Sukses

Health

Demam Naik Turun pada Bayi-Anak dan Panduan Mengobatinya

Fimela.com, Jakarta Demam pada bayi dan anak tak hanya bikin panik tapi juga sedih karena mendengar tangisan saat suhu badannya panas. Apalagi saat mengukur suhu tubuhnya yang membuat jantung berdebar kencang.

Naluri pertama kita jika terjadi demam pada bayi adalah langsung pergi ke dokter. Namun dalam kebanyakan kasus, inilah yang dikatakan para ahli; Ambil napas dalam-dalam dan relaks.

Tentu saja hal itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Sebab banyak orangtua memiliki fobia demam yaitu kecenderungan panik saat suhu tubuh anak melonjak.

"Banyak orangtua berpikir demam benar-benar berbahaya. Tapi sebagain besarnya tidak ada yang serius," ujar Robert W. Steele, M.D., dokter anak di RS Anak St John, Springfield, Missouri melansir dari parents.com.

Di satu sisi, demam adalah hal yang baik yang menunjukkan sistem kekebalan anak sedang melakukan tugasnya dengan melawan pilek atau infeksi, seperti dijelaskan dokter anak Michael Devpn, M.D. Saat demam, otak memerintahkan suhu tubuh untuk naik, yang pada gilirannya mengarahkan sel darah putih untuk menyerang dan menghancurkan virus dan bakteri.

Hebatnya, anak-anak sehat dari segala usia biasanya dapat mentolerir demam hingga 41 derajat celsius tanpa komplikasi. Kemungkinan suhu anak tidak akan pernah mendekati angka menakutkan tersebut.

 

Haruskah mengunjungi dokter?

Sebagian besar serangga yang menyebabkan demam seperti pilek, flu, virus perut tidak berbahaya dan dapat diobato di rumah. Tetapi sebagai orangtua kita harus melakukan bebera[a hal tergantung dari usianya;

Kurang dari 3 bulan

Jika panas di atas 40 derajat celsius maka cepat bawa ke dokter. Sebab sistem kekebalan bayi belum berkembang sempurna. Bayi rentan terhadap infeksi yang mengancam jiwa seperti meningitis bakteri dan penumonia. Dan suhu tubuh meningkat seringkali merupakan salah satu gejalanya.

Antara 3-6 bulan

Anak perlu diperiksa oleh dokter setelah demam mencapai 38 derajat celsius ke atas seperti dijelaskan Steven Shelov, MD, Penasihat Orangtua dan Pemimpin Redaksi American Academy of Pediatrics' Caring for Your Baby and Young Child.

Lebih dari 6 bulan

Anak perlu diperiksa sampai suhu tubuhnya mencapai 39. Namun jika memiliki dua atau lebih gejala berikut; batuk, sakit tenggorokan, pilek, hidung tersumbat, nyeri tubuh, sakit kepala, kedinginan, kelelahan, diare.

Gejala flu H1N1 klasik ini cenderung terjadi dalam waktu 24 jam setelah timbulnya demam. Dokter anak mungkin menyarankan meminum obat antivirus Tamiflu untuk mengurangi keparahan dan durasi gejalanya.

 

 

Perhatikan Gejala Lain

Karena demam adalah sinyal dari tubuh ada sesuatu yang salah, perhatikan gejala lain pada anak. Jika mengalami pilek dan demam ringan di bawah 38,3 derajat celsius itu biasanya terkena flu biasa, sementara jika disertai muntah dan diare mungkin menunjukkan virus perut.

Dalam kedua kasus, demam cenderung datang secara bertahap dan menghilang dalam beberapa hari. Tetapi gejala flu sering menyerang dan sangat tiba-tiba.

"Flu menyerang anak seperti satu ton batu bata. Suatu hari akan baik-baik saja, kemudian boom, hari berikutnya dia tidak bisa bangun dari tempat tidur," ujar Jason Homme, M.D., asisten profesor pediatri di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota.

Untuk anak-anak yang dianggap berisiko lebih tinggi (mereka yang berusia di bawah 5 tahun atau dengan kondisi medis kronis tertentu seperti asma dan diabetes) pengobatan mungkin diperlukan. Namun jika anak dinyatakan sehat, dokter hanya berasumsi (berdasarkan deskripisi) jika ia menderita flu dan harus istirahat di rumah sampai bebas demam selama 24 jam tanpa menggunakan penurun demam.

 

Wajib Diwaspadai

Beri tahu dokter segera jika anak mengeluh sakit tenggorokan, sakit telinga atau nyeri saat buang air kecil. Karena penyakit ini bisa menandakan radang tenggorokan, infeksi telinga atau infeksi kandung kemih yang semuanya mungkin perlu diobati antibiotik.

Kita juga harus waspada jika ia buang air lebih sedikit dari biasanya, tidak mengeluarkan air mata saat menangis, atau nampak kurang waspada dari biasanya. Meski jarang, gejala tertentu (yang disertai demam) memerlukan tindakan medis seperti sesak napas, menangis tak tertahankan, sulit bangun atau mengalami ruam yang tidak memucat saat kita menyenyentuhnya atau memiliki bintik ungu yang tampak memar.

Atau jika lidah, bibir, dan kuku membiru (pertanda dia mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen) atau lehernya kaku (kemungkinan indikator meningitis) atau sakit perut parah (bisa berarti radang usus buntu).

 

Mengobati Demam pada Balita dan Anak

Dokter anak dan penulis American Academy of Pediatric's Heading Gome With Your Newborn menjelaskan jika obat hanya akan menutupi bukan menyembuhkan. Begitu penurun demam hilang suhu anak bisa jadi naik kembali karena penyebab yang mendasarinya masih ada.

Aturan umumnya, kita harus fokus pada cara anak melihat, merasakan, dan bertindak, ketimbang hasil ukur termometer. "Jika harus memberinya obat, dia mungkin tidak membutuhkannya. Membiarkan demam anak berjalan sendirinya sebenarnya dapat membantu tubuhnya melawan infeksi yang mendasarinya," ujarnya.

Selain obat yang direkomendasikan dokter jika diperlukan, mandi air hangat atau dengan cara dilap dapat mendinginkan suhu tubuh anak sementara. Namun jangan memandikan dengan air dingin karena akan membuat mereka mengigil dan dapat meningkatkan suhu tubuh lebih tinggi setelahnya.

Simak Video Berikut

#Elevate Women 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading