Sukses

Info

9 Penyebab Rumah Bau Meski Sudah Dipel dan Cara Mengatasinya

Fimela.com, Jakarta - Mengepel lantai merupakan salah satu rutinitas pembersihan rumah yang bertujuan untuk menciptakan suasana hunian yang bersih, segar, dan higienis. Namun, tidak jarang pemilik rumah justru dihadapkan pada aroma apek, asam, atau tak sedap yang merebak sesaat setelah lantai selesai dipel.

Fenomena mengecewakan ini tentu memicu keputusasaan karena kerja keras membersihkan rumah seolah sia-sia. Banyak yang mengira bahwa masalah terletak pada jenis karbol yang kurang wangi, padahal akar permasalahannya kerap berasal dari mikroorganisme, reaksi kimia bumbu pembersih, hingga area yang terlewatkan.

Artikel ini akan membedah secara mendalam berbagai penyebab rumah bau meski sudah dipel berdasarkan tinjauan sanitasi dan mikrobiologi, serta memberikan solusi praktis agar lantai hunian Anda kembali harum dan bebas kuman.

1. Kain Pel yang Kotor dan Menjadi Sarang Bakteri

Penggunaan alat pel yang kotor atau tidak dicuci dengan benar merupakan penyebab utama aroma tak sedap menyebar ke seluruh permukaan lantai. Serat kain pel yang lembap dan tersimpan dalam kondisi basah adalah media berkembang biak yang sangat ideal bagi bakteri, jamur, serta kapang (mildew).

Ketika kain pel kotor tersebut digunakan kembali, Anda sebenarnya tidak sedang membersihkan lantai, melainkan meratakan kembali jutaan koloni mikroorganisme dan residu busuk ke atas permukaan keramik. Akibatnya, saat air menguap, yang tersisa adalah bau asam atau bau apek yang menyengat.

2. Penggunaan Air Pel yang Tidak Diganti Secara Berkala

Memakai satu ember air yang sama untuk mengepel seluruh ruangan rumah adalah kebiasaan keliru yang sering diabaikan. Seiring berjalannya proses mengepel, air di dalam ember akan dengan cepat tertimbun oleh kotoran, debu, minyak, dan kuman yang terangkat dari area sebelumnya.

Mengepel ruangan berikutnya menggunakan air yang sudah keruh dan tercemar sama saja dengan memindahkan kotoran dari satu kamar ke kamar lainnya. Pastikan untuk membilas kain pel dan mengganti air di dalam ember secara berkala setiap kali air mulai tampak keruh.

3. Residu Pembersih Lantai yang Terlalu Banyak (Overdosis Detergen)

Banyak orang beranggapan bahwa semakin banyak porsi cairan pembersih lantai yang dituangkan, maka lantai akan semakin harum dan bersih. Padahal, penggunaan detergen secara berlebihan meninggalkan lapisan sisa (film residue) yang lengket di atas permukaan lantai.

Lapisan sisa kimia yang tertinggal ini bertindak seperti magnet bagi serpihan minyak, ketombe hewan peliharaan, dan debu. Seiring berjalannya waktu dan proses pengeringan, lapisan lengket tersebut mengalami oksidasi dan menjadi tempat bakteri berkembang biak, memicu aroma pengap atau tengik.

4. Kelembapan Berlebih dan Pengeringan Lantai yang Lambat

Lantai yang dibiarkan basah terlalu lama akibat tidak dikeringkan secara optimal menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan spora jamur. Masalah ini paling sering terjadi pada lantai keramik yang memiliki nat (grout lines) berpori.

Kurangnya sirkulasi udara atau tingginya kelembapan ruangan memperlambat proses penguapan air di celah-celah nat. Air yang terperangkap ini kemudian berinteraksi dengan mikroorganisme dan menghasilkan aroma mengapung khas ruangan lembap yang sangat mengganggu.

5. Reaktivasi Kristal Asam Urat dari Urine Hewan Peliharaan

Bagi pemilik kucing atau anjing, lantai rumah kerap menyimpan sisa kotoran anabul yang tak kasat mata. Saat bekas kencing hewan mengering di atas keramik atau nat, kandungan asam urat (uric acid) akan mengkristal dan menjadi tidak berbau untuk sementara waktu.

Namun, begitu pel yang basah menyentuh permukaan tersebut, air akan mereaktivasi kristal asam urat yang dormant. Reaksi kimia ini seketika melepaskan kembali aroma gas amonia dan bau khas kencing hewan yang tajam ke seluruh penjuru ruangan.

