Sukses

Lifestyle

Ketika Hati Sudah Memilih Seseorang, Ada Jalan yang Akhirnya Terbuka

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Larasaty Aprillia

Menginjak usia di atas kepala tiga bukanlah hal yang mudah untuk seorang wanita yang tinggal di budaya ini dengan belum menikah. Stigma yang buruk, pandangan aneh di mata orang lain, kolega bahkan keluarga sudah merupakan camilan harian untuk saya.

Di mata mereka saya adalah seorang yang terlalu meninggikan pendidikan, karier, dan bahkan terlalu pemilih. Lalu apakah itu salah? Menjadi wanita yang memiliki pendidikan dan karier yang baik lalu saya memilih untuk mendapatkan pasangan yang baik apakah itu terlalu berlebihan? Apakah perempuan masih belum boleh memilih?

Di tengah usaha untuk menerima keadaan dan kerasnya pandangan, Tuhan ternyata punya cerita lain untuk saya. Seseorang yang saya kenal beberapa tahun terakhir dan diam-diam saya sukai ternyata memiliki perasaan yang sama sejak awal kami mengenal satu sama lain.

Saya sendiri bukanlah tipe perempuan yang tidak berani menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis, hanya saja untuk hal ini saya tidak mungkin melakukannya karena laki-laki ini sudah menikah. Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa pernikahan laki-laki ini sedang bermasalah.

Sampai pada satu titik kami berada dalam sebuah obrolan yang mengantarkan kami mengutarakan perasaan satu sama lain. Saat itu, saya tidak menginginkan apa pun selain ingin terbuka saja agar merasa lega. Saya tetap mencoba menggunakan akal sehat untuk tidak masuk lebih jauh ke dalam masalah pernikahannya. Namun, memang perasaan tidak mampu dikendalikan yang menyebabkan banyak sekali perselisihan.

Memilih untuk Bersamanya

Aku tetap mencoba meyakinkan dia untuk memperbaiki saja hubungan pernikahannya dan menyudahi ini semua. Namun, dia yang kembali meyakinkan aku bahwa pernikahannya sudah tidak lagi dapat diselamatkan, bukan karena aku tapi memang sudah dari awal.

Percaya begitu saja? Tentu tidak, aku pun tetap pada keyakinanku bahwa hubungan ini tidak normal adanya jika tidak diselesaikan salah satunya. Pandangan sebagai pelakor sudah menjadi risiko yang tidak bisa aku hindari, meskipun jika mereka tahu situasinya tidak seperti itu. Ya, mau dilihat dari sisi mana pun, aku akan tetap salah. Itulah yang menyebabkan kami sering berkonflik.

Sampai pada akhirnya aku diperkenalkan ke ibunya, orang yang mengetahui semua yang terjadi di pernikahan anaknya. Ibunya berkata memang mereka sudah tidak sehat dari awal, jadi jangan menyalahkan diri sendiri. Ibunya meminta dia untuk segera menyelesaikan masalahnya sehingga tidak berlarut. Ibunya juga meminta dia untuk menyiapkan semuanya, agar aku pun tidak menunggu terlalu lama.

Sampai cerita ini aku tulis, masalah sudah dalam proses penyelesaian dan saat ini sebuah cincin sudah melingkar di jari manis saya. Kami sedang mempersiapkan semuanya dalam waktu dekat. Meskipun banyak kondisi yang harus saya hadapi dengan seseorang yang saya pilih. Tapi, saya percaya Tuhan tidak memilihkan sembarang orang untuk saya.

Saya yakin bahwa Tuhan pasti memiliki cerita indah untuk kami meskipun harus dilalui dengan banyak air mata. Sebuah pernikahan yang sederhana yang kami impikan sudah di depan mata. Aku tidak menuntut resepsi yang mewah dan megah, karena pada hakikatnya pernikahan bukan tentang pesta yang meriah, tetapi bagaimana kami mengarungi kehidupan di hari-hari selanjutnya. Aku sadar bahwa aku tetap bisa memilih dan hatiku memilih dia.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading