Sukses

Lifestyle

Dikelilingi Banyak Perempuan Kuat, Aku Lebih Tegar Jalani Hidupku

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh:  Dosni Arihta

Menjadi wanita adalah sebuah karunia. Katanya, wanita itu jantungnya keluarga. Aku suka sekali dengan istilah itu. Jantung adalah organ penting yang memompa darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Jika jantung berhenti, maka takkan ada kehidupan. Begitu pula dengan wanita, ia adalah makhluk Tuhan yang istimewa, yang selalu bergerak dan mengalirkan kehangatan kepada seluruh anggota keluarga, bahkan juga sesamanya.

Ketika masih remaja, bagiku wanita dan pria nampak tidak setara. Ayah yang dominan dan ibu yang lebih banyak terdiam membuatku menarik sebuah kesimpulan, pria sepertinya lebih kuat dari wanita. Setelah berkeluarga, penilaianku terhadap wanita mulai terbuka.

Rupanya selama ini, aku menilai wanita lebih rendah sangatlah salah. Bermula ketika aku mengandung anak pertama, mengatasi mual dan muntah adalah sebuah prestasi istimewa. Kemudian, saat hamil yang kedua, sembari mengurus balita dan mengalami mual muntah rupanya tidak ada apa-apanya. Sujud syukur jika kondisi kehamilan baik-baik saja.

Bagaimana jika saat hamil dan melahirkan atau tumbuh kembang anak  justru mengalami banyak kendala? Saat-saat sulit seperti itulah, yang membuat kekuatan seorang wanita semakin terlihat nyata. Ketika aku memutuskan untuk berhenti bekerja karena saat itu kondisi kehamilan cukup berisiko, aku merasa sangat kecewa. Namun, ketika adik iparku yang juga sedang hamil terpaksa harus kehilangan calon bayinya, aku menjadi malu, dan juga terpukul. Bagaimana bisa aku mengeluh? Di saat adikku dapat tetap tegar dan bersyukur di saat kekecewaan dan duka menimpa dirinya.

 

Perubahan Kehidupan

 

Aku bertemu wanita kuat di mana saja. Bahkan semakin banyak terlihat ketika aku berperan menjadi ibu rumah tangga. Aku yang tak mampu mengurus bayi dengan cekatan. Aku menangis dan kelelahan, namun anehnya, hari demi hari, hingga tahun berganti tahun, bayi kecil yang dahulu terus menangis kini bertumbuh menjadi anak yang ceria. Kuakui, bukan aku saja yang merawatnya.

Aku punya tetangga yang begitu peduli, menolongku di kala aku panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku punya ibu yang setiap hari selalu menelponku. Meski hanya menanyakan kabar, yang entah kenapa, rasanya seperti menelan obat penambah semangat setiap kali mendengar suaranya.  

Aku punya sahabat yang bersedia menghabiskan waktu sesekali untuk bercerita dan menuangkan rasa. Aku punya kerabat di beberapa grup WA, yang dengan sigap menukar informasi atau menjual segala rupa, di tengah kesibukan mereka sebagai ibu rumah tangga, pemilik usaha, atau sebagai ibu pekerja. Jatuh bangunku saat belajar menjadi ibu baru, tak sampai membuatku terpuruk dalam lubang kesepian yang cukup lama karena kehadiran mereka.

Bersama dengan mereka, aku pun tergugah untuk menjadi wanita yang berdaya. Apakah aku harus menunggu sampai anak-anakku besar dahulu, barulah aku punya waktu? Pastinya tidak, karena waktu tidak mau menunggu.

 

Saling Menguatkan

Aku yakinkan diriku, tak harus bekerja untuk menjadi berdaya. Meski saat ini aku menjadi ibu rumah tangga, aku tetap bisa membagikan ilmu yang kupunya. Berbagi info di sosial media tidak harus memiliki jabatan  atau pekerjaan bukan? Maka itulah yang kulakukan.

Berbagi tips parenting berdasarkan pengalaman, bukan berarti aku pintar, namun aku tahu rasanya, ketika seorang ibu merasa tak berdaya dan sendirian karena tidak tahu harus berbuat apa, aku ingin menjadi teman tanpa harus berkenalan. Memberi support lewat pesan hangat atau pujian sederhana pada seseorang lainnya, juga menjadi jalan ninjaku. Danaku memang terbatas, namun memberi telinga untuk mendengar tidak akan terbatas, itulah janjiku.

Karena itulah, kali ini aku pun ingin berbagi semangat lewat tulisan. Pastilah kita semua pernah menjadi salah satu wanita yang telah kuceritakan. Aku pernah menerima dukungan dan perhatian dari wanita yang lebih tua. Aku pernah menerima kebaikan dari teman sebaya. Aku pun pernah mendapat pelajaran dari yang lebih muda.

Ibu yang lebih banyak diam menghadapi ayah yang dominan, kini di mataku terlihat sebagai sosok wanita tegar dan berhati lapang. Sahabatku yang sering melakukan hal sederhana tanpa diminta, seperti mengirimkan makanan, hadiah, sharing pengalaman dan saling support dalam hal bisnis maupun pekerjaan, menjadi kekuatan dan jalan agar aku tidak kehilangan jatidiriku karena berperan sebagai istri dan ibu.

Aku yang merasa diriku payah, memarahi anak lalu menyesal, namun memarahinya lagi di keesokan hari, namun tetap dicintai dan tetap terlihat sebagai ibu yang hebat di mata mereka. Butuh waktu untuk menyadari kekuatan tersebut. Kekuatan yang bukan didapat karena aku hebat, pintar dan kuat.

Kekuatan ini boleh ada karena peran dan kehadiran wanita-wanita hebat lainnya. Sosok mereka dalam hidupku, yang tidak sempurna, yang juga sedang berjuang di hidupnya masing-masing, namun telah menjadi garda bagi sesama kami, untuk membuatku dan kita semua menjadi wanita yang berdaya dan tetap berkarya.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Menikah di Usia 38 Tahun, Aku Ingin Membalas Cinta yang Luar Biasa
Artikel Selanjutnya
Pada Hari Kepergian Ayah, Ada Kesedihan dan Kebencian yang Berkecamuk di Dada