Sukses

Lifestyle

Memahami Otoritas Tubuh Perempuan yang Selalu Menjadi Perdebatan

Fimela.com, Jakarta Terlahir menjadi perempuan tidaklah mudah. Hidup dengan stigma dan tuntutan sosial membuatnya semakin berat. Belum lagi kritik dan ekspektasi yang tak masuk akal membuat jalan hidup perempuan tidak mudah. Bahkan budaya patriarki mengajar perempuan seolah tubuhnya bukan merupakan otoritasnya sendiri.

Baru-baru ini Kalis Mardiasih, seorang aktivis perempuan menjadi sorotan publik, setelah mengunggah postingan di akun instagramnya. Kalis adalah perempuan yang aktif menulis tentang kesetaraan gender dalam wacana Islam. Dalam unggahannya Kalis menulis tentang pentingnya perempuan sadar otoritas tubuhnya.

Hal ini memang bertepatan dengan unggahan Atta Halilintar dan istrinya, Aurel, sepasang public figure sekaligus content creator soal kisah duka mereka yang baru saja mengalami keguguran di usia kandungan yang masih sangat muda. Kalis sama sekali tak menyebut nama di unggahannya (Saat tim FIMELA menghubungi untuk konfirmasi belum ada respon dari Kalis) namun banyak fans Atta-Aurel yang menganggap tulisan Kalis adalah tentang idolanya. Padahal yang diungkapkan Kalis adalah fakta bahwa banyak perempuan dan mungkin sebagian banyak dari kita abai dengan masalah ini.

Dalam unggahan instagramnya Kalis menulis jika dalam relasi hubungan seksual, tubuh perempuan ada dalam posisi lebih rentan. Ia pun mengajak perempuan di luar sana untuk lebih mendengarkan tubuhnya, karen tubuh berhak merasa aman dan nyaman.

Fakta ini menunjukkan jika banyak dari kita masih kurang memahami pentingnya otoritas tubuh. Eksploitasi pada tubuh, khususnya perempuan adalah hal yang biasa. Bahkan pasangan muda yang seharusnya sudah memahami pun kerap menormalisasi hal ini.

Setelah menikah, banyak perempuan yang menganggap jika tubuhnya adalah sepenuhnya hak suami. Perempuan sebagai istri harus siap memenuhi tuntutan suami dan lingkungan sosial sebagai seorang istri hingga akhirnya lupa untuk memahami tubuhnya sendiri.

Memahami Pentingnya: Tubuhmu Otoritasmu

Gabriella Devi Benedicta dalam Dinamika Otonomi Tubuh Perempuan: Antara Kuasa dan Negosiasi atas Tubuh yang diterbitkan Pusat Kajian Sosiologi FISIP UI (2011) menjelaskan, dalam konteks perempuan, otonomi tubuh tersebut adalah upaya sistematis-berkelanjutan dari setiap perempuan untuk mau dan mampu menjadikan tubuhnya sendiri otonom.

Dari kajian di atas dijelaskan bahwa setiap tubuh yang ada adalah milik individu bukan milik kelompok atau orang lain. Maka yang berhak untuk mengaturnya adalah diri kita sendiri. Sayangnya tubuh perempuan seringkali dijadikan objek dan dikekang. Dalam relasi pernikahan misalnya, anggapan perempuan yang utuh adalah yang setelah menikah segera hamil. Apakah lantas, setelah menikah dan perempuan yang tidak kunjung hamil tidak bisa menjadi sosok perempuan seutuhnya?

Seringkali kita lupa jika keberanian untuk mengungkapkan kondisi tubuh kepada pasangan sangat penting untuk dimiliki perempuan. Berani mengungkapkan batas tubuhnya dan kondisi tubuhnya kepada pasangan. Di sinilah peran komunikasi sebagai pasangan benar-benar diuji. Perlu ketrampilan tersendiri agar niat dan tujuan untuk menyampaikan kondisi tubuh yang sebenarnya diterima dengan baik oleh pasangan.

Meningkatkan Komunikasi Tentang Kondisi Tubuh Bersama

Pernikahan seharusnya tidak menjadikan perempuan terikat sepenuhnya sehingga lupa bahwa jika ia juga seorang individu yang memiliki otoritas pada dirinya sendiri. Mencoba untuk membangun komunikasi yang baik dengan pasangan, berani mengungkapkan dan menyampaikan batas kondisi tubuhnya.

Berat? Pasti dan tentu tidak mudah. Namun, penting membicarakan kondisi tubuh yang sebenarnya kepada pasangan. Berikan kesempatan pada pasangan untuk mengenal kondisi tubuh kita yang sebenarnya.

Tubuh perempuan bukanlah objek yang terus dieksploitasi. Tubuh perempuan adalah miliknya sendiri, sehingga kita berhak untuk  merasa nyaman dan aman dengan segala perubahan. Dan yang tidak kalah penting, tubuh perempuan berhak untuk memilih dan membuat keputusan terbaik untuk dirinya.

Dalam wawancara yang dilakukan Fimela beberapa waktu lalu, Zoya Amirin seksolog dan juga seorang aktivis perempuan mengungkapkan jika hubungan yang sehat adalah relasi di mana kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita. Serta berani mengungkapkan apa yang kita inginkan menurut versi kita kepada pasangan.

“Jangan sampai pasangan menjadi seperti peramal. Ungkapkan, apa yang membuatmu nyaman dan aman kepada pasangan. Yang menjalani hubungan ini adalah kalian, jadi pastikan kamu dan pasangan enjoy dan tidak saling terbebani.” Jelasnya.

Terlepas apakah Kalis Mardiasih membahas Atta-Aurel atau tidak, sebagai perempuan yang memiliki previlege untuk mencari pemahaman yang menyeluruh soal hak dan otoritas, akankah baiknya kita memahami tulisan Kalis sebagai sebuah ilmu agar lebih memahami otoritas diri.

#ElevateWomen

Loading
Artikel Selanjutnya
Edukasi Kesetaraan Gender di Generasi Muda Cegah Kekerasan Seksual
Artikel Selanjutnya
Converse Suarakan Kesetaraan Gender Lewat Karya Mural Ramah Lingkungan