Sukses

Health

Mengenal 10 Jenis Vaksin COVID-19 yang Digunakan di Indonesia

Fimela.com, Jakarta Indonesia telah menggunakan 10 jenis vaksin COVID-19 untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Kesepuluh vaksin COVID-19 tersebut sudah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM RI).

Jenis-jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di antaranya, Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, Novavax, Sputnik-V, Janssen, Convidencia, dan Zifivax. Semua jenis vaksin ini memiliki mekanisme tersendiri untuk pemberiannya kepada masyarakat. Mulai dari jumlah dosis, interval pemberian, hingga platform vaksin yang berbeda-beda.

Vaksin COVID-19 ini sudah dipastikan keamanan dan efektivitasnya sebelum dikeluarkan izin penggunaan darurat. Sehingga masyarakat bisa lebih tenang untuk segera mendapatkan vaksin COVID-19.

Fimela telah merangkum 10 jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, ada apa saja?

 

1. Sinovac

Sinovac adalah sebuah vaksin inaktivasi terhadap COVID-19 yang menstimulasi sistem kekebalan tubuh tanpa risiko menyebabkan penyakit. Setelah vaksin ini bersentuhan dengan sistem kekebalan tubuh, antibodi akan terstimulasi ehingga tubuh mampu memberikan respons terhadap infeksi dengan SARS-CoV-2 hidup.

Vaksin ini mengandung ajuvan (aluminium hidroksida), untuk memperkuat respons sistem kekebalan. Vaksin Sinovac direkomendasikan untuk diberikan dua dosis dengan masing-masing 0,5mL dan interval 2-4 minggu.

 

2. AstraZeneca

AstraZeneca adalah vaksin jenis vektor adenovirus non-replikasi untuk COVID-19. Vaksin ini mengekspresikan gen protein paku SARS-CoV-2, yang menginstruksikan sel inang untuk memproduksi protein S-antigen yang unik untuk SARS-CoV-2, sehingga tubuh dapat menghasilkan respons imun dan menyimpan informasi itu di sel imun memori. Vaksin AstraZeneca direkomendasikan untuk diberikan sebanyak dua dosis dengan masing-masing 0,5 mL. Jarak pemberian dosis pertama dan kedua adalah 8-12 minggu.

 

3. Sinopharm

Mirip dengan Sinovac, Sinopharm adalah vaksin inaktivasi terhadap COVID-19 yang menstimulasi sistem kekebalan tubuh tanpa risiko menyebabkan penyakit. Setelah vaksin inaktivasi ini bersentuhan dengan sistem kekebalan tubuh, produksi antibodi terstimulasi, sehingga tubuh siap memberikan respons terhadap infeksi dengan SARS-CoV-2 hidup.

Sebuah uji klinis fase 3 besar menunjukkan dua dosis dengan interval 21 hari memiliki efikasi 79% terhadap infeksi SARS-CoV-2 simtomatik pada 14 hari atau lebih setelah dosis kedua. Uji klinis ini tidak dirancang maupun cukup kuat untuk menunjukkan efikasi terhadap penyakit berat. Vaksin Sinopharm direkomendasikan untuk diberikan dua dosisi dengan masing-masing 0,5mL dan interval 3-4 minggu.

 

4. Moderna

Vaksin COVID-19 Moderna adalah sebuah vaksin berbasis RNA duta (messenger RNA/mRNA) untuk COVID-19. Sel inang menerima instruksi dari mRNA untuk memproduksi protein S-antigen unik SARS-CoV-2, sehingga tubuh dapat menghasilkan respons kekebalan dan menyimpan informasi itu di dalam sel imun memori.

Semua data yang dikaji mendukung kesimpulan bahwa manfaat yang diketahui dan potensial dari vaksin mRNA-1273 lebih besar dibandingkan risiko diketahui dan potensialnya. Pemberian vaksin Moderna direkomendasikan sebanyak dua dosis dengan masing-masing 0,5 mL dan interval 28 hari.

 

5. Pfizer

Vaksin buatan perusahaan Bill Gates ini adalah sebuah vaksin berbasis RNA duta (messenger RNA/mRNA) untuk COVID-19. mRNA menginstruksikan sel untuk memproduksi protein S-antigen (bagian dari protein paku (spike)) yang unik untuk SARS-CoV-2 untuk menstimulasi respons kekebalan. Dalam uji-uji klinis, efikasi pada peserta dengan atau tanpa bukti infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya dan yang menerima dosis lengkap vaksin ini (dua dosis) diperkirakan 95% dengan median masa pengamatan dua bulan. Vaksin Pfizer direkomendasikan untuk diberikan sebanyak dua dosis dengan interval 21-28 hari.

 

6. Novavax

Platform vaksin Novavax adalah Protein Sub-unit. Vaksin jenis ini diberikan dua dosis dengan masing-masing 0,5mL. Interval pemberian vaksin ini 21 hari.

7. Sputnik-V

Platform vaksin Sputnik-V adalah Non-replicating viral vector. Efek samping dari penggunaan Sputnik-V merupakan efek samping dengan tingkat keparahan ringan atau sedang seperti flu yang ditandai dengan demam, menggigil, nyeri sendi, nyeri otot, badan lemas, ketidaknyamanan, sakit kepala, hipertermia, atau reaksi lokal pada lokasi injeksi. Direkomendasikan untuk diberikan dua dosis dengan interval 21 hari.

 

8. Janssen

Platform vaksin Janssen adalah Non-replicating viral vector. Vaksin Janssen ini merupakan jenis vaksin dengan dosis tunggal sehingga hanya diberikan 1 dosis dengan 0,5mL.

9. Convidencia

Sementara itu, vaksin Convidecia juga menunjukkan reaksi ringan hingga sedang. KIPI lokal yang umum terjadi, antara lain adalah nyeri, kemerahan, dan pembengkakan, serta KIPI sistemik yang umum terjadi adalah sakit kepala, rasa lelah, nyeri otot, mengantuk, mual, muntah, demam dan diare. Mirip dengan Janssen, vaksin ini juga merupakan jenis vaksin dengan dosis tunggal, dengan dosis 1: (0,5 ml/dosis).

 

10. Zifivax

Platform vaksin Zifivax adalah Rekombinan protein sub-unit. Efek samping pemberian vaksin Zifivax antara lain timbul nyeri pada tempat suntikan, sakit kepala, kelelahan, demam, nyeri otot (myalgia), batuk, mual (nausea), diare dengan tingkat keparahan grade 1 dan 2.

Vaksin COVID-19 ini diberikan dengan dosis paling banyak, yakni tiga kali dengan masing-masing 0,5 mL. Masing-masing pemberian vaksin diberi jeda 30 hari dengan 0,5mL.

Simak video berikut ini

#elevate women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Vaksin Moderna Ditarik Beredar di Eropa Karena Tercemar Partikel Asing, Bagaimana di Indonesia?
Artikel Selanjutnya
Cek 3 Vaksin Covid-19 yang Sudah Mendapatkan Sertifakat Halal dari MUI