6. Kebocoran dan Jamur Tersembunyi di Bawah Lantai atau Dinding

Kadang kala, sumber bau yang menyengat setelah lantai dipel sama sekali tidak berasal dari permukaan lantai itu sendiri. Adanya kebocoran pipa saluran air yang tersembunyi di balik dinding atau di bawah fondasi ubin menciptakan kelembapan bawah tanah.

Proses pengepelan yang menambah kelembapan udara secara sementara memicu penguapan spora jamur dari area tersembunyi tersebut ke udara bebas, sehingga aroma lapuk dari struktur bangunan yang basah makin tercium jelas.

7. Kain Soft Furnishing yang Menyerap Bau Lama

Usaha membersihkan lantai keras tidak akan membuang aroma bau jika perabot berbahan kain di sekitarnya dibiarkan kotor. Karpet, sofa kain, gorden, dan alas kaki merupakan material berpori yang sangat efektif menyerap dan menyimpan bau lingkungan.

Ketika Anda mengepel dan meningkatkan kelembapan udara ruangan secara singkat, molekul bau yang terperangkap di dalam serat karpet atau sofa dapat terlepas kembali ke udara, menciptakan ilusi seolah-olah lantai yang baru dipel yang memancarkan bau busuk tersebut.

8. Masalah Kualitas Air Keran yang Digunakan

Kualitas air yang mengalir dari keran rumah Anda memegang peranan penting dalam hasil akhir kebersihan lantai. Air tanah yang kaya akan kandungan mineral (air sadah) atau tercemar limbah organik dapat membawa mikroba dan alga yang tak terlihat.

Bakteri anaerob yang ada pada air tercemar dapat memproduksi gas hidrogen sulfida saat mengering di lantai lembap. Reaksi ini menjadi alasan mengapa lantai kadang mengeluarkan aroma amis atau bau seperti telur busuk setelah selesai dipel.

9. Kerusakan Nat dan Ubin yang Tidak Tersegel (Unsealed Grout)

Nat lantai keramik berbahan dasar semen pada dasarnya memiliki sifat sangat berpori jika tidak dilapisi pelindung (grout sealer) secara berkala. Air pel kotor bersama bakteri dan residu sabun dapat meresap jauh ke dalam struktur nat keramik.

Pembersihan permukaan keramik secara biasa tidak mampu menjangkau kotoran yang terperangkap di kedalaman nat tersebut, sehingga bau busuk akan terus memancar dari dalam sel nat setiap kali terkena kelembapan baru.

Pertanyaan Umum Seputar Penyebab Rumah Bau Meski Sudah Dipel

Q: Mengapa lantai mengeluarkan bau seperti telur busuk setelah dipel?

A: Bau mirip telur busuk umumnya disebabkan oleh aktivitas bakteri anaerob yang memproduksi gas hidrogen sulfida ($H_2S$). Bakteri ini biasanya tumbuh subur di kain pel yang lembap dan kotor atau berasal dari kualitas air keran yang tercemar.

Q: Bagaimana cara menghilangkan bau kencing hewan yang muncul lagi saat lantai dipel?

A: Air biasa tidak bisa memecah kristal asam urat dari kotoran hewan. Gunakan pembersih enzim khusus (enzymatic cleaner) untuk memecah senyawa asam urat pada nat atau ubin sebelum melakukan pengepelan rutin.

Q: Seberapa sering kain pel harus dicuci dan diganti?

A: Kain pel harus dibilas hingga bersih dan dikeringkan di bawah sinar matahari langsung setiap kali selesai digunakan. Jika menggunakan kain pel serat mikro, cuci dengan air panas secara berkala, dan gantilah kepala pel setiap 3 hingga 6 bulan sekali.

Q: Bolehkah mencampur cuka ke dalam air pel untuk menghilangkan bau?

A: Cuka putih sangat efektif menetralkan bau dan memotong residu sabun pada lantai keramik atau vinil. Namun, hindari penggunaan cuka pada lantai batu alam seperti marmer dan granit karena sifat asamnya dapat merusak lapisan permukaannya.

Q: Mengapa lantai terasa lengket dan berbau amis setelah dipel?

A: Lantai lengket dan berbau disebabkan oleh penggunaan cairan pembersih lantai yang terlalu pekat atau tidak dibilas. Sisa sabun yang tertinggal akan menangkap debu dan kotoran, lalu teroksidasi saat mengering sehingga memicu bau amis.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading