Sukses

Lifestyle

Rindu Hadir karena Ada Kenangan Tersimpan dalam Ingatan

Semua manusia  di dunia ini sama. Sama-sama mempunyai kekurangan dan kelebihan, sekalipun seorang raja atau ratu dari sebuah kerajaan yang amat sejahtera. Tidak hanya manusia, bahkan sebuah hubungan pun pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, seperti halnya sebuah keluarga. Keluarga itu bermacam-macam jenisnya, saya mempunyai keluarga yang tentram, damai, dan  lengkap. Tapi itu dulu.

Saya ingat, dulu saya terlahir dari keluarga yang harmonis dan utuh. Saya terus tumbuh setiap harinya dengan tawa bahagia yang menyelimuti, saya ingat waktu kecil dulu, saya terus merangkak menuju tempat di mana Ayah menunggu di sisi sana dengan tangan yang sudah sigap menolong jika saya hendak terjatuh.

Saya ingat, ketika Ayah selalu memangku saya dalam gendongan ketika Ibu sibuk membersihkan rumah. Saya ingat, ketika Ayah selalu menyisihkan waktu untuk mengajak saya bermain sambil belajar. Tapi apa Ayah masih ingat kapan terakhir kali kegiatan-kegiatan seperti tadi kita jalankan? Saya tidak yakin Ayah masih ingat, tapi saya masih ingat jelas kapan terakhir kali kegiatan itu berjalan. Sembilan hari sebelum Ayah dan Ibu memutuskan untuk memilih jalan masing-masing, itu terakhir kalinya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Saya tidak menyalahkan siapapun atas hancurnya keluarga kami. Saya hanya kecewa saja pada diri ini yang terlalu memiliki sifat iri hati dan selalu berandai-andai. Izinkan saya menyampaikan keluh kesah ini, Ayah. Apa pernah Ayah salat berjamaah dipimpin oleh Kakek? Bagaimana rasanya beribadah dipimpin oleh Ayah dari Ayahmu sendiri? Tentunya bahagia, bukan?

Apa kau tahu Ayah, saat guruku berkata, “Bersyukurlah kalian yang pernah merasakan salat berjamaah bersama keluarga. Di luaran sana banyak orang yang tidak bisa atau tidak sempat melakukannya.” Sungguh, air mata ini terus mendesak keluar kala beliau mengatakannya. Saya tidak pernah seperti mereka, karena kita berpisah jauh sebelum aku mengerti masalahnya. Izinkan saya menjadi makmum dalam salatmu walau hanya satu kali.

Dulu saya pernah berpikir, jika tidak ada Ayah di sisi sana siapa yang akan menolong saya ketika jatuh? Siapa yang akan menemani saya ketika Ibu sibuk? Siapa yang akan mengajak saya bermain jika saya menutup diri dari pergaulan luar? Tapi itu pertanyaan yang lalu, karena sekarang takdir telah menyadarkan saya dan semesta telah menguatkan saya, bahwa ada hikmah di balik sebuah kejadian.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Mungkin dari sepenggal kisah ini saya bisa menyimpulkan bahwa masalah bisa mendewasakan saya dalam berpikir, kejadian bisa memberikan pengalaman dalam hidup, dan kenangan dapat menyisakan rindu di setiap kali mengingatnya.

Percayalah, semua kenangan yang saya ingat bukan sekadar pengingat, tapi sebegai pertanda bahwa saya rindu. Jangan lenyapkan rasa cinta Ayah kepadaku, karena Ayah adalah cinta pertama anak gadisnya dan sampai sekarang pun, anak gadismu ini masih menempatkan Ayah sebagai cinta pertamanya.

Semoga rindu ini menemukan titik temu, hingga sampai pada satu tempat, di mana kita sepakat untuk kembali berempat, aku, Ibu, Ayah dan lembaran tawa yang dinanti untuk didapat.

Tasikmalaya, 25 November 2017

 



(vem/nda)
Loading