Sukses

Lifestyle

Meski Sudah Menikah, Tetaplah Jadi Perempuan Mandiri dan Berpenghasilan Sendiri

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

***

Oleh: Ika Susanti

Ibuku adalah sosok perempuan yang sangat patut menjadi panutan, salah satunya dalam hal pengelolaan keuangan rumah tangga. Sejak kecil aku mengamati bagaimana cara ibu mengatur penghasilan bapak sebagai pegawai di suatu Perusahaan Umum (Perum) dengan gaji yang tidak seberapa, untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarga kami yang cukup banyak.

Gaji bapak yang diterima cash setiap tanggal 1, dibagi-bagi dalam beberapa amplop yang sudah diberikan keterangan peruntukannya.  Membayar tagihan PLN dan PDAM, iuran lingkungan,  uang sekolah dan kebutuhan anak-anak, belanja bulanan dan belanja harian. Bila ada sisa ditabung ke bank, atau disisihkan untuk keperluan sedekah, zakat dan keperluan sosial lainnya.  Ibu mengaturnya dengan sangat rapi dan disiplin dalam penggunaannya.

Ibuku bukanlah seorang wanita karier, tapi beliau  membuat bisnis kecil-kecilan di rumah. Membuka usaha "Modiste", yang menerima/menjahit pakaian wanita dan anak-anak sesuai pesanan. Dari usaha rumahan itulah ibu bisa membantu bapak menambah penghasilan keluarga, hingga tiga orang anaknya bisa sekolah mencapai gelar sarjana. Dan keluarga kami yang tadinya tinggal di rumah dinas akhirnya bisa mempunyai rumah tinggal yang sangat layak, di salah satu kota kecil di Jawa Timur sebelum bapak pensiun.

Lebih Dihargai dan Percaya Diri

Salah satu pesan ibu yang selalu kuingat hingga saat ini, "Perempuan itu harus mandiri dan punya penghasilan sendiri. Walaupun penghasilanmu kecil, akan sangat bermanfaat bagimu dan keluargamu." Nasihat itu benar adanya, dan aku merasakan manfaatnya setelah berumah tangga. Manfaat yang sangat kurasakan adalah aku merasa lebih dihargai oleh suami dan lebih percaya diri karena bisa mengelola keuanganku sendiri.

Walaupun gajinya di perusahaan swasta lebih besar dibandingkan dengan gajiku sebagai PNS, tapi suami sangat menghargai karier dan penghasilanku. Gajiku justru lebih banyak ditabung atau digunakan untuk keperluanku sendiri dan anak-anak. Aku tidak perlu setiap saat merepotkannya untuk hal-hal kecil yang bisa kuatasi sendiri.  Suami juga tidak pernah mencampuri urusan penghasilanku dan menyerahkan sepenuhnya pengelolaannya sesuai kebutuhanku.

Suami juga sangat mendukung karierku, mendorongku untuk melanjutkan sekolah lagi agar karierku semakin meningkat. Dengan uang tabungan dari penghasilanku, suami mengizinkan aku mengambil kuliah pascasarjana. Pastinya aku merasa sangat bangga, karena bisa meraih gelar master dengan penghasilan sendiri. Pendidikan tinggi sangat menunjang karierku dan membuatku lebih percaya diri untuk bersaing di dunia kerja. Dan yang sungguh disyukuri, aku bisa melanjutkan sekolah tanpa mengganggu stabilitas keuangan rumah tangga.

Kemandirian Finansial

Perempuan akan lebih bahagia bila memiliki kemandirian finansial dari penghasilannya sendiri, dan aku sangat merasakannya. Selain bisa melanjutkan sekolah lagi, aku juga bisa membeli kebutuhan pribadiku dan anak-anak. Bagiku terasa aneh bila untuk membeli “bedak” saja harus minta uang kepada suami. Karena kenyataannya laki-laki tidak selalu memahami kebutuhan perempuan yang sangat beragam, dari mulai urusan dapur hingga fashion.

Memang menjadi kewajiban suami untuk mencukupi kebutuhan istrinya, tapi bagiku lebih nyaman bila kebutuhan pribadi dapat kubeli sendiri.  Meskipun menggunakan uang sendiri, sebagai seorang istri apapun yang kubeli tetap harus seijin suami.  Dan karena terbiasa membeli kebutuhan sendiri, menjadi kejutan yang sangat manis ketika suami sekali-kali membelikanku baju, tas atau sepatu, membuat hubungan kami berdua semakin romantis.

Selain kebutuhan pribadi, aku juga merasa bebas membelikan kebutuhan anak-anak dan beragam perlengkapan rumah.  Membelikan mereka baju, mainan, perlengkapan sekolah dan pernak pernik rumah lainnya, selain kebutuhan utama yang dibelikan suami tentunya. Ada rasa bangga bisa ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga dari uang sendiri. Anak-anak juga menjadi lebih menghargai ibunya, dan memahami mengapa ibunya pergi bekerja meninggalkan rumah setiap hari. Ada hasil nyata yang dirasakan anak-anak dari penghasilan ibunya, yang bermanfaat untuk kebutuhan mereka.

Memberikan Perhatian pada Orang Tua

Walaupun orang tua masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari uang pensiun, perhatian seorang anak kepada orang tuanya tetap diperlukan. Dan aku bersyukur untuk urusan yang satu ini, tidak harus selalu minta kepada suami. Memberi orang tua saat mudik atau saat mereka berkunjung menengok cucu-cucunya ke rumah. Mengirim uang atau membelikan kebutuhan yang mereka perlukan  atau sekali-sekali mengirim pulsa untuk memudahkan komunikasi.

Walaupun pada dasarnya tidak ada orang tua yang mau merepotkan anaknya, tapi ada kebahagiaan tersendiri bila aku bisa memberikan sesuatu dan menyenangkan mereka dengan penghasilan sendiri. Orang tua juga tidak perlu merasa sungkan atau tidak enak hati kepada suami. Paling-paling mereka hanya mengingatkanku bahwa apapun yang diberikan kepada mereka harus seijin suami.

Menjadi Panutan untuk Anak-Anak

Seperti halnya ibuku yang memberikan contoh langsung kepadaku, maka itu pula yang kuharapkan dari anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Aku dan suami menjelaskan kepada mereka keuntungan istri yang bisa bekerja membantu suami dan punya kemandirian finansial. Tidak harus bekerja di kantor, tapi bisa juga dengan membuat bisnis kecil-kecilan di rumah. 

Meskipun istri penghasilannya sunah, tapi pasti akan sangat bermanfaat bagi keluarga.  Paling tidak bisa ditabung untuk berbagai kebutuhan keluarga dan investasi. Mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga di masa depan, bahkan hal-hal yang mungkin tidak kita inginkan. Rumah tangga yang ditopang dua kaki pastinya lebih kuat dan stabil secara finansial dalam berbagai kondisi.

Mempunyai penghasilan sendiri juga mengajarkan perempuan lebih menghargai uang. Tahu bagaimana proses mendapatkannya yang penuh perjuangan, sehingga lebih berhati-hati saat melakukan pengeluaran. Seperti halnya ibuku yang sangat rapi dan disiplin dalam pengelolaan keuangan, itu juga yang selalu aku lakukan dalam rumah tangga. Berupaya bagaimana bisa menahan diri agar kemandirian finansialku tidak menjadi kebablasan. Rajin menabung untuk masa depan anak-anak dan mengatur pengeluaran hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting. (IkS)

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories: Aku dan Uang
Artikel Selanjutnya
Harapan Seorang Ibu untuk Masa Depan Anak setelah Perceraian