Sukses

Lifestyle

Berdamai dengan Diri setelah Mengalami Kekerasan dari Pacar Beracun

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Nita - Surabaya

Bagaimana Berdamai dengan Diri Setelah Mengalami Kekerasan Mental

Bagi beberapa orang pacaran merupakan masa-masa yang menyenangkan di mana dua sejoli saling memadu kasih, menyemangati, dan mengenal karakter satu sama lain. Terutama bagi anak muda yang sedang dimabuk asmara: serasa dunia hanya milik berdua. Namun, lain cerita dengan saya. Di usia 23 tahun ini, saya justru tidak merasakan manis indahnya pacaran.  Alih-alih mendapatkan kasih sayang, pengalaman dua tahun pacaran justru membuat saya depresi akibat mengalami kekerasan dalam pacaran (KDP) atau disebut juga dengan istilah toxic relationship.

Pepatah “Jangan Menilai Orang dari Sampulnya” memang ada benarnya. Kesan pertama yang muncul ketika bertemu mantan saya, dia adalah sosok yang sangat lembut, penyayang, humoris, berwibawa, dan berwawasan luas. Kesan tersebut masih melekat hingga beberapa bulan saya mengenalnya dan kami memutuskan untuk menjalin komitmen. Saya sungguh tersentuh dengan cerita heroiknya menjadi seorang aktivis kampus dan janji manis untuk menikahi saya beberapa tahun mendatang. Gambaran akan masa depan yang indah dan cerah sudah bisa saya rasakan pada saat itu. Oh, saya begitu yakin bahwa dia adalah jodoh saya.

Seiring berjalannya waktu, dia berubah menjadi sosok yang tidak saya kenal sebelumnya. Perhatiannya berkurang, enggan mendengarkan saya, sibuk dengan dunianya sendiri, malas mengerjakan kewajibannya, banyak berbohong, dan sering meledak-ledak ketika kami bertengkar. Beberapa kali, dia melakukan tindakan menyakiti diri dan mengancam bunuh diri untuk membuat dia menguasai saya. Dia selalu pandai membuat saya menjadi pihak yang mengalah, padahal saya jelas memiliki bukti segala kebohongan dia. Mulai saat itulah, saya curiga bahwa ada yang salah dengan hubungan pacaran kami. Saya tidak berani melawannya, saya masih saja terima diperlakukan sebagai sampah. Sampai akhirnya, saya mengalami banyak perubahan baik secara fisik dan psikis. Badan saya makin kurus, pola makan jadi tidak teratur, sering cemas dan diam-diam menangis, dan saya mengabaikan impian hidup saya hanya untuk mengurusinya. Saya juga menarik diri dari lingkungan sosial saya. 

Titik Depresi

Titik depresi saya berlangsung selama berbulan-bulan hingga akhirnya saya tidak bisa lagi menahan beban psikis saya ketika mengetahui bahwa dia justru diam-diam menjalin hubungan dengan sahabat saya sendiri. Singkat cerita, fase depresi saya perlahan-lahan sembuh atas bantuan konselor.

Nyatanya, masih sedikit perempuan yang sadar bahwa bentuk kekerasan tidak hanya berupa fisik saja. Ada juga bentuk kekerasan mental maupun kekerasan ekonomi. Contoh kekerasan mental adalah memanipulasi pikiran, mengancam bunuh diri, membatasi pergaulan, menghina/merendahkan, dan mengabaikan kebutuhan afeksi lainnya. Sedangkan kekerasan ekonomi misalnya mengambil alih kuasa harta, ataupun memaksa untuk berhenti bekerja sedangkan tidak memenuhi kewajiban memberi nafkah. Hal itu terjadi karena dua macam kekerasan tersebut sifatnya seperti bom waktu. Seringkali korban mengabaikan tanda-tanda kekerasan di awal hingga mereka lambat laun terjebak di jurang penderitaan.   

Mudahnya begini, ibarat katak yang dimasukkan ke dalam tungku berisi air panas, ia akan langsung meloncat untuk menyelamatkan diri karena ia menyadari bahwa air panas membahayakan dirinya. Sedangkan, katak yang dimasukkan ke dalam tungku berisi air dingin kemudian air tersebut dipanaskan. Ia tak akan berontak karena air yang mulanya dingin berubah menjadi hangat, si katak tidak menyadari bahaya sedang mengancam hingga semua sudah terlambat karena ia mati kepanasan.

Saya sendiri baru menyadari bahwa saya juga korban saat saya sudah pada tahap depresi dan mencari pertolongan ke konselor. Saya mengabaikan sinyal-sinyal yang sudah disampaikan oleh tubuh saya bahwa saya sedang tidak baik-baik saja. Saya mengabaikan tanda awal ketika saya mulai cemas, takut, khawatir, marah, jengkel, sedih, dan malu. Saya mengabaikan berat badan saya yang semakin menyusut. Saya mengabaikan keuangan saya yang mulai carut-marut.

 

Berjuang Menyembuhkan Diri

Bagi saya, perjalanan memaafkan diri sendiri setelah mengalami kekerasan mental tidaklah mudah. Namun, bukan berarti itu tidak mungkin. Mula-mula, saya belajar untuk menerima semua pengalaman pahit tersebut sebagai pembelajaran hidup. Alih-alih menyesali kebodohan saya, saya coba ingat terus bahwa setidaknya Tuhan telah baik menyelamatkan saya sehingga saya tidak terjerumus semakin dalam di hubungan yang beracun tersebut.

Yang kedua, saya coba memutus segala jembatan komunikasi yang berhubungan dengan mantan saya. Bagi beberapa orang terdengar childish, tetapi saya tak peduli. Mereka yang mengatakan begitu tidak paham betapa hal sepele saja mudah sekali memantik ingatan buruk itu muncul lagi. Yang ketiga, saya berusaha menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif seperti menulis, membaca, traveling dengan sahabat-sahabat saya, dan juga mencoba membuat kerajinan tangan. Yang keempat, saya belajar yoga. Yang kelima, berani untuk membagikan kisah saya kepada orang lain agar tidak ada lagi yang mengalami pahitnya menjadi korban kekerasan kepada saya.

Tidak, saya di sini tidak ingin terlalu lama menceritakan kenangan pahit tersebut. Saya lebih tertarik untuk berbagi semangat kepada teman-teman, bagi siapa saja yang membaca ini, tolong pahami, kalian adalah perempuan hebat. Kalian berharga. Kalian sungguh kuat untuk tetap berani mencintai meskipun kondisi kalian tersakiti. Ingatlah, kalian berhak bersama dengan orang yang bisa mencintai Anda dengan tulus.

Teruntuk yang diam-diam sedang berjuang untuk keluar dari kubangan hubungan beracun, jangan menyerah. Tetap kuat, tetap tabah, dan jangan malu meminta pertolongan. Ingatlah bahwa engkau sudah sangat hebat bertahan sejauh ini. Cukupkanlah, jika dia tidak memperlakukanmu dengan baik, itu bukan cinta sejati. Engkau tak sendiri. Saya pun masih berjuang memaafkan diri sendiri.

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading