Sukses

Lifestyle

Tak Merasakan Kasih Sayang Ayah, Bukan Alasan untuk Terus Membencinya

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: Risti Aprianita

Jika bisa memilih, tidak ada seorang anak yang menginginkan lahir di dalam satu keluarga yang tidak utuh. Pasti semua anak di dunia ingin sekali mempunyai satu keluarga yang utuh, yang bisa memberikan kasih sayang seutuhya, bisa memberikan kehangatan, perlindungan serta keharmonisan. Akan tetapi, setiap anak di dunia ini tentu memiliki nasib yang berbeda-beda. Alangkahnya beruntungnya seorang anak jika ia terlahir ke dunia dengan mempunyai keluarga yang utuh salah satunya yaitu memiliki orangtua yang lengkap.

Bersyukurlah kalian yang memiliki nasib beruntung karena mempunyai keluarga yang utuh seperti memiliki ayah dan ibu. Karena di luar sana banyak sekali anak-anak yang kurang beruntung nasibnya. Ada yang hanya mempunyai ayah saja, ada yang mempunyai ibu saja, lalu ada pula yang tidak mempunyai ayah/ibu.

Untuk itu, di sini saya akan sedikit menceritakan kisah hidup saya, yang bisa dibilang menjadi salah satu anak yang nasibnya kurang beruntung. Namun, bukan berarti saya tidak mensyukuri apa-apa yang saya miliki. Yuk simak ceritanya di bawah ini ya, ambil sisi positifnya ya dan buang sisi negatifnya.

Sosok Ayah yang Kuingat

Hai! Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, saya memiliki satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Sejak kecil saya tinggal bersama ibu, kakak, adik, kakek dan nenek saya. Sejak kecil hubungan rumah tangga ayah dan ibu saya kurang baik.

Bahkan pada saat saya baru duduk di kelas satu SD saya pernah melihat ibu dan ayah saya bertengkar hebat di depan mata saya, hal itu jujur tidak bisa saya lupakan, bahkan selalu teringat dan menjadi trauma didalam hidup saya. Saya yang sangat itu masih kecil, masih butuh kasihsayang, perhatian, dari ayah dan ibu, justru harus menyaksikan pertengkaran yang seharusnya tidak dilihat oleh anak seusiaku. Tidak hanya itu, bisa dibilang waktuku hanya sebentar dengan ayahku.

Sejak duduk di bangku SD, aku tidak punya waktu banyak dengan ayahku. Karena pada saat itu, ayahku jarang pulang kerumah. Pernah beberapa saat, ayahku ada di rumah, tapi kasih sayangnya tidak pernah kudapatkan.

Ayah saat pagi berangkat kerja, pulang kerja langsung makan, sholat, main HP, dan tidur. Bisa dibilang tidak ada waktu sedikit yang diluangkan untuk bermain denganku. Paling ayahku memanggilku pada saat beliau ingin menyuruh aku, untuk membelikan rokok di warung, selain itu, aku tidak pernah merasakan. Dipeluk dan cium pun tidak pernah. Padahal di usiaku yang masih kecil, aku sangat membutuhkan sosok ayah sebagai pelindung di dalam hidupku.

Seiring berjalannya waktu, ayah bener-bener jarang pulang kerumah. Kadang pulang cuma tiga bulan sekali, enam bulan sekali, bahkan bisa sampai setahun sekali. Masa kecilku kuhabiskan dengan penuh air mata dan kerinduan. Rindu akan kasih sayang dari seorang ayah. Melihat teman-teman seusiaku yang diantar ke sekolah oleh ayahnya, bermain dengan ayahnya, foto bareng, makan bareng sholat bareng, jalan-jalan bareng, dan bisa deket banget sama ayahnya jujur melihat hal itu membuat hati kecilku merasa iri.

Ada beberapa momen indah yang sudah kulewati tanpa adanya sosok ayah didalam hidupku. Mulai dari momen ulang tahunku, ayahku tidak pernah ada saat momen ulangtahunku, bahkan mengucapkan ulang tahun kepadaku tidak. Mungkin bisa dibilang beliau tidak mengingat hari lahirku.

Selain itu, momen-momen seperti lebaran kurayakan tanpa adanya sosok ayah di hidupku Teman-temanku selalu bertanya, ”Ayah kamu ke mana? Kok tidak ada, padahal ini kan lebaran masa iya ayah kamu kerja lama, pas lebaran tidak pulang ke rumah?” Pertanyaan dari teman-temanku yang selalu membuat hatiku teriris-iris karena banyak momen yang ku lalui pada saat itu tanpa ada ayahdisampingku termasuk moment pada saat lebaran ini.

Walau begitu, aku tetap bersyukur karena aku memiliki keluarga yang sangat menyayangiku dengan setulus hati. Bahkan, pada saat itu ada kakekku yang menggantikan sosok figur ayah didalam hidupku. Kakekku yang mengatar jemputku ke sekolah, nyuapin aku makan, main bareng aku, ngbrol-ngbrol, jalan-jalan, bahkan semua kebutuhkanku dicukupi oleh kakekku. Bagiku kakekku adalah sosok yang luar biasa. Sejak ayahku tidak pernah pulang lagi ke rumah, kakekku telah banyak memberikan kasih sayang dan perlingungan untukku. Bahkan sampai aku SMP, SMA, hingga kuliah.

Singkat cerita, saat aku mau memasuki bangku kuliah, tepatnya pada saat lapor diri ke kampus. Kakek dan mamakulah yang mengantarkanku ke kampus. Bayangkan saja, yang lain pada dianter oleh ayah dan ibu, aku sendiri diantar oleh ibu dan kakekku. Bahkan pada saat sesi wawancara kakekku yang paling banyak menjawab pertanyaannya. Berkat kakekku, aku bisa dapat beasiswa di kampus.

Seiring berjalannya waktu, dan semakin bertambah usia di hidupku, kakekku meminta aku untuk segera menikah. Kakekku bilang, ”Kakek pengen banget melihat kamu jadi pengantin, sebelum kakek meninggal dunia.” Mendengar perkataannya aku pun sangat sedih, karena aku juga pengen bisa bikin kakek bahagua, tapi pada saat itu calonku belum siap untuk menikahi aku karena tabungan untuk menikah belum mencukupi.

Setiap hari aku selalu ditanya soal tentang, “Kapan menikah?” oleh kakekku, akhirnya pada saat tahun 2019 aku menjawab pertanyaan itu, aku bilang kalau aku akan menikah tahun depan tahun 2020, dan kakeku bilan, ”Apa aku bisa ya nyaksiin pernikahan itu,” dari perkataan kakek seolah-olah kakek tidak bisa hadir diacara pernikahanku nanti.

Akhirnya, pada bulan september tahun 2019, kakek menghembuskan napas terakhirnya. Kakek pergi meninggalkanku untuk selamanya. Hancur sudah semua impianku, sakit rasanya, sesak rasanya. Kehilangan sosok kakek yang selama bisa menjadi sosok ayahdidalam hidupku.

Apa jadinya aku nanti, jujur aku belum siap. Belum siap menerima kenyataan ini. Nanti disetiap aku butuh kasihsayang dari seorang ayahaku harus gimana? Aku harus lari kemana? Selama ini aku hanya merasakan sosok seorang ayah hanya dari kakek. Meskipun aku sudah dewasa, tapi aku masih menjadi putri kecil yang merindukan sosok ayah di dalam hidupnya.

Aku berusaha melewati waktu terberat itu dengan tegar dan keikhlasan. Mungkin ini menjadi patah hati kedua kalinya didalam hidupku. Patah hati pertama, karena ayah pergi entah kemana tidak pulang kerumah sehingga membuatku kehilangan kasih sayang langsung dari ayahku. Patah hati ke duaku, aku kehilangan kakek yang sudah menjadi figur ayah didalam hidupku untuk selama-lamanya. Meskipun begitu, aku berusaha terus untuk bangkit dan lebih semangat lagi dalam menjalani hidupku.

Setelah aku melewati beberapa hal terberat didalam hidupku, tibalah pada saat aku akan dipersunting oleh calon pendamping hidupku. Karena aku anak perempuan, pasti akan membutuhkan ayahku untuk menjadi wali nikah diacara pernikahanku nanti dan biar bagaimana pun ayahku harus tau kalau aku akan djpersunting oleh calon pendamping hidupku.

Aku pun mulai mencari tahu keberadaan ayahku. Aku bertanya kepada bos lama ayahku, katanya ayahku sudah pensiun kerja, dan memilih untuk menghabiskan usia tuanya di kampung halaman. Karena aku tidak tahu alamat lengkap kampung halaman ayahku, akhirnya aku berinisiatif mencari tahu nomor handphone ayahku dari anak-anak ayahku yang di kampung halaman. Jadi, ayahku juga punya istri lain selain mamaku dan anak-anak lain selain diriku di kampung halaman. Aku pun berinisiatf mencari nomor ponsel ayahku ke media sosial fb dari anak-anak dari ayahku yang di kampung.

Alhamdulillah, atas izin Allah dalam waktu singkat aku mendapatkan nomor ponsel ayahku. Dan aku langsung menghubungi ayahku melalui telepon. Aku pun menceritakan bahwasanya sebentar lagi aku akan dipersunting oleh calon pendamping hidupku.

Tetap Mencintai Ayah Apa Adanya

Dalam waktu dekat aku dan dia akan melaksanakan prosesi lamaran. Saat ditelepon ayahku bahagia mendengar kabar itu, namun sayangnya ayahku tidak bisa hadir di acara lamaranku nanti karena kondisi kesehatannya kurang baik, tapi ayahku berjanji akan datang dan menjadi wali di acara pernikahanku nanti.

Selain itu, ayahku bertanya-tanya dengan detail tentang siapa calonku, asal usulnya dari mana, pokoknya nanya sampai ke akar-akarnya. Dari sini aku bisa menilai, bahwa ayah begitu menyayangiku sampai ayah bertanya detail soal calonku ini.

Selanjutnya, tibalah saat momen yang ditunggu-tunggu. Momen sakral di dalam hidupku, momen sekali dalam seumur hidupku yaitu hari pernikahanku. Dan alhamdulillah ayahku beneran hadir.

MasyaAllah aku tidak bisa berkata-kata apalagi pada saat itu aku sangat bahagia. Bahkan ayahku langsung yang menikahkanku dengan calon pendamping hidupku. Seketika momen kekecewaan, kesedihan tentang ayahku, yang pernah terjadi hilang begitu saja, seakan-akan semua terbayarkan dengan hadirnya ayah di acara pernikahanku dan saat itu juga aku resmi mempunyai suami. Walaupun kakekku tidak ada, aku yakin kakekku bisa melihat acara pernikahanku dari sana, pasti kakekku sedang tersenyum lebar disana.

Waktuku memang sedikit bersama ayahku, tapi Allah hadirkan sosok kakek di hidupku sebagai sosok ayah di dalam hidupku. Saat aku kehilangan kakekku untuk selamanya ayahku hadir di acara pernikahanku sebagai pengobat kesedihanku karena telah kehilangan kakekku.

Ayahku telah berhasil menikahkanku dengan suamiku. Tugas dari ayahku kini sudah selesai, sekarang Allah hadirkan sosok suamiku yang akan menjadi sosok pendamping hidup sekaligus sosok ayah dari anak-anakku nanti.

Kisahku tentang ayahbelum berakhir, baru akan dimulai lagi dengan lembaran yang baru bersama suamiku yang kelak akan menjadi sosok ayah untuk anak-anakku nanti. Dan sebenernya cerita kisahku dengan ayah dan kakekku sangat panjang sekali, mungkin jika diceritakan semuanya bisa jadi seperti novel. Sebelum aku mengakhiri, aku ingin memetik hal-hal positif yang bisa diambil hikmahnya yaitu sebagai berikut:

1. Tidak ada seorang anak yang membenci ayahnya sekalipun di masa lalu ia telah dibuat kecewa olehnya.

2. Setiap anak bukan hanya membutuhkan figur ibunya saja, setiap anak membutuhkan figur ayah dan ibunya.

3. Percayalah bagaimanapun sikap ayahmu, tidak ada seorang ayah yang tidak sayang anaknya. Semua ayah itu sayang kepada anaknya. Bahkan setiap ayah tidak ingin anaknya jatuh ke laki-laki yang tidak baik.

4. Setiap anak memiliki nasib yang berbeda, setiap anak memiliki titik rendah yang berbeda. Jadi, jangan bandingkan nasibmu dengan nasib orang lain.

5. Setiap kita kehilangan, pasti Allah akan ganti dengan yang lebih lagi.

6. Sosok ayahitu bukan cuma ayahmu saja, tapi kakekmu, suamimu, dan orang-orang yang bisa berberpan sebagai sosok ayahdidalam hidupmu.

Selamat Hari Ayah untuk semua ayah yang ada didunia ini, semoga selalu sehat dan panjang umur. Ingat, tidak ada ayah yang tidak sayang dengan anaknya. Bagimanapun sikap/kondisi ayahmu, seburuk-buruknya ayahmu beliau akan tetap ayahmu.

Darah dagingnya mengalir ditubuhmu jadi, hormatilah ayahmu, sayangi ayahmu, cintai ayahmu tanpa ayahmu, kamu tidak akan ada di dunia ini. Untuk yang masih memiliki ayah, maka jangan sia-siakan waktumu dengan ayahmu.

Untuk yang ayahnya sudah meninggal atau ayahnya pergi meninggalkanmu tanpa kabar, jangan berkecil hati ya. Mentari akan terus bersinar, raihlah sinar mentari itu, berdamailah dengan keadaan, insyaAllah seiring berjalannya waktu kamu akan terbiasa, dan kamu akan bahagia dengan caramu sendiri.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Menikah di Usia 38 Tahun, Aku Ingin Membalas Cinta yang Luar Biasa
Artikel Selanjutnya
Pada Hari Kepergian Ayah, Ada Kesedihan dan Kebencian yang Berkecamuk di Dada