Sukses

Lifestyle

Menentukan Tanggal Pernikahan Terhalang Kepercayaan Masing-Masing

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Uswatun Hasanah - Sukoharjo

Kukira permasalahan dalam hubungan kami adalah jarak. Setelah tiga tahun menjalani LDR beda kota, kami harus LDR lagi beda pulau begitu dia diterima di sebuah perusahaan. Rindu menyiksa setiap hari tanpa hati, sehingga pertengkaran kecil seringkali mewarnai perjalanan kisah kami.

Di anniversary kami yang keenam, dia melamarku. Sungguh, kukira langkah kami akan jadi lebih mudah setelah itu. Baju pengantin, mas kawin, hantaran, tata rias, semua persiapan pernikahan kami lancar dan mudah. Hanya saja, tanggal pernikahan kami masih menjadi masalah yang seolah-olah tak berkesudahan. Aku nyaris menyerah karenanya.

Pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua insan, melainkan juga dua keluarga dan mungkin dua adat yang berbeda. Tapi aku tidak menyangka akan dihadapkan dengan hal itu bahkan sebelum pernikahan kami dimulai.

Keluarga kami sama-sama dari Jawa, namun rupanya tidak sekadar beda kota saja. Keluargaku termasuk taat beragama, dan dalam kepercayaan kami, bulan paling baik dan diberkati untuk menikah adalah Muharram. Sedangkan keluarganya sangat menjunjung adat. Bulan Muharram yang dalam Kalender Jawa merupakan Bulan Suro adalah bulan keramat. Hanya keturunan bangsawan yang boleh mengadakan hajatan di bulan tersebut, jika nekat kami bisa kualat.

 

Mencari Hari Baik

Keluarganya menyatukan weton kami dan menentukan hari baik dari hasil penjumlahannya. Keluargaku menolak hasilnya dan bersikukuh dengan rencana awal. Karena sama-sama berpegang teguh dengan kepercayaan masing-masing, hingga berulang kali pertemuan keluarga, kami tak kunjung menemukan titik temunya.

Aku tidak ingin mengecewakan orangtuaku, juga tidak ingin mengecewakan orangtuanya. Aku mengerti mereka sama-sama menginginkan yang terbaik untuk kami. Memilih salah satu di antara dua pilihan yang mereka tawarkan sungguh membuatku putus asa. Kalau saja dia tidak selalu menguatkan dan mengingatkan perjalanan kisah kami, mungkin aku langsung menyerah.

Akhirnya, untuk menghargai masing-masing pilihan, kami melangsungkan ijab qabul di tanggal pilihan orangtuaku. Hanya ijab, sah, sudah. Toh tidak ada pesta apapun, selain mengikat janji. Resepsi pernikahan baru digelar di tanggal pilihan orangtuanya, di awal bulan Sapar. Sekitar satu minggu setelah akad.

Rasanya lega sekali. Mengambil keputusan tanpa melukai salah satunya, dan membuat mereka sama-sama bahagia adalah hal paling membahagiakan dalam pernikahan kami.

 

#GrowFearless with FIMELA

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading