, dan paha secara rutin dapat membantu merawat kulit.

Perubahan Dasar Panggul dan Inkontinensia Urine

Persalinan, terutama pervaginam, dapat melemahkan otot-otot dasar panggul. Otot-otot ini mendukung kandung kemih, rahim, dan usus. Kelemahan ini dapat menyebabkan inkontinensia urine, di mana wanita mengalami kebocoran urine saat batuk, bersin, atau tertawa.

Inkontinensia urine adalah masalah umum setelah melahirkan, memengaruhi sekitar satu dari tiga wanita. Penurunan kontrol kandung kemih ini disebabkan oleh kelemahan pada otot panggul yang meregang selama dan setelah kehamilan. Latihan Kegel sangat berguna untuk memperkuat area ini dan dapat membantu mendapatkan kembali kontrol urine.

Latihan dasar panggul juga dapat membantu meningkatkan aliran darah ke vagina serta mempercepat fase penyembuhan, serta mencegah infeksi vagina pasca melahirkan. Jika masalah dasar panggul berlanjut, konsultasi dengan profesional kesehatan sangat dianjurkan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading