Sukses

Lifestyle

Kasus Pelecehan di Sekolah Terjadi Lagi, Apa Penyebabnya?

Fimela.com, Jakarta Penulis: Gabriel Widiasta

Mempersiapkan masa depan untuk anak tentu menjadi penting bagi orang tua. Salah satunya dengan memilih sekolah atau institusi pendidikan terbaik sebagai tempat anak belajar, tumbuh dan berinteraksi dengan orang selain keluarga. Beberapa sekolah atau institusi pendidikan mungkin terlihat sesuai dan ideal bagi sang anak. Namun ternyata ada juga yang tidak.

Belum lama ini, ada kabar yang tidak baik dari salah satu institusi pendidikan yaitu Pesantren Annahla. Pimpinan pesantren berinisial AI dan seorang guru ngaji berinisial MY ditetapkan sebagai tersangka kasus pelecehan seksual terhadap 15 santri laki-laki. Penangkapan keduanya dilakukan pada tanggal 8 Juli 2018. Para santri diminta untuk membersihkan ruangan dan diberikan doktrin-doktrin agama. Karena takut para santri tidak berani menolak apa yang diperintahkan AL dan MY.

"Di sanalah peristiwa itu terjadi. Tersangka AI (45) kepada korban R sebanyak 5 kali, korban L sebanyak 7 kali, korban D sebanyak 3 kali, korban sebanyak 5 kali, korban A sebanyak 3 kali. Sementara MY (26) pelecehan seksual dilakukannya terhadap korban R sebanyak 2 kali," sebut Ari Lasta Irawan selaku Kapolres Lhokseumawe dikutip Liputan6.

Menurut penuturan Ari, kedua tersangka akan dikenai pasal 47 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat (hukum kriminalitas). Ancaman hukuman yang akan diterima adalah 90 kali cambuk di depan umum, atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara 90 bulan.

Dari catatan yang dikumpulkan Liputan6.com, sejak Februari hingga November 2018, tercatat setidaknya ada lima kasus kejahatan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh seorang guru mengaji. Menurut Wakil Ketua Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk Faisal Ali, ini terjadi karena tidak semua guru benar-benar diseleksi untuk mengajar baik secara kompetensi dan moral.

Misalnya, saat kita lihat ada seseorang yang bersuara bagus ketika membaca Alquran, langsung kita jadikan guru mengaji anak. Padahal, kapasitasnya sebagai tenaga pendidik tidak ada," kata Faisal, saat diwawancarai Liputan6.com.

Kabar ini menambah catatan buruk kasus pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan institusi pendidikan sederajat. Kerap kali ancaman ataupun pernyataan tertentu oleh aparat pengajar membuat murid-murid takut untuk menolak. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti berpendapat bahwa sekolah belum sepenuhnya aman dari kekerasan seksual karena banyak kasus kekerasan seksual terjadi di sekolah.

"Faktanya, sekolah menjadi tempat terjadinya kekerasan seksual," ujar Retno Listyarti selaku Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam diskusi di Jakarta dikutip Okezone.

Hal ini tak luput bahwa sekolah atau institusi pendidikan menciptakan suatu relasi hirarki seperti institusi pekerjaan. Murid cenderung tidak berani membantah saat diperintahkan guru. Apalagi ada ancaman-ancaman tertentu seperti nilai jelek, tidak naik kelas dan sebagainya. Selain itu kegiatan akademik dan nonakademik tidak selalu bisa terawasi oleh guru dan murid lain.

Selain meningkatkan kualitas keamanan sekolah, pemerintah baik pusat maupun setempat harus memperketat kualifikasi staf pengajar. Sekolah harus menjadi tempat yang nyaman, ramah terhadap murid, aman dan publik mengetahui profil sekolah terkait.

Tips Memilih Sekolah untuk Anak

Lalu bagaimana memilih sekolah yang tepat? Ini tips dari Fimela:

- Pahami keinginan anak dengan mendiskusikan sekolah idamannya

Sebelum menentukan, orang tua harus tau sekolah seperti apa yang diinginkan anak dan apa alasannya. Tidak sedikit anak yang sudah memiliki cita-cita ingin sekolah ke sekolah tertentu. Sekolah tidak hanya dilihat dari fasilitasnya saja, tetapi lingkungannya juga.

- Jarak sekolah dan rumah

Jarak akan memudahkan orang tua untuk memantau anaknya. Jarak yang mudah dijangkau juga tidak akan membuat anak kelelahan setiap berangkat dan pulang sekolah.

- Perhatikan guru, staf dan siswa

Pastikan bahwa ketiga unsur ini membawa energi dan dampak positif bagi anak. Khususnya bagi guru, pastikan bahwa mereka adalah tenaga pengajar profesional, baik dan memiliki kompentensi.

- Budaya sekolah

Perhatikan budaya seperti apa yang sekolah terapkan, pola pikir yang diajarkan dan bagaimana kehidupan sosialnya. Jangan sampai anak terjebak dalam budaya pendidikan dan pola pikir yang salah.

Hal ini bisa jadi pertimbangan orang tua agar anaknya tidak mengalami kasus yang serupa.

#GrowFearLess with Fimela

Loading
Artikel Selanjutnya
6 Tanda Orangtua Sudah Mengajarkan Kebiasaan Baik dan Benar pada Anak
Artikel Selanjutnya
Ini Alasan Orangtua Tak Boleh Bohong pada Anak, Berapa Pun Usianya