KAPANLAGI NETWORK
MORE

Leonardo Kamilius, Hapus Kemiskinan dengan Koperasi Kasih Indonesia

Selasa, 24 Juli 2012 07:59 Oleh: Fimela Editor
1/3

Lulus dari Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UI dengan gelar cumlaude mendekatkan Leon pada pekerjaan impiannya. Setelah bersaing dengan 69 lulusan terbaik UI, ITB, dan UGM, Leon berhasil jadi satu-satunya yang diterima bekerja di McKinsey, perusahaan konsultan manajemen kelas dunia yang terkemuka. Setahun bekerja, ia bahkan langsung dipromosikan sebagai business analyst. Tapi, justru itu yang membuat Leon merasa jenuh. “Setelah 15 bulan bekerja, saya ingin break sebentar, kebetulan terjadi gempa di Padang tahun 2009. Saya ingin membantu di sana. Sejak kuliah saya memang sudah tahu suatu hari akan menolong orang lain, tapi saya ingin lebih dulu fokus mengembangkan diri, jaringan, dan kondisi keuangan sampai benar-benar siap. Saya pikir, di usia 40 tahun, saya baru akan memulainya,” tutur Leon.

Leonardo Kamilius dan para anggota KKI

Dikeluarkan dari perusahaan impian…

Situasi di Padang-lah yang akhirnya membuat Leon berubah pikiran. “Di sana saya mengalami kondisi yang berbeda 180° dengan saat saya bekerja. Tapi, di sana saya justru merasa lebih bahagia dan puas. Kalau kebahagiaan identik dengan uang, saya malah kehilangan gaji karena cuti tanpa dibayar selama 2 minggu. Menariknya, saya baru sadar bahwa saya lebih bersemangat bekerja di sini. Mungkin memang itu passion saya. Ada hal lain yang saya kejar selain uang,” lanjut Leon. Leon kembali bekerja di McKinsey selama setahun, walaupun mulai berpikir untuk keluar dan mendirikan Non-Governmental Organization (NGO), “Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak langsung keluar, yang paling utama adalah saya tidak berani. Saya bukan berasal dari keluarga berkecukupan. Saya hidup dan menikah dengan penghasilan saya sendiri, jadi khawatir dong, kalau saya tiba-tiba tidak punya penghasilan. Kedua, perusahaan itu adalah perusahaan impian saya.”

Leon tetap tak berani memutuskan keluar, sampai akhirnya justru ia yang dikeluarkan dari perusahaan. Ia kembali bercerita, “Saya sudah tak bersemangat di sana, sehingga kinerja saya menurun. Di McKinsey selalu ada evaluasi kerja tiap 6 bulan, dan kalau 2 kali evaluasi hasilnya tidak bagus, kita harus keluar. Waktu itu evaluasi kerja pertama saya tidak bagus, lalu evaluasi kedua membaik. Tapi, saya sempat mengatakan pada mentor bahwa saya sudah tak bersemangat dengan pekerjaan saya, dan ternyata itu mempengaruhi penilaian. Mereka meminta saya mengejar apa yang saya mau, jadi saya pun dikeluarkan. Saya tidak malu mengakuinya, karena kalau pada waktu itu saya tidak dikeluarkan, mungkin saya tidak akan ada di jalan ini.”

Komentar Anda