Sukses

Lifestyle

Bertahan Sendiri di Ambang Kehancuran Keluarga, Hati Ternyata Bisa Setegar Ini

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Rahayu Putri

Sahabat Fimela pasti tahu bahwa keluarga adalah ruang pertama yang menjadikan siapa diri kita. Aku pun memandang keluarga seperti itu sampai akhirnya aku mulai merasa bahwa aku bisa penentu atas apa yang aku inginkan nantinya.

Orang-orang pertama yang mengenalku memang tahu diriku lebih dulu, namun hidup ini aku yang menjalani jadi itu juga bergantung kepadaku. Tidak ada yang tahu seperti apa keluarga kita saat kita dilahirkan dan tidak ada satu pun manusia yang bisa memilihnya. Itu semua adalah campur tangan Tuhan, aku rasa hal itu juga terjadi padaku. 

Hal baik yang kupelajari dari keluargaku adalah kebiasaan untuk berdoa. Aku diajarkan untuk selalu berdoa dalam kondisi apa pun dan selalu menerpakan kebiasaan berdoa pada pagi dan petang. Saat aku kecil aku tidak tahu pasti apa keuntungan atau alasan aku harus melakukan hal ini tapi yang jelas aku senang melakukannya.

Perlu sahabat Fimela tahu, aku adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Kakakku adalah seorang yang cukup perfeksionis. Dia sangat disiplin, hanya mau melakukan apa yang sesuai passion-nya, dan sangat taat dengan aturan. Ayahku, adalah seorang yang sangat disiplin dan bertanggung jawab, beliau selalu menerapkan aturan-aturan yang ada. Kakakku hampir memiliki sifat seperti ayahku.

Lalu ibuku adalah perempuan yang sangat teguh pada pendiriannya dan beliau adalah seorang yang bisa melakukan apa pun sesuai apa yang beliau yakini. Ibuku juga seorang yang humoris dan senang berbagi kepada orang lain. Keluargaku kecilku seperti ini, kami layaknya keluarga biasa yang ada di luar sana sampai pada suatu waktu aku mengetahui lebih dalam tentang keluargaku dan menyadarkanku bahwa segala sesuatu tidak bisa dipaksakan. 

 

 

Masalah dalam Keluarga

Pada pandanganku sejauh ini, keluargaku sama dengan keluarga yang lain. Sampai akhirnya aku mulai menyadari bahwa apa yang kulihat tidak semuanya, aku bahkan tidak melihat sepertiga dari keluargaku.

Aku sejak kecil adalah anak yang cerewet, mudah bosan dan aku menganggap segala hal yang aku temui adalah hal yang menyenangkan. Kepribadianku ini jauh sekali dari apa yang diharapkan oleh orang-orang di keluargaku. Hal baik yang kupelajari adalah bahwa seperti apa pun aku dan kepribadianku aku masih diterima di keluargaku. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu aku mulai sadar bahwa aku hidup sendiri.

Layaknya keluarga lainnya yang selalu ada satu sama lain. Keluargaku pun melakukan itu, mereka semua berusaha meyakinkanku bahwa mereka akan selalu ada untukku. Hal ini juga berlaku untukku, aku harus selalu ada saat anggota keluargaku membutuhkanku karena keluarga adalah orang terdekat kita. 

Kulakukan sebaik mungkin pesan ini, kubantu semampuku apa pun yang dibutuhkan oleh keluargaku. Akan tetapi, saat segala hal di dunia menghantamku aku selalu menemukan diriku melewati hariku dengan senyum yang kuukir karena kebahagiaan orang yang kutemui dan selalu berakhir menangis sendirian. 

Semua orang yang kuharapkan tidak pernah ada saat-saat di masa tersulitku. Aku tidak menyalahkan mereka karena aku yakin menangani berbagai hal yang terjadi dalam hidup ini memang merepotkan. Aku tidak apa jika ini memang keputusan terbaik yang diperuntukkan Tuhan untukku. Semuanya pasti akan baik-baik saja. 

Hidup di dunia ini memang sulit, pasti sahabat Fimela juga mengetahui hal itu. Aku selama ini hanya terus tersenyum dan berusaha melihat bahwa semuanya baik-baik saja padahal tidak. Bertahan untuk tetap tersenyum dan tidak sekali pun menangis dengan harapan semuanya menjadi lebih baik, tapi kenyataannya tidak. Jujur memang sesulit ini, mengatakan bahwa aku membenci semua ini dan sedih karena semua ini ternyata sesulit ini.

Memiliki hati yang murni dan lidah yang jujur bukanlah hal mudah, sama sekali tidak mudah. Selama ini di dalam hatiku sendiri aku tidak bisa mengelak jika aku membenci keadaan ini dan segala hal tentang keluarga. Mengakui semua itu juga tidak bisa kulakukan. Jika aku ditanya siapa yang mempersulit hidupku, maka jawabannya adalah diriku sendiri. Hidupku menjadi sulit seperti ini karena aku sendiri. Aku yang sampai saat ini hampir-hampir tumbuh sebagai seorang perempuan yang tidak memperdulikan orang lain juga karena diriku sendiri.

Bertahan di Dalam Keluarga

Keputusanku untuk terus diam membuatku mengetahui bahwa hubungan saudara kandung dengan kakakku tidak berarti bisa saling mengerti dan ada satu sama lain, aku pun tahu bahwa aku tidak bisa berharap lebih dari itu. Lingkaran pertemanan kami berbeda begitu juga dengan kesulitan yang kita hadapi.

Ibuku yang selalu dengan tegas untuk terus ada saat kakakku membutuhkan, membuatku berpikir ulang bahwa mungkin ini maksudnya menjadi keluarga. Namun, segala hal yang kulakukan membuatku berakhir dengan kondisi sendiri. Aku melewati segala kesulitanku sendiri karena memang kakakku, ibuku, bahkan ayahku punya kesulitannya sendiri.

Ketika kuutarakan kenapa aku selalu sendiri, mereka hanya bisa mengucapkan maaf dan meyakinkanku bahwa ini cara Tuhan menguatkanku. Tapi, pada akhirnya aku tahu bahwa jika kita sebagai keluarga tidak ada satu sama lain pada saat sulit maka mustahil juga untuk percaya satu sama lain meskipun diikat hubungan darah. 

Kebencianku pada keadaan yang kualami hingga kini ini semakin besar. Saat tiba-tiba kakakku marah besar hanya karena dia diberi tahu temannya jika aku menyukai seseorang yang tidak disukai kakaku dengan berbagai alasan. Aku bisa memahami jika dia tidak menyukai laki-laki A atau B atau laki-laki manapun karena pasti ada banyak hal yang dialami setiap orang, sehingga dia memiliki perjalanan hidup yang buruk. Namun, aku hancur kala itu buka karena itu. Aku bisa menerima semua alasan seperti itu. Kala itu, kenyataannya bahkan aku tidak menyukai laki-laki itu. Aku dekat dengannya karena memang dia sangat pendiam dan butuh waktu lama agar kami bisa saling mengerti saat bekerja bersama. Hal terburuk adalah aku tidak sedang menyukai laki-laki itu dan aku pun tidak sedang menjalin hubungan bahkan tidak berkomunikasi secara intensdengannya.

 

Berusaha Tegar

Saat itu aku sadar, bahwa aku akan berhenti berharap akan ada orang lain yang di sisiku saat aku dalam kesulitan, bahkan kakakku sekali pun. Kubiarkan hubungan ini seperti ini tanpa membahas segala sikapnya, ini lebih baik. Cukup sekali saja aku menjelaskannya kepadanya jika tidak percaya itu adalah haknya. 

Semua hal ini membuatku menyadari bahwa ada benarnya seseorang yang bersahabat dengan orang lain tidak boleh puas dengan hanya menunjukkan persahabatnya melalui kata-kata saja. Jika sahabat tidak cukup hanya dengan mengklaim bahwa mereka bersahabat maka seseorang tidak bisa menjadi keluarga hanya karena sedarah atau status satu sama lain.

Perbuatanlah yang menjadi perhiasan setiap orang dan bukan perkataan. Setelah badai ini, selama bertahun–tahun aku terus sendiri. Hidup dalam ikatan keluarga yang palsu. Sampai akhirnya ibuku menyampaikan bahwa puluhan tahun hidup dengan ayahku sudah tidak mungkin lagi, aku diminta agar jangan kaget ataupun kecewa saat itu terjadi. Ibuku juga berkata kepadaku bahwa kakakku sudah banyak membujuknya, dan ibuku bisa bertahan beberapa tahun karenanya. Tapi itu tidak bisa berlangsung lama. 

Waktu itu, aku hanya diam mengiyakan apa yang dikatakan ibuku tanpa berkomentar apa pun. Ibuku pun tahu bahwa aku mungkin akan lebih banyak diam jika terkait dengan masalah seperti ini. Sekali lagi aku berpandangan bahwa beberapa orang yang terlahir menjadi keluarga adalah orang-orang yang hidup untuk mencapai tujuan hidupnya dan itu pasti membuat setiap orang melakukan yang terbaik agar bisa menjalani hidup yang baik di dunia ini. Hari itu pun pernikahan adalah hal yang kubenci sampai saat ini. 

Aku hidup dengan pandangan bahwa menikah adalah langkah yang sama sekali tidak menguntungkan dan malah menyulitkan. Menjalin hubungan dengan orang lain dan saling mencintai adalah upaya yang tidak berguna. Semua itu menyakitkan, aku selalu seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis. Sekali saja aku lengah maka aku akan menenggelamkan diriku dalam kesedihan yang tidak berujung karena orang lain tidak melakukan apa yang kulakukan. Singkatnya, langkah sederhana yang baik untukku adalah menghindar dari segala hal tentang menjalin hubungan dan membangun keluarga. 

Pada suatu waktu aku tiba-tiba menghampiri ibuku dan dengan jelas menyampaikan bahwa tidak apa-apa jika ibuku memang harus berpisah dengan ayahku. Itu bukan hal sulit untuk dilakukan jika memang terus bersama akan saling melukai satu sama lain.

Saat itu juga aku sadar, segala kesakitan yang kurasakan selama ini membesarkan hati ibuku karena dukunganku dan menguatkanku hidup sampai saat ini. Beliau tersenyum dan matanya bersinar saat aku mengatakan hal itu. Mendukung orang lain bisa member kita kekuatan, meskipun hubungan keluarga ini tidak sekuat hubungan keluarga yang lain atau keluarga pada umumnya.

Aku tidak masalah dengan pemikiran bahwa menikah adalah penyebab masalah, mungkin saja pemikiran itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Mungkin saja keluargaku juga bisa membaik seiring berjalannya waktu. Tidak ada resep terbaik untuk menjadikan keluarga itu harmonis dan jauh dari segala kekurangan. Namun, berusaha menerima keluarga kita seperti apa akan menguatkan langkah kita menghadapai sulitnya hidup. 

Sahabat Fimela tidak perlu membandingkan keluarga kalian dengan keluarga yang lain karena itu keputusan Tuhan memilihkan keluarga kita. Hak kita juga menerima atau menolak keluarga kita, tapi jangan sekali-kali membandingkan keluarga kita dengan keluarga yang lain karena itu tidak pernah sama dan tidak akan pernah sama sampai kapan pun.

#ChangeMaker

Fimelahood from home x instaperfect
;
Loading