Sukses

Lifestyle

Inspirasi Film Ramadhan II: The Kite Runner

Vemale.com - Mengambil lokasi di Afganistan, kisah jalinan persahabatan antara Amir dan anak pembantunya yang bernama Hassan mulai bergulir. Hassan yang lugu, buta huruf, namun setia kawan. Tak hanya itu, ia bahkan rela menerima perlakuan apa saja dari anak majikannya tersebut, termasuk dibohongi dengan beragam cerita palsu. Berbeda dengan Hassan, Amir yang kaya dan kurang perhatian tersebut ternyata pada suatu hari (berhasil) membuktikan bahwa dirinya hanyalah seorang pengecut yang terlalu takut untuk menolong sahabatnya sendiri. Hubungan mereka mulai terkoyak saat Amir hanya bisa diam saja ketika melihat Hassan dianiaya oleh beberapa anak laki-laki dalam sebuah gang. Peristiwa memilukan tersebut terjadi bertepatan dengan berakhirnya turnamen layang-layang di musim dingin tahun 1975. Seiring terhempasnya layang-layang terakhir pada hari itu, maka rebah pula jalinan persahabatan keduanya. Ketika Afganistan jatuh ke tangan Taliban, Amir dan ayahnya memutuskan hengkang ke Amerika. Dua puluh tahun berlalu sudah. Sebuah telepon dari seorang rekan di Afganistan menantang Amir yang telah memiliki istri dan kehidupan sendiri untuk menebus dosa-dosanya pada Hassan di masa lalu. "Hassan telah meninggal, dan ia meninggalkan seorang anak yang memerlukan pertolongan untuk keluar dari panti asuhan dan kehidupan tak layak di Afganistan. Bagaimana Amir? Apa yang akan kau perbuat?", demikian pertanyaan tersebut bermain-main dalam benak Amir. Tak ingin mengulangi kebodohan dan pilihan yang sama di masa silam, Amir pun bergegas kembali ke Afganistan dan membawa Sohrab (putera Hassan) ikut bersamanya ke Amerika. Well, setidaknya kali ini Amir berhasil mengambil keputusan yang tepat: berani mengikuti kata hatinya. Banyak pelajaran bisa diambil dari film berdurasi 128 menit tersebut. Seperti kata Khaled Hosseini, "Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang”. Jika dulu Amir gagal bertindak saat peristiwa aniaya Hassan di sebuah gang, maka melalui tindakan berani menyelamatkan Sohrab, dia telah berhasil membuktikan bahwa si pengecut benar-benar telah berubah menjadi seorang pemberani. Semuanya memang hanyalah pilihan saja, kawan. Selain pesan penting di atas, film arahan sutradara Marc Forster tersebut juga menyuarakan bahwa pencurian merupakan dosa yang paling besar. Coba renungkan saja setiap dosa yang ada di muka bumi ini pasti berhubungan dengan mencuri. Saat membunuh, kita merampas hidup seseorang dan mencuri sosoknya dari keluarganya. Ketika memfitnah, kita mencuri hak seseorang untuk dipandang benar. Jika berbohong, kita mencuri hak seseorang untuk tahu tentang kebenaran. Kalau curang, maka hak seseorang untuk mendapatkan keadilan pun hilang. Tapiiii... Meski pernah 'mencuri', berbuat jahat, atau gagal seperti Amir, selama masih ada nafas hidup, maka kesempatan untuk bertobat, memperbaiki diri, dan membuat pilihan yang tepat itu selalu ada. Dan, inilah saatnya... sebab selalu ada maaf untuk 'amir-amir' masa kini. (vem/meg)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    Loading