Sukses

Lifestyle

Pesan Kehidupan Saat Nenek Bercerita Tentang Wortel, Telur, dan Kopi

Seorang wanita muda menemui neneknya. Ia baru saja mengalami hari-hari yang buruk, suaminya selingkuh dan bisnisnya baru saja bangkrut. Rasanya ia sudah mau menyerah saja. Bahkan terbesit dalam benaknya untuk bunuh diri. Lelah dan putus asa. Namun, kemudian neneknya mengajaknya pergi ke dapur. Sang nenek menjerang air dalam tiga panci. Di panci pertama, ia meletakkan wortel. Di panci kedua, ia taruh telur. Dan di panci ketiga, ia masukkan bubuk kopi.

20 menit kemudian, di sebuah nampan, terletak wortel rebus, telur rebus, dan segelas kopi panas. Nenek yang bijak itu kemudian mengajak cucunya duduk bersama menghadap nampan. Lalu ia bertanya pada sang wanita muda tersebut, "Sekarang, ceritakan apa bisa kamu lihat."

Masih bingung, wanita muda itu menjawab singkat, "Wortel, telur, dan kopi." Sang nenek hanya tersenyum dan ia pun berkisah.

(vem/nda)

Sentuhlah Wortel, Telur, dan Kopi

"Sentuhlah wortel rebus itu," pinta sang nenek. Wanita muda itu mengulurkan tangannya dan merasakan tekstur wortel yang lembut dan empuk. "Sekarang coba kupas telur rebusnya," menuruti kata sang nenek, wanita itu mengambil telur, sepintas telur itu masih terlihat sama dengan telur mentah, namun di dalamnya ada bagian putih dan kuning yang padat.Kemudian, sang nenek meminta cucunya itu menyesap kopi yang kini sudah hangat. Wanita itu tersenyum merasakan kehangatan yang menjalar melalui aroma kopi. "Apa maksud ini semua, Nek?" tanya wanita muda itu penasaran."Setiap objek ini menghadapi satu proses sulit yang sama: direbus dalam air. Tapi masing-masing berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Wortel ini, tadinya ia kuat dan keras. Tapi begitu direbus, ia jadi layu dan empuk. Dan telur yang tadinya rapuh ini, begitu direbus jadi memiliki cangkang kulit yang kuat dan isinya jadi padat serta lembut. Sementara biji bubuk kopi ini unik. Setelah direbus, bubuk kopi 'mengubah' air jadi berwarna sama dengannya, dan aromanya... ," nenek menghirup aroma kopi sambil memejamkan matanya, "Aromanya sangat harum dan menghangatkan.""Masing-masing objek membawa pesan. Saat dihadapkan pada sebuah kesulitan, kamu ingin memiliki perubahan seperti apa? Wortel, telur, atau kopi?"

Kamu Memilih Hidupmu Sendiri

Wanita muda yang tadinya bingung itu mencoba untuk bertanya pada diri sendiri. "Apakah aku seperti wortel yang tadinya kuat tapi langsung lemah begitu mendapat sebuah ujian? Atau aku seperti telur yang tadinya rapuh tapi saat mendapat ujian aku bersikap seolah baik-baik saja padahal hatiku mengeras dan menyimpan dendam?"Ia mengangkat lagi cangkir kopi yang kini sudah mulai mendingin. "Atau aku bisa jadi segelas kopi? Mampukah aku yang tadinya bukan apa-apa bisa jadi seseorang yang lebih kuat setelah menghadapi sebuah ujian, malah aku bisa memberikan aroma kebahagiaan dan semangat baru untuk orang-orang di sekitarku?"Dengan bijak, nenek menggenggam tangan cucunya. "Kamu memilih jalan hidupmu sendiri. Kamu yang menentukan ingin jadi apa dirimu. Ujian, kesulitan, dan kesedihan, semua itu bagian dari hidupmu. Tinggal bagaimana kamu menyikapi itu semua. Kamu ingin jadi seperti wortel, telur, atau kopi, itu juga tergantung pada pilihanmu sendiri."

Bisakah Aku Menjadi Segelas Kopi Hangat?

Orang yang bahagia mungkin bukan orang yang memiliki semua yang ia inginkan. Orang yang kini bahagia dulunya pasti pernah mengalami hari-hari buruk. Mungkin saat ini kita masih menjadi biji kopi mentah. Untuk dapat berubah jadi segelas kopi hangat dengan aroma yang menentramkan jiwa, kita harus melewati banyak hal. Mulai dari proses pemanggangan, penumbukan, hingga perebusan. Wanita muda itu kembali merenung. Ia mengibaratkan semua kesulitan hidup yang ia hadapi saat ini sebagai air rebus. Dirinya merupakan bubuk kopi yang akan berubah menjadi segelas kopi hangat asal bisa bertahan menahan rebusan air tersebut. Sang nenek dipeluknya, "Terima kasih, Nek. Aku akan bertahan dan terus berjuang."Semua kesulitan dan ujian yang kita hadapi saat ini tak lain adalah bagian dari proses kita untuk jadi orang yang lebih baik. Rasa sakit hati, putus asa, dan sedih pada akhirnya akan membuat kita jadi orang yang lebih bijak.Di balik setiap kesusahan pasti ada kemudahan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading