Sukses

Lifestyle

Gagal Menikah dan Menerima Tawaran dari Sugar Daddy Membuat Perempuan Ini Menemukan Tujuan Hidupnya

Fimela.com, Jakarta Sarah Hays Coomer adalah seorang aktris patung hidup yang bekerja sementara menjadi pelayan koktail. Pekerjaannya menjadi patung hidup bisa menghasilkan 50 dolar dalam beberapa jam dan 75 dolar di hari-hari yang cukup baik.

Ketika seorang pria bernama Pierre mendekatinya di tangga kereta bawah tanah dan memberi tahunya bahwa istrinya berada di Paris, Sarah seperti terkesima. Pierre mengajaknya berbelanja dan berkata akan memberikan uang mingguan sebagai ganti kunjungan Sarah ke apartemennya beberapa kali dalam seminggu.

Sarah memberikan nomornya, karena menurutnya pria tersebut baik dan penawarannya cukup menarik untuk didengar. Saat kecil, ibu Sarah melarangnya menelepon anak laki-laki.

Ibunya menekankan bahwa pria harus selalu berinisiatif, selalu memberikan ilusi bahwa hanya pria yang berhak melakukan pengejaran. Walaupun tidak bermaksud demikian, gagasan tentang laki-laki sebagai predator dan perempuan sebagai mangsa atau laki-laki sebagai pelanggan dan perempuan sebagai barang dagangan menanamkan dalam diri Sarah bahwa hubungan romantis berarti kekuasaan ada tepat di bawah yurisdiksi laki-laki.

Sarah tumbuh dewasa di akhir tahun 90-an, bukan di tahun 1950-an, tapi era tampaknya tidak menjadi masalah. Sarah tidak tahu apakah Pierre telah mengikutinya dari jauh atau hanya melihatnya di kereta bawah tanah, tapi jelas ia menginginkan sebagian dari diri Sarah dan berpikir ia bisa mendapatkannya.

 

 

Sarah pernah gagal menikah

Di usia 21 tahun, Sarah ragu tentang nilai dirinya sendiri setelah gagal menjalani hubungan dengan 2 pria. Mereka adalah teman sekelas di sekolah persiapan yang semuanya laki-laki yang bermain dengan pedang dan sepatu hitam mengilap.

Pria pertama membawa Sarah ke prom. Ayahnya adalah hakim pengadilan pidana yang memberinya gin dan tonik saat piknik keluarga sebelum Sarah bisa mengemudi, ia juga membawa keluarganya berlibur dan memberikan kamar hotel mewah untuk putranya serta Sarah, tanpa pengawasan sedikit pun.

Pria kedua meminta Sarah untuk menikah dengannya. Ia mengatakan kepada Sarah bahwa ia melihat Tuhan di matanya dan ia mencintainya sebagai pengabdian seumur hidup, sampai 3 minggu sebelum pernikahan, pria ini hanya meninggalkan pesan suara untuk mengakhiri hubungannya dengan Sarah.

Pada hari seharusnya Sarah menikah, orangtuanya datang ke kota untuk mengalihkan perhatiannya dengan membawanya ke pertunjukan Broadway. Menurut Sarah, cinta itu penuh dengan kebohongan.

Setidaknya Pierre jujur, ia mengusulkan transaksi. Pembukaannya menawarkan jenis cinta yang paling sederhana dan kosong, untuk keuntungan, untuk seks, dan untuk prestise.

Tidak ada risiko emosional yang bisa dideteksi oleh Sarah, tidak ada bahaya jatuh cinta. Namun, risiko fisiknya mengkhawatirkan.

Tawaran dari Pierre membuat Sarah tersadar

Sarah percaya pada kemitraan, ia percaya pada kemampuannya sendiri untuk bertahan hidup, dan ia percaya masih banyak pria baik, seperti ayahnya, saudara laki-lakinya, gurunya, dan sejumlah teman baiknya. Dengan setiap pesan yang ditinggalkan Pierre, Sarah menjadi lebih yakin, bahwa ia bukanlah orang yang bisa memberikan kehidupan yang Sarah inginkan.

Sarah tidak ingin uang, ia menginginkan seorang pendamping, seorang yang akan berargumentasi dengannya, yang akan merawat anak-anaknya kelak. Keputusan untuk tidak membalas telepon Pierre bukanlah tentang mempertahankan moral tinggi.

Itu memaksa Sarah untuk memutuskan secara sadar dan dengan sengaja siapa dan apa yang membuatnya hidup. Itu menerapkan standar untuk keputusan yang tak terhitung jumlah yang akan ia hadapi di masa depan.

Sekarang, Sarah bekerja sebagai pelatih kesehatan dan kebugaran bersertifikat di Mayo Clinic & National Board, serta seorang penulis. Ia mengajari orang-orang untuk mengukur pilihan yang mereka buat, mulai dari makanan di piring mereka hingga perusahaan tempat mereka bekerja, berdasarkan kebaikan dan kemurahan hati terhadap tubuh mereka sendiri dan orang-orang, serta nilai-nilai yang mereka junjung tinggi.

Intinya adalah semua orang bisa memilih atau kita memang harus bisa, bagaimanapun, karena setiap hari dijalani dengan jutaan cara yang berbeda. Hari di mana Sarah memutuskan menolah tawaran Pierre adalah hari di mana Sarah memutuskan untuk tidak kembali ke masa lalu, ia tidak menginginkan uang receh Pierre.

#Elevate Women

Loading
Artikel Selanjutnya
6 Lagu Legendaris Chrisye yang 'Diremajakan' Para Musisi Muda
Artikel Selanjutnya
Tak Lagi Muda, 5 Artis Ini Terlihat Tetap Cantik Menawan