Sukses

Health

Diet Yoyo? Siklus Turun-Naik Berat Badan dan Risikonya bagi Tubuh

Fimela.com, Jakarta Diet yoyo sering menjadi tantangan yang dialami banyak orang ketika mencoba menurunkan berat badan dengan cepat. Kondisi ini muncul saat seseorang berhasil menurunkan berat badan melalui pola makan yang sangat ketat, namun tidak lama kemudian berat tersebut kembali naik bahkan lebih tinggi dari sebelumnya. Siklus turun dan naik yang berulang ini bukan hanya membuat seseorang merasa kecewa tetapi juga menunjukkan bahwa tubuh sedang berada dalam kondisi yang tidak stabil.

Banyak orang tidak menyadari bahwa penurunan berat badan yang dilakukan secara instan dapat memicu reaksi tubuh yang berlawanan sehingga hasilnya sulit bertahan lama. Dalam dunia kesehatan, diet yoyo tidak hanya terkait dengan angka di timbangan, tetapi juga menandakan adanya ketidakseimbangan pola hidup.

Ketika tubuh dipaksa menurunkan berat badan dengan cepat, metabolisme akan melambat sebagai cara alami untuk menghemat energi. Berdasarkan sumber dari healthline.com, saat pola makan kembali ke kebiasaan semula, tubuh cenderung menyimpan lebih banyak lemak daripada sebelumnya, yang kemudian membuat berat badan meningkat dengan cepat.

Perubahan drastis pada pola makan dan aktivitas fisik juga dapat mengganggu hormon yang berperan mengatur nafsu makan, tingkat stres, dan penyimpanan lemak. Siklus seperti ini tidak hanya melelahkan secara emosional, tetapi juga menambah beban kerja pada organ tubuh sehingga meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Diet yoyo dapat meningkatkan peradangan, memperburuk kadar kolesterol, dan memengaruhi sensitivitas insulin.

Memahami risiko dari pola diet yoyo sangat penting agar kita tidak terjebak dalam strategi penurunan berat badan yang tidak sehat. Daripada mengejar hasil yang cepat, pendekatan yang bertahap dan konsisten jauh lebih aman untuk kesehatan jangka panjang.

Bagaimana siklus diet yoyo terbentuk, apa saja efeknya terhadap tubuh, dan langkah yang lebih baik untuk mengelola berat badan. Dengan memahami prosesnya, diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan pola makan serta terhindar dari risiko yang muncul akibat naik turunnya berat badan yang terjadi berulang kali.

1. Mengapa diet yoyo bisa terjadi?

Diet yoyo muncul karena tubuh menilai diet ketat sebagai situasi kekurangan energi. Saat asupan kalori dipangkas drastis, tubuh menurunkan laju metabolisme untuk mempertahankan energi yang tersisa. Ketika pola makan kembali normal, metabolisme yang sudah melambat membuat tubuh lebih mudah menyimpan cadangan lemak. Proses inilah yang akhirnya menyebabkan berat badan naik lebih cepat daripada turunnya.

2. Dampak diet yoyo untuk kesehatan

a. Metabolisme menurun

Pembatasan makanan yang ekstrem dapat menurunkan metabolisme, sehingga tubuh menjadi kurang efisien dalam membakar kalori.

b. Risiko gangguan metabolik meningkat

Diet yoyo berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit seperti diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, hipertensi, dan masalah kesehatan jantung.

c. Peradangan meningkat

Perubahan berat badan yang drastis dan berulang dapat memicu peradangan kronis yang berdampak pada kesehatan organ dalam.

d. Dampak pada kesehatan mental

Fluktuasi berat badan sering menimbulkan stres, rasa kecewa, dan penurunan rasa percaya diri. Banyak orang merasa gagal karena tidak bisa mempertahankan hasil dietnya.

e. Perubahan komposisi tubuh

Berat yang naik kembali umumnya berupa lemak, bukan otot. Hal ini membuat komposisi tubuh menjadi kurang seimbang meski angka di timbangan terlihat sama.

3. Ciri-ciri mengalami diet yoyo

  • Penurunan berat badan terjadi cepat tetapi tidak bertahan lama
  • Sering mencoba diet ketat atau metode diet berbeda-beda
  • Mudah lapar atau cepat lelah saat menjalani diet
  • Berat badan naik lebih tinggi daripada sebelum diet
  • Mengalami perubahan mood dan stres terkait proses diet

4. Cara menghindari diet yoyo

a. Terapkan pola makan yang seimbang

Pilih makanan bernutrisi lengkap tanpa pembatasan ekstrem. Pastikan kebutuhan karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta sayur dan buah tetap terpenuhi.

b. Lakukan penurunan berat badan secara bertahap

Lebih aman menurunkan berat badan perlahan, sekitar 0,5 hingga 1 kilogram per minggu, agar tubuh dapat beradaptasi.

c. Bangun kebiasaan jangka panjang

Perbaiki pola hidup seperti rajin bergerak, tidur cukup, dan mengelola stres agar hasilnya lebih stabil.

d. Hindari diet instan

Diet yang menjanjikan penurunan berat badan cepat biasanya tidak realistis dan berpotensi memicu siklus diet yoyo.

e. Konsisten menjalani gaya hidup sehat

Kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten jauh lebih efektif dibanding perubahan besar yang sulit dipertahankan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading