Sukses

Health

Olimpiade Pertama tanpa Penonton, Ini Efek Psikologisnya bagi Para Atlet Bertanding di Olimpiade Tokyo 2020

Fimela.com, Jakarta Walaupun Olimpiade Tokyo 2020 tanpa penonton tidak berarti permainan tanpa kegembiraan, beberapa orang masih memperkirakan hal tersebut mungkin memberi efek tersendiri bagi para atlet yang bertanding. Dikarenakan kekhawatiran akan meningkatnnya kasus COVID-19, tidak boleh ada penonton di tempat dan stadion yang biasanya ramai, justru terlihat sepi dan tenang.

Ini jelas memberikan tekanan kepada para pelatih dan rekan satu tim untuk memberikan sorak sorai lebih daripada biasanya, guna mendukung para atlet yang bertanding. Panitia pertandingan telah mencoba untuk meniru gemuruh dan kegembiraan dari kerumunan yang nyata, suara penonton disesuaikan untuk setiap olahraga telah disalurkan ke stadion untuk meningkatkan suasana bagi para atlet.

Percobaan ini bisa membuat beberapa atlet lebih semangat, namun banyak juga yang melihatnya sebagai kebisingan yang mengganggu. Menurut Bruce Walker, seorang profesor psikologi dan komputasi interaktif di Institut Teknologi Georgia mengatakan bahwa atlet kemungkinan justru akan mengabaikan semua suara.

Sebagai pelatih pengkondisian mental olahraga, Roger Kirtz melihat atau mendengarnya sebagai kebisingan, karena menurutnya, suara-suara itu tidak bisa meniru kekuatan emosi dari orang-orang yang bersorak dan mendukung atlet favorit mereka. Bagi para ahli seperti Bruce dan Roger, Olimpiade Tokyo 2020 yang tanpa penonton ini memberi mereka kesempatan langkah untuk mempelajari efek penonton dan kebisingan terhadap para atlet bertanding.

Stadio memang telah kosong sejak pandemi COVID-19 terjadi, tapi ini adalah yang pertama kali terjadi di Olimpiade. Ini akan memberi para psikolog olahraga pemahaman yang lebih dalam tentang fasilitasi sosial, sebuah fenomena sosial di mana kinerja seseorang berubah ketika orang lain ada di sekitarnya.

Secara umum, atlet elit cenderung tampil lebih baik dengan penonton daripada saat sendirian. Tapi, para ahli memberi tahu bahwa tidak selalu demikian.

 

1. Mereka yang terlahir menjadi atlet lebih tertantang dengan kesunyian

Banyak atlet memang dilahirkan untuk menjadi sosok mereka saat ini, jadi bekerja lebih keras saat tidak ada penonton. Menurut Catherine Sabiston, seorang peneliti psikologi olahraga di University of Toronto, untuk para atlet ini, keramaian biasanya memberi mereka motivasi dan tujuan.

Bintang tenis Novak Djokovic pernah bicara tentang bagaimana riuhnya penonton yang membangkitkan semangatnya selama kemenangannya di Wimbledon. Namun, Novak kalah di semifinal Olimpiade Tokyo 2020.

Simone Biles yang mengundurkan diri dari Olimpiade Tokyo 2020 untuk memprioritaskan kesehatan mentalnya juga sempat bicara tentang sulitnya bertanding tanpa penonton. Penelitian juga menunjukkan bahwa isyarat visual dan dorongan yang diberikan penonton memiliki dampak signifikan secara statistik pada kemampuan atlet untuk menghasilkan kekuatan.

Selain itu, fakta bahwa bahkan anggota keluarga tidak diizinkan untuk bepergian ke Tokyo juga dinilai memiliki dampak nyata pada kinerja para atlet, menurut James Houle, psikolog olahraga utama untuk Ohio State University Athletics. Para atlet telah berlatih seumur hidup mereka untuk kompetisi ini dan tidak bisa memiliki keluarga yang hadir bersama mereka di sana itu tentu memberi dampak tersendiri.

 

2. Dampak adanya penonton tergantung pada olahraga

Secara alami, konsekuensi dari keheningan di tribun akan tergantung pada olahraga. Untuk aktivitas yang membutuhkan fokus dan kontrol motorik halus, keramaian penonton bisa menjadi gangguan yang jelas.

Atlet di cabang olahraga seperti menembak berlatih keras sejak lama untuk bisa meredam kebisingan. Tidak adanya penonton membuat tugas itu agak lebih mudah.

Namun, untuk olahraga yang membutuhkan konsentrasi, tapi juga energi besar, serta gerakan motorik aktif, seperti berenang dan angkat beban, justru membutuhkan ketenangan yang jauh lebih sedikit. Efek semangat dan motivasi dari penonton yang bersorak kemungkinan memainkan peran yang lebih besar.

Namun, perlu diketahui juga efek positif dari tidak adanya kerumunan penonton di tribun. Salah satunya adalah komunikasi yang lebih baik antara atlet individu dan pelatih.

Selain itu, wasit juga memiliki fokus dan konsentrasi lebih tinggi dalam menilai secara objektif. Intinya, penonton memang penting, tapi atlet di level ini harus memiliki cara lain untuk memompa adrenalin mereka.

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Kasur Atlet Olimpiade Tokyo 2020 Digunakan Kembali oleh Pasien COVID-19
Artikel Selanjutnya
Apresiasi Atlet Berprestasi-Pelatih Olimpiade Tokyo 2020 Diganjar Rp1,3 Miliar