Sukses

Lifestyle

Senyumin Aja kalau Ada yang Bilang, "Jangan Cari Duit Terus, Ingat Menikah!"

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Molida D - Kisaran

Seperti biasa dalam satu minggu mamakku selalu bertelepon atau video call dengan kami anak-anaknya di perantauan. Aku perempuan tertua di keluargaku dan aku punya seorang abang dan tiga orang adik perempuan, paling bontot masih SD. Adik perempuan di bawahku telah menikah dan sekarang kami satu perantauan mencari bulir-bulir penghidupan demi secercah masa depan. Aku bekerja disalah satu perusahaan swasta.

Di masa setahun bekerja aku sempat putus asa dan ingin rasanya menyerah karena aku hanya menjadi buruh kasar. Alhamdulillah ada sosok ayah yang menguatkanku untuk tetap bertahan. Masa itu ayahku juga berjuang untuk melewati hari-harinya setelah terkena stroke. Ayahku pernah berkata, “Ayah melihat kariermu akan bagus di sana bertahan, ya Nang (panggilan sayang anak perempuan dalam bahasa Batak)." Itulah pesan ayahku sebelum akhirnya ayah meninggalkan kami semua lima tahun lalu.

Sepeninggal ayah aku mulai berambisi untuk mendapatkan status permanen di perusahaan ini. Sebuah jabatan dan keinginan duniawi menjadi resolusiku setiap tahunnya bahkan aku sudah mencanangkan resolusi untuk lima tahun ke depan.

Dua tahun berjalan tak juga ada keputusan akan statusku dan menjadikan aku benar-benar jatuh kala itu. Menjadi buruh kasar tidak pernah terbayangkan olehku, Tuhan nggak adil. Marah dengan semua keadaan dan membuat argumen perandaian diri. Kalau dulu aku... Andai dulu aku... Ya Allah itu nggak adil jelas-jelas aku punya ijazah sarjana kenapa mereka yang SMA diprioritaskan?

Setiap sujudku aku cuma meminta hal simpel itu kenapa susah sekali mengabulkannya? Kenapa ya Allah? Banyak posisi yang kulamar tapi tak satupun lulus. Kenapa orang lain wara-wiri keluar masuk perusahaan dengan mudah?Amarahku memuncak. Aku masih harus menunggu masa tiga bulan menunggu keputusan perpanjangan kontrak kerjaku.

 

Dalam masa penantian itu aku belajar memahami konsep hidup dan melihat siapa sahabat sebenarnya. Dalam kondisi hidupku yang jatuh ada seorang wanita penguat diriku “My Mamak” yang menyembunyikan sedihnya. Di samping mamak dan adik-adikku ada sosok Tulang (adik mamakku) penyemangat yang menjadi pendengar, guru, sahabat, dan komedian terhebat di dunia ini. Dia punya pemikiran simpel dalam menyikapi hidup yang pilihan itu cuma ada dua katanya: Benar-Salah, Baik-Buruk, Kerja-Tidak Bekerja simpel kan? Jadi, jangan terlalu ribet. Dia mengajakku untuk menjalankan bisnis Warung Kopi konsep Millenial di kaki sebuah gunung. Dia mengolah pemikiranku menjadi seorang wirausahawan, dan menguatkanku jika memang Allah telah menggariskan aku bekerja di perusahaan itu kembali akan ada jalannya. Dia memberikan semua pengetahuan tentang kopi kepadaku dan memberikan kebebasan berkreasi.

Aku dipanggil pulang kembali ke rumah agar mamakku tidak resah akan diriku yang tak kunjung dapat kepastian. Mamak tak henti-hentinya berdoa untukku, tak jarang setiap malamku dengar isak tangisnya dalam doanya. Dan dalam masa sulit itu aku meminta maaf kepada Sang Khalik atas amarahku menurunkan egoku akan keinginan sebuah posisi atau jabatan dalam pekerjaan dengan membanding-bandingkan selembar kertas yang disebut ijazah. Mengubah niatku bekerja, meminta rezeki yang memang sepantasnya ku terima dari Allah.

Alhamdulillah Sang Khalik menunjukkan kuasa-Nya, aku kembali bekerja di perusahaanku sekarang. Aku ingat mamaku sujud syukur ketika aku mendapatkan telepon dari HRD mengenai pemanggilan bekerja kembali. Di sini aku yakin Sahabat Fimela bahwa ketika kita menurunkan sedikit ego untuk tidak meminta secara ngotot, Allah akan kasih pada saat yang tepat dan ketika kita memprioritaskan sesuatu namun Allah memberikan hal yang tidak menjadi prioritas disnilah kita sebagai umat diminta untuk bersyukur.

Haru biru perasaanku waktu itu. Kukabari sosok komedian terbaik dunia “Tulangku” akan kabar ini, dan dia juga turut gembira, impianku bisa bekerja dan membantunya di warung nanti adalah impianku. Sehari sebelum aku menandatangani kontrak permanenku Allah mengambil Tulangku, sosok yang tidak pernah mengeluh, selalu siap kapanpun kala dibutuhkan, pendengar yang baik, motivator dan komedian terbaik di dunia.

Sahabat Fimela, aku seakan tidak kuat kala itu, bagai disambar petir di siang hari kabar kepergiannya begitu mendadak seakan-akan menunggu masalahku selesai baru dia akan pergi. Tapi hidup mesti berjalan seperti nasihat yang pernah dia katakan padaku. Kembali bekerja dengan emosi labil. Masa dua tahun setelah aku permanen aku mulai menjadi sosok yang khufur nikmat. Mulai mencari pekerjaan ke tempat lain demi mendapatkan gaji besar dan jabatan. Ya, itulah ego manusia. Tenggelam dalam sebuah keinginan duniawi, lupa akan masa sulit yang pernah dilewati dengan syukur.

Sampai pada akhir tahun kemarin mamakku memberi kabar via telepon dan meminta maaf kepadaku agar tidak marah karena akan menerima keluarga pria calon suami adik perempuanku yang nomor empat. Aku tidak sedih malah bahagia atas kebahagiaan adikku tersayang. Aku ikut serta dalam acara lamarannya.

Dan seperti biasa pertahanan mental bagiku menjawab pertanyaan-pertanyaan, “Loh kakaknya kapan lagi?” “Jangan cari duit terus. Inget menikah." “Jangan pilih-pilihlah, inget umur." "Kapan lagi? Mulai aku nikah sampai anakku tiga belum juga?” “Kapan lagi keburu kesusul nih aku mau dua kali loh." Ya, senyumin aja.

Ibarat lagu Wahyu, Selow ya jawabku dalam hati. Tetapi aku masih manusia biasa yang punya rasa. Setelah kuingat sejak aku lulus kuliah sampai tahun kemarin, menikah tidak ada dalam resolusiku, itu hanya dalam doaku. Ternyata aku salah. Begitu banyak nikmat rezeki yang diberikan kepadaku namun dalam menjalankan ibadah tidak menjadi prioritasku.

Meminta jodoh hanya dalam doa dan kriteria sesuai keinginan tanpa aku melihat apakah pantas aku minta jodoh dengan kriteria itu. Sahabat aku tersadar bahwa hiruk pikuk masalah duniawi terlalu menjadi pertimbangan buatku. Untuk itu menyongsong tahun 2019 ini aku hanya punya dua resolusi, hijrah dan memantaskan diri dalam ibadah dan hidupku.

Sahabat Fimela dan khususnya wanita single jangan berkecil hati karena belum menemukan jodoh, mari sama-sama kita memantaskan diri, mari kita turunkan sedikit kriteria keinginan, dan memprioritaskan ladang ibadah kita. Saya mendoakan Sabahat Fimela yang masih single dan juga mas dan mbak-mbak redaksi yang single dipermudah langkah pertemuan jodohnya di tahun ini. Amin.

Big Hug

Molida D.

What's On Fimela
Loading