Sukses

Lifestyle

Setelah Berhijab, Banyak Kebaikan Kualami dan Jodoh Datang Menghampiri

Kisah salah satu sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Stop Tanya Kapan ini mungkin juga pernah dialami oleh sejumlah wanita lain. Soal berhijab dan perubahan yang terjadi ketika akhirnya mengenakannya.

***



"Kapan kamu mau berhijab, menutup aurat kamu, Nak?" Itu pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di kepala saat aku sudah mulai akil baligh (pubertas). Iya, mama selalu menanyakan perihal menutup aurat setiap waktu. Rasanya aku mau menghindar saja kalau harus tiap bertemu mama, atau memilih ngekos di dekat kampus. Tapi itu pasti tidak akan pernah terwujud, pasti mereka tidak mengizinkanku untuk tinggal jauh dari mereka.

Setiap kali mama bertanya, "Kamu kapan berhijab?" Aku selalu menjawab, "Ya, Mama. Aku akan mengenakan hijab setelah aku menikah nanti, seperti Mama dulu." Dalam pikirku apa mama tidak ada rasa bosan menanyaiku pertanyaan yang itu itu aja. Sampai suatu waktu mama menanyakan kembali dengan pertanyaan yang menyentuh hatiku.

"Nak, kapan kamu berhijab? Apa kamu yakin umurmu sampai pada hari pernikahan kelak? Kita hanyalah manusia, yang tidak akan pernah mengetahui sampai kapan akan dicabut nyawanya. Lalu, kalau kamu meninggal dengan keadaan tidak berhijab, bagaimana dengan kamu, bagaimana dengan orang tua mu nanti, apa kamu tidak kasihan dengan kami yang akan menanggung dosa-dosa kamu selama tidak berhijab?"

Aku sangat menyayangi kedua orang tuaku./Copyright pixabay.com

Seperti disambar petir di siang bolong, aku tertegun tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku sangat menyayangi kedua orang tuaku, tapi jujur, aku belum siap untuk menutup aurat, baik secara fisik dan mental. Biarlah aku berhijab bila sudah dapat hidayah. Tapi, teman-temanku di perguruan tinggi rata-rata mengenakan hijab. Hal ini seakan mendorongku untuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Dibuktikan dengan aku siap berhijab di semester dua. Teman-temanku juga kaget saat perubahan pakaianku waktu awal semester, tetapi mereka juga mendukungku untuk tetap istiqomah dijalan-Nya, betapa bersyukurnya aku dikelilingi oleh pergaulan yang positif di zaman yang modern ini.

Alangkah bahagianya orang tuaku waktu mengetahui aku sudah berhijab. Kedua orang tuaku selalu memujiku setelah berhijab, "Nak, kamu sangat cantik mengenakan hijab seperti itu, Mama dan Papamu bangga punya anak yang Inshaallah sholehah sepertimu." Sebelumnya aku belum menceritakan kalau aku ini anak satu satunya alias anak tunggal. Jadi semua keinginan dan cita-cita orang tuaku selalu ada di pundakku. Maka dari itu aku selalu ingin membuat mereka tersenyum, dan bangga mempunyai anak sepertiku.

Berhijab jadi keputusan terbaikku./Copyright pixabay.com

Pada akhirnya, keajaiban itu datang, kebaikan-kebaikan datang dengan sendirinya, seiring aku berhijab. Walaupun dulu sebelum berhijab, aku selalu mengenakan pakaian yang sewajarnya, tidak terbuka ataupun membentuk lekuk badan. Akan tetapi mata lelaki yang membuatku risih ketika berjalan sendirian, setelah aku berhijab, alhamdulillah, pandangan seperti itu berkurang bahkan tidak ada lagi, lebih sopan dan santun, segan dengan perempuan yang berhijab.

Sampai pada jodoh pun berdatangan, bukan lagi laki-laki seperti dulu sebelum berhijab, pria yang datang memperkenalkan diri pun juga sholeh dan taat agama. Dalam hati aku menyesal, kenapa aku tidak dari dulu berhijab? Kenapa aku baru menyadari akan janji Allah untuk umat-Nya yang menaati perintah-Nya? Padahal dengan kita menutupi aurat saja, niscaya kebaikan-kebaikan juga akan menghampiri. MashaAllah.

Pesan aku untuk kalian perempuan muslim dan belum mengenakan hijab, jangan sampai orang tersayangmu, terlebih ibumu menanyakan dan selalu mengingatkan kamu perihal, "Kapan kamu mau berhijab?" Karena menutupi aurat bukan dari menutupi hati dulu, itu perintah-Nya yang mesti ditaati. Jangan banyak alasan untuk menunda memulai kehidupan yang lebih baik. Sungguh, percayalah akan kebesaran Allah, maka kamu akan terpana dengan keajaiban yang tidak terduga.

(vem/nda)
Loading
Artikel Selanjutnya
Terpaksa Kuhindari Banyak Orang, Sebab Aku Lelah Ditanya Soal Momongan
Artikel Selanjutnya
Kenapa Belum Menikah Juga? Karena Kondisiku Berbeda dari Wanita ''Normal''