Sukses

Health

Terjebak Kekerasan dalam Pacaran? Ini Cara Menolong Temanmu

ringkasan

  • Kekerasan dalam pacaran (KDP) mencakup berbagai bentuk kekerasan seperti fisik, emosional, dan seksual, dengan data 2016 menunjukkan 42,7% perempuan belum menikah mengalami kekerasan fisik atau seksual, seringkali dari pacar
  • Mengenali tanda-tanda KDP seperti kontrol berlebihan, kekerasan verbal, fisik, seksual, dan perubahan perilaku korban adalah langkah awal penting untuk memberikan bantuan.
  • Untuk menolong, dekati korban dengan lembut, jadilah pendengar yang baik tanpa menghakimi, fokus pada kekuatan mereka, tawarkan bantuan spesifik, dan dorong mereka untuk mencari bantuan profesional dari lembaga seperti SAPA 1

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, kekerasan dalam pacaran (KDP) atau dating violence adalah perilaku kekerasan yang terjadi dalam hubungan romantis, tidak hanya terbatas pada pasangan heteroseksual, tetapi juga dapat menimpa siapa saja. Bentuk kekerasan ini bisa sangat beragam, mencakup kekerasan fisik, seksual, emosional, finansial, hingga psikologis yang seringkali tidak disadari korbannya.

Melihat teman atau orang terdekat terjebak dalam KDP bisa sangat menyakitkan dan membingungkan, apalagi jika korban merasa malu atau tidak menyadari situasinya. Data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) tahun 2016 menunjukkan bahwa tingkat kekerasan fisik maupun seksual yang dialami perempuan belum menikah mencapai 42,7%. Ironisnya, dari 10.847 pelaku kekerasan, sebanyak 2.090 pelaku merupakan pacar atau teman korban.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana cara menolong orang yang terjebak dalam kekerasan dalam pacaran. Dukungan yang tepat dapat menjadi kunci bagi mereka untuk keluar dari lingkaran kekerasan dan memulai proses pemulihan.

Mengenali Tanda-tanda Kekerasan dalam Pacaran

Mampu mengidentifikasi tanda-tanda KDP adalah langkah awal yang krusial, sebab korban seringkali tidak menyadari atau enggan mengungkapkan apa yang mereka alami. Kekerasan dalam pacaran merupakan pola perilaku koersif, mengintimidasi, atau manipulatif yang bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan dan kontrol atas pasangan.

Tanda-tanda umum kekerasan ini meliputi kontrol dan kecemburuan berlebihan, seperti memeriksa ponsel tanpa izin, membatasi kontak dengan teman atau keluarga, serta kecemburuan ekstrem. Pelaku mungkin juga menuntut balasan cepat untuk pesan atau muncul tanpa pemberitahuan di tempat pasangan berada, menunjukkan perilaku posesif yang tidak sehat.

Selain itu, kekerasan verbal dan emosional seringkali muncul dalam bentuk menghina, merendahkan, atau mempermalukan pasangan, bahkan di depan umum. Perubahan suasana hati yang drastis, menyalahkan korban atas tindakan kekerasan, atau membuat pasangan merasa 'gila' juga merupakan indikasi kuat. Kekerasan fisik seperti memukul, menendang, atau tindakan lain yang menyebabkan cedera fisik juga menjadi tanda yang jelas. Tak ketinggalan, kekerasan seksual berupa pemaksaan aktivitas seksual yang tidak diinginkan adalah bentuk KDP yang serius.

Perubahan perilaku pada korban juga dapat menjadi sinyal, seperti menarik diri dari pergaulan, perubahan penampilan fisik untuk menutupi luka, atau perubahan suasana hati dan perilaku yang drastis. Korban mungkin terlihat pasif, patuh, atau terlalu sibuk menyenangkan pasangannya, bahkan membuat alasan untuk perilaku pelaku karena rasa takut.

Langkah Tepat Mendekati dan Memberikan Dukungan

Mendekati seseorang yang terjebak dalam KDP memerlukan kehati-hatian, kesabaran, dan empati yang tinggi. Sahabat Fimela dapat memulai percakapan dengan lembut dan pribadi, memilih waktu serta tempat yang aman dan rahasia untuk berbicara. Ungkapkan kekhawatiran Anda secara positif, misalnya, "Aku merindukanmu!" sebelum menyampaikan keprihatinan Anda dengan tenang dan hormat, seperti, "Aku melihat cara dia menyuruhmu diam, apakah itu sering terjadi?"

Jadilah pendengar yang baik dan tidak menghakimi, biarkan mereka bercerita tanpa menyela atau memberikan nasihat yang tidak diminta. Validasi perasaan mereka dan yakinkan bahwa mereka tidak sendirian, serta bahwa kekerasan itu bukan salah mereka. Bantu mereka memahami bahwa hubungan yang sehat tidak seharusnya seperti itu dan mereka berhak diperlakukan dengan baik.

Fokuslah pada kekuatan korban, bantu teman Anda menyadari potensi dan keterampilan yang mereka miliki. Ingatkan mereka bahwa mereka pantas mendapatkan kehidupan yang bebas dari kekerasan, dan bantu membangun kembali kepercayaan diri mereka yang mungkin telah terkikis.

Tawarkan bantuan spesifik, seperti menjadi teman curhat, membantu mencari informasi, atau bahkan menawarkan tempat tinggal sementara jika aman. Tanyakan jenis dukungan apa yang mereka butuhkan atau inginkan, dan tawarkan untuk membantu melakukan panggilan telepon atau menjadwalkan janji.

Dorong mereka untuk mencari bantuan profesional dari pihak lain seperti guru BK, psikolog, dokter, polisi, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM). Hubungkan mereka dengan orang-orang terlatih seperti konselor atau hotline kekerasan.

Hal-hal yang Perlu Dihindari dan Perencanaan Keamanan

Dalam upaya membantu, ada beberapa tindakan yang sebaiknya dihindari agar tidak memperburuk situasi atau membuat korban semakin menarik diri. Yang terpenting, jangan pernah menyalahkan korban, mengkritik, atau membuat mereka merasa bersalah atas apa yang terjadi. Hindari pertanyaan seperti "Mengapa kamu membiarkan itu terjadi?" karena pelaku sepenuhnya bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukannya.

Jangan memaksa atau memberikan ultimatum kepada korban untuk meninggalkan hubungan atau mengambil tindakan tertentu, karena hal ini dapat membuat mereka semakin terisolasi. Hormati keputusan mereka, meskipun Anda tidak setuju. Hindari juga menghakimi pelaku di depan korban dan jangan mencoba mengambil alih situasi dengan menghubungi pelaku atau memposting tentang hubungan tersebut di media sosial, karena ini dapat membahayakan teman Anda.

Penting untuk selalu menjaga privasi dan keamanan. Berhati-hatilah dalam bersikap atau berbicara, karena pelaku mungkin memantau pesan pribadi atau percakapan. Selalu tanyakan, "Apakah ini waktu yang tepat untuk berbicara?" jika Anda menelepon.

Perencanaan keamanan (safety planning) adalah rencana praktis dan personal untuk meningkatkan keselamatan seseorang, baik saat masih dalam situasi kekerasan, bersiap untuk pergi, atau setelah meninggalkannya. Waktu paling berbahaya bagi korban seringkali adalah saat mereka meninggalkan pelaku atau setelahnya. Elemen pentingnya meliputi:

  • Selama Insiden Kekerasan: Pergi ke area yang memiliki jalan keluar, bukan kamar mandi atau dapur. Tetap di ruangan dengan telepon, hubungi nomor darurat jika memungkinkan. Ketahui rute pelarian dan siapkan tas darurat. Buat kata sandi atau sinyal dengan orang terdekat untuk meminta bantuan.
  • Saat Bersiap untuk Pergi: Siapkan tempat yang aman untuk tinggal dan hubungi program layanan korban kekerasan untuk informasi penampungan. Simpan alamat dan nomor telepon penting. Temukan seseorang yang Anda percaya untuk menyimpan uang, kunci cadangan, salinan dokumen penting, dan pakaian. Buka rekening tabungan atas nama sendiri dan sisihkan dokumen penting seperti akta kelahiran, kartu jaminan sosial, dan dokumen keuangan.
  • Pertimbangan Tambahan: Dapatkan ponsel baru, ubah rutinitas, ubah kunci, dan pasang sistem keamanan. Tentukan cara untuk menjaga anak-anak tetap aman dan buat rencana ke mana harus pergi jika terjadi insiden. Pertimbangkan menghubungi organisasi kekerasan dalam rumah tangga setempat untuk membantu membuat rencana keamanan.

Sumber Daya dan Bantuan Profesional di Indonesia

Sahabat Fimela, terdapat banyak organisasi dan layanan yang dapat memberikan dukungan serta bantuan kepada korban KDP di Indonesia. Salah satu yang paling utama adalah SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Layanan ini menyediakan pengaduan untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Anda bisa melaporkan kejadian kekerasan melalui telepon ke 129, WhatsApp ke nomor 08-111-129-129, atau mengisi formulir pengaduan online. Layanan SAPA 129 bersifat rahasia dan tidak dipungut biaya, serta menyediakan penerimaan aduan, pengelolaan kasus, penjangkauan korban, pendampingan, mediasi, hingga penempatan korban di rumah aman.

Selain SAPA 129, ada juga berbagai lembaga lain yang dapat dihubungi:

  • Komnas Perempuan: Menyediakan layanan pengaduan, advokasi, dan rujukan kasus kekerasan terhadap perempuan.
  • LBH APIK Indonesia: Memberikan bantuan hukum bagi perempuan korban kekerasan.
  • Yayasan Pulih: Menawarkan konseling psikologis dan pendampingan trauma.
  • UPTD PPA / P2TP2A: Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak atau Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, menyediakan layanan pengaduan, konsultasi, dan pendampingan.
  • TePSA (Telepon Sahabat Anak) Kementerian Sosial: Layanan 24 jam untuk pengaduan dan perlindungan anak di 1500-771.

Membantu seseorang yang terjebak dalam kekerasan dalam pacaran adalah proses yang membutuhkan kesabaran, empati, dan pemahaman yang mendalam. Dengan mengenali tanda-tanda, memberikan dukungan tanpa menghakimi, menghindari tindakan yang merugikan, membantu dalam perencanaan keamanan, dan menghubungkan mereka dengan sumber daya profesional, Anda dapat menjadi bagian penting dari perjalanan mereka menuju keselamatan dan pemulihan. Ingatlah bahwa Anda tidak perlu menjadi ahli, tetapi kehadiran dan dukungan Anda sangat berarti bagi mereka.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading