Sukses

Lifestyle

Pilih Mana: Merawat Anak, Kucing Atau ... ?

Mendengar obrolan para perempuan muda generasi 'millenia' memang kadang terasa luar biasa. Bagaikan masuk ke alam paradoks yang lain dari yang lain dan sangat berbeda dari dunia satu-dua dekade yang lalu. Kecerdasan intelektual yang tinggi, gaya bahasa yang bebas dan lugas, blak-blakan. Yang lebih terasa lagi adalah paham 'gue emang begini orangnya'. Ada yang salahkah? Saya pikir tidak, karena saya justru memandang diri sendiri yang ternyata kurang piknik dan bergaul dengan dunia luar. Atau malah terlalu sibuk berkutat di kubah kecil kehidupan bersama dua anak saya sebagai seorang single parent?

Dalam suatu sesi ngopi-ngopi santai, adalah tiga orang perempuan muda, yang satu janda muda dengan anak balitanya, yang kedua lajang modern dengan kucing peliharaan kesayangannya, dan yang seorang lagi lajang dengan gaya mutakhir namun penuh aroma misteri yang menyelimuti jati diri dan keakuannya. Diskusi renyah comot sana, senggol sini, bergulir menjadi tema lumayan nyleneh, yakni "Lebih baik punya anak atau memelihara kucing?" Kaget? Heran? Jika mengingat mereka memang para belia yang sudah terbentuk sedemikian rupa dari berbagai ramuan paham dan keyakinan masa kini, pernyataan tersebut sebetulnya tak aneh lagi tuk didengar. Mengingat pergeseran nilai rasa manusia dan cara bergaul di antara mereka, tentu akan mempengaruhi gaya hidup manusia saat ini. Bahkan, ada yang melontarkan candaan, ulat dan ngengat di zaman ini tak memiliki kesederhanaan dan keseragaman yang dimiliki ulat dan ngengat di beberapa dekade sebelumnya.

"Gue sih mending miara kucing daripada punya anak. Sama - sama ngasih makan, mandiin, bersihin pupnya. Kucing kagak ngrepotin, nggak rewel nyebelin, nggak berisik, bisa main sendiri dan bisa ditinggal-tinggal semau gue."  Yang pertama membuka pernyataan awalnya dengan keyakinan luar biasa bak kesaksian seorang saksi ahli kunci yang dihadirkan dalam sebuah persidangan. "Lu yakin? Iya sih, kucing ama anak emang mirip miaranya. Tinggal kasih makan, kasih, vitamin, suntik vaksin. Tapu elu lupa, 5 tahun lu nggedein kucing bisanya yah cuma gitu doang. Kalo anak, umur 5 udah bisa disuruh beli telur ke warung. Nah, kucing lu bisa nggak disuruh ke warung?"

Janda muda beranak balita karena perceraian dengan mantan suaminya langsung menyanggah dengan argumentasinya. Selanjutnya debat sengitpun tak terelakkan lagi di antara keduanya. Tanpa sadar temannya 'yang ketiga' mengernyitkan dahi merasa gusar dan terganggu kenyamanannya. Setelah menahan diri beberapa saat, si gadis ketiga merasa saanya mengambil perannya, lalu berdiri dan menanggapi dengan santainya, "Ah, lu pada, bisanya ribut aja, gangguin quality time gue. Coba gue tanya, di sini udah ada Bank Sperma? Atau bisa nggak lu berdua nyariin suami yang mau gue kawinin tapi langsung bisa gue ceraiin kalo gue udah hamil?"

Ngeloyor pergi si gadis meninggalkan kedua temannya yang diam dan melongo melihat 'misteri' sedikir terbuka dari teman mereka yang selama ini ditengarai sebagai seorang lesbi, penyuka sesama jenisnya. Namun tak lama, karena kemudian mereka berdua serempak tertawa dengan renyahnya, sambil berteriak, "Gila lu!"

Pernyataannya kontroversial? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Jika melihat bagaimana manusia modern seperti mereka semakin cepat dan semakin jauh meninggalkan cara-cara lama. Cara-cara lama manusia dalam memandang lembaga perkawinan, reproduksi, makna keberadaan anak dalam kehidupan dan cara menjalani kehidupan di dunia. Kehidupan yang semakin bebas memberikan ruang bagi insanity (kegilaan) dalam berbagai pilihan instan. Tinggal bagaimana manusia menyikapinya dengan bijak.

"The three horrors of modern life: talk without meaning, desire without love, work without satisfaction." -- Mignon McLaughlin

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/

(vem/wnd)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading