Sukses

Lifestyle

TRUE STORY: Verbal Bullying Membuat 2 Gadis Ini Berhadapan dengan Maut

Next

Amanda Michelle Todd, remaja 15 tahun asal Kanada, bunuh diri pertengahan Oktober lalu setelah beberapa minggu sebelumnya mengunggah sebuah video di YouTube yang menceritakan kronologi dan tekanan yang ia alami selama di-bully. Cerita bagaimana ia diintimidasi dan dilecehkan ia tulis dalam berlembar-lembar kertas yang satu per satu ia perlihatkan dalam video bertajuk My Story: Struggling, Bullying, Suicide, Self-harm itu.

Intimidasi berupa perkataan sampai penganiayaan secara fisik Amanda terima dari teman-teman sekolahnya sejak foto dirinya topless disebar oleh seorang teman dunia maya Amanda. Sejak saat itu, Amanda dijauhi seluruh teman, sampai akhirnya ia memutuskan pindah sekolah. Tapi, keputusannya itu tak membuatnya lepas dari masalah. Laki-laki yang menyebarkan foto Amanda terus menerornya. Ia pun tetap diperlakukan buruk, bahkan pernah dipukuli di depan sekolah barunya. Kejadian menyakitkan itu sengaja direkam untuk membuat Amanda makin tertekan. Amanda yang merasa malu mulai lari ke obat-obatan dan alkohol, ia juga beberapa kali mencoba bunuh diri, sampai akhirnya ia benar-benar pergi untuk selamanya setelah meninggalkan pesan memilukan. Pesan agar semua orang lebih aware pada bullying, termasuk orangtua yang seharusnya memberikan dukungan psikologis dan men-support anak-anaknya bertahan dari intimidasi dalam bentuk apa pun.

Next

Lain cerita dengan blogger Malala Yousafzai. Oleh Taliban, kepala dan lehernya ditembak dengan kejam karena dinilai memberontak atas perjuangannya menuntut hak 10 ribu perempuan Pakistan untuk bebas menempuh pendidikan, sementara Taliban mengharamkan perempuan keluar rumah dan bersekolah. Malala pun pernah mengungkapkan kekejaman Taliban lewat blog-nya sejak ia berumur 11 tahun, salah satunya saat Taliban membakar sekolah anak perempuan di Lembah Swat. Aku takut ke sekolah karena Taliban mengancam gadis-gadis yang bersekolah. Cuma 11 siswa dari 27 yang masuk kelas. Dalam perjalanan pulang, aku dengar seorang pria berkata, “Aku akan membunuhmu!” Aku pun berjalan makin cepat, tulis Malala tiga tahun lalu.

Pada 9 Oktober, Malala bersama siswi lain sedang menuju sebuah bus sepulang sekolah saat seorang militan Taliban datang sambil berteriak, “Yang mana Malala? Bicara! Atau kutembak kalian semua! Dia telah menjelek-jelekkan Taliban, pejuang-pejuang Allah. Dia harus dihukum!” Tak lama, ia pun menembak Malala.  Kondisi Malala sempat kritis, tapi akhirnya ia berangsur pulih setelah mendapatkan penanganan dokter Pakistan dan dipindahkan ke Inggris untuk mendapat perawatan intensif sembari mendapat perlindungan khusus dari PBB, mengingat ancaman demi ancaman masih terus menghantui gadis remaja itu.

Pihak Taliban sendiri mengatakan Malala memang pantas mati karena sudah menjadi bagian dari mata-mata Barat yang menentang hukum Islam. Bahkan, di tengah duka penembakan tersebut, lewat social media masih saja ada orang-orang yang terus memojokkan dirinya.

Next

Belajar dari dua kasus tersebut, kita seharusnya bisa mempergunakan hak kebebasan berbicara dengan lebih bijak. Yang tak dilarang dan jelas-jelas mengintimidasi sama sekali tak mendapat perhatian sampai-sampai menimbulkan korban jiwa, sementara yang menyuarakan persamaan hak malah dibungkam lewat percobaan pembunuhan. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, satu hal yang pasti, perkataan sungguh-sungguh bisa mengubah dunia, apalagi hidup seseorang. Perkataan, buktinya bisa jadi bumerang yang mengancam, senjata yang bisa “mematikan” seseorang atau pihak tertentu.

Menyangkut moral, siapa pun yang merasa benar berkoar dan menghakimi dengan kejam perilaku orang lain yang dianggap tak pantas. Sementara dengan dalih membela agama, kebebasan berbicara ditentang habis-habisan. Apa yang menimpa Amanda dan Malala memang termasuk akibat fatal dari tindakan semena-mena. Tapi, bukan berarti kita tak bisa mengalaminya, atau jadi salah satu pelaku yang (mungkin) tanpa sadar mengintimidasi orang-orang seperti mereka dengan dalih apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan adalah yang  paling benar.

Kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi dari sepatah kata yang tiap hari kita ucapkan sampai sesuatu yang buruk benar-benar terjadi. Karenanya, berhenti bersikap seolah paling benar. Ada baiknya kita terus belajar menjadi orang yang keliru, terus ingat bahwa kita pun bisa melakukan kesalahan karenanya mau belajar dan dengan rendah hati bersedia melihat orang lain dari sisi lain pula, sebelum terburu-buru menghakimi. If we write a letter, we usually read it over at least once to make sure it sounds alright, check for grammar and spelling before we send it off. But when we speak, we just say whatever comes to our mind without giving a second thought to our words or even the tone. So, be aware, Fimelova. Speak4Peace for a better life!

O,ya, Fimelova, FIMELA.com akan menggelar serangkaian acara FimelaFest yang penuh dengan hiburan sekaligus ilmu dan pesan inspiratif yang memotivasi para perempuan Indonesia untuk kian maju. Atas impian besar itulah kami menggelar Indonesia Wor(l)ds of Women 2012 (IWOW). IWOW merupakan konferensi satu hari yang menghadirkan beberapa pembicara perempuan dari beragam bidang dan latar belakang untuk berbagi kisah perjalanan mereka meniti karier dan mewujudkan impian sesuai dengan passion masing-masing. Para perempuan ini juga akan berbincang seputar Speak4Peace, yang saat ini terus dikampanyekan FIMELA.com. Penasaran? Daftar di sini dan sampai jumpa 9 November 2012!

Empowered by:

xl

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading