Sukses

Lifestyle

Setiap Perempuan Bisa Menggali Potensi Terbaik Dirinya untuk Menyuarakan Perubahan

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya kekuatan untuk mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada. Bahkan dalam setiap pilihan yang dibuat, perempuan bisa menjadi sosok yang istimewa. Perempuan memiliki hak menyuarakan keberaniannya memperjuangkan sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan dari Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Voice Matters: Setiap Perempuan adalah Agen Perubahan ini.

***

Oleh: Cynthia Kwesnady - Tangerang

Tumbuh menjadi anak yang aktif di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, hingga perusahaan, membuat saya telah banyak merasakan tuaian pujian dan kritik pedas dalam berperan sebagai agen perubahan. Memang tidak mudah membuat perubahan sekecil apapun itu. Seringkali ide kita diragukan bahkan ditolak mentah-mentah. Namun dari kesuksesan saya belajar untuk rendah hati, tidak mudah berpuas diri, dan berjuang untuk memberikan ide yang lebih baik lagi. Dari kegagalan saya belajar untuk tidak patah semangat dan terus berusaha untuk mencapai keberhasilan.

Saya percaya, lingkungan mendukung perkembangan karakter seseorang. Tak terkecuali dalam kehidupan saya pribadi. Dibesarkan oleh keluarga yang cukup demokratis membuat saya berani untuk bersuara dan menyampaikan pendapat. Hal-hal kecil seperti, “Mau makan apa hari ini?” atau, “Mau jalan-jalan ke mana minggu ini?” yang ditanyakan oleh orangtua saya kerapkali menjadi pertanyaan favorit saya karena saya sudah menyiapkan jawabannya. Maklum, saya hobi makan dan jalan-jalan, apalagi ke pusat perbelanjaan.

Pernah ketika saya iseng, saya berbisik pada adik perempuan saya untuk mendukung jawaban saya dan menyuarakannya dan hasilnya voila! Vote kami menang. Dulu mungkin saya belum mengerti dan itu hanyalah tingkah iseng bocah saja, namun belakangan saya paham itu adalah salah satu upaya persuasif yang ternyata sudah saya lakukan sedari kecil tanpa saya sadari. Ya, ternyata menjadi agen perubahan yang mempengaruhi orang umum terjadi pada lingkungan terdekat kita.

Di sekolah dasar, saya yang mewarisi darah pedagang dari Ayah saya yang mempunyai toko game di kota, seringkali berjualan kaset CD game yang sedang tren kala itu yaitu PlayStation, Nintendo, Sega, dan Game Boy. Meskipun perempuan, saya bahkan lebih berani menawarkan teman-teman saya yang laki-laki dan perempuan untuk membeli dibandingkan dengan kakak laki-laki saya.

Bukan hanya berjualan CD, saya juga berjualan aneka macam stiker. Uang hasil pendapatan saya berjualan saya jual-beli-kan baju dan berbagai aksesoris boneka Barbie saya. Tidak berhenti sampai di situ, saya merintis usaha penjualan kertas file bergambar yang dapat mereka pilih dari katalog saya. Untuk bisnis yang ini saya bekerja sama dengan kakak teman saya. Lucu bahwa saat itu saya masih kelas enam SD dan kakak teman saya ini sudah duduk di bangku SMA. Saat itu, saya membuat kertas file bergambar saya menjadi tren baru di lingkungan sekolah saya dan semakin banyak anak SD yang meninggalkan buku mereka dan beralih menggunakan binder.

 

 

 

 

 

Di SMA, saya kembali terlibat aktif di kegiatan OSIS dan dipercaya untuk menjabat posisi sekretaris. Ternyata menjadi sekretaris memiliki tantangan sendiri menghadapi banyaknya file-file yang berantakan dan tumpeng tindih. Di situ saya berusaha untuk merapikan file demi file dan mengurangi jumlah form sesuai kebutuhan. Hasilnya saya dipercaya untuk menjadi sekretaris lagi di tahun berikutnya.

Menjadi OSIS di tengah-tengah teman-teman yang tampak skeptis dengan kinerja OSIS-OSIS sebelumnya tentu menjadi suatu tantangan tersendiri. Namun alih-alih menganggap hal tersebut sebagai suatu kekurangan, saya malah merasakan hal tersebut sebagai suatu nilai plus yaitu saya bisa menyampaikan aspirasi dan keinginan teman-teman untuk dieksekusi oleh OSIS. Tahun itu OSIS kami menyelenggarakan banyak event seperti pentas seni, acara Valentine, bazaar kelas, dan acara-acara meriah lainnya. Kami menjawab keinginan teman-teman kami yang ingin sekolahnya memiliki lebih banyak acara yang menarik.

Berlanjut di kampus, saya terpilih menjadi Humas Internal Badan Eksekutif Siswa (BEM) dan saat itu ketika Twitter dan Facebook belum menjadi media yang wajib dimiliki setiap instansi seperti sekarang, saya membuat kedua akun tersebut untuk BEM kami. Tujuannya agar kami dapat menjangkau ribuan mahasiswa dengan berbagai informasi dan acara yang diadakan serta mendengar aspirasi serta keluhan mereka. Tentunya tantangan di sini semakin beragam dengan tanggung jawab yang semakin berat. Tidak banyak yang bisa kami lakukan pada periode BEM kami karena keterbatasan persetujuan dan keterbatasan dana yang diberikan oleh pihak universitas. Namun begitu kami yakin bahwa kami telah memberikan yang terbaik sampai akhir masa jabatan kami.

 

Di perusahaan awal saya bekerja, saya berusaha keras mengubah persepsi mengenai departemen saya yang terlanjur mendapat label “lambat kerjanya” dan membuang jauh-jauh persepsi “tidak ramah”. Saya berusaha membenahi sistem kerja dan dokumentasi yang dilakukan agar menjadi lebih baik. Di perusahaan terakhir, saya memiliki 7 orang tim dan membawahi 4 bagian sekaligus. Saya banyak melakukan perombakan serta trial and error dalam menyusun sistem kerja sehingga akhirnya terbentuk sistem kerja seperti sekarang. Sebelum saya resign, saya juga membuat kultur baru untuk sistem hands over sehingga proses pemindahan beban kerja berjalan mulus. Sampai sekarang, sistem tersebut terus digunakan.

Semua orang baik disadari maupun tidak adalah agen perubahan. Dari perkataan dan tindakan yang kita lakukan telah membentuk persepsi diri kita di mata orang lain dan bisa menjadi faktor penentu apa yang akan mereka lakukan. Permasalahannya adalah pilihan kita untuk menjadi agen perubahan positif atau negatif ada di tangan kita sendiri. Apakah kita mau menghina bentuk tubuh tetangga atau dengan tulus mengajak berolahraga agar lebih bugar, apakah kita mau merendahkan prestasi anak kita atau kita mau memompa semangat belajar anak kita lebih lagi, dan apakah kita mau terus menerus menuntut gaji suami naik ataukah kita terus bersyukur atas kerja keras yang dilakukan suami sepanjang hari.

Saya percaya ketika kita menabur yang baik, pasti kita juga akan menuai yang baik di kemudian hari, begitu juga sebaliknya. Saat ini saya masih menjadi agen perubahan dengan tulisan-tulisan saya serta segala aktivitas yang saya lakukan dan berharap semua perempuan dapat menggali potensi terbaik dari dirinya untuk terus menyuarakan perubahan karena setiap suara kita berharga. Ingat, menjadi agen perubahan tidak terbatas akan ruang dan waktu. Selamat menjadi agen perubahan!

Tangerang, 2 April 2019

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